Zakat

YBSMU Luncurkan Program 10Ribu untuk Sejuta Kebaikan

Jakarta, 21 Oktober 2021. Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (YBSMU) yang merupakan mitra strategis PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) meluncurkan program 10ribu untuk Sejuta Kebaikan pada kuartal 4 2021. Dengan program unggulan ini, masyarakat dapat berdonasi dengan 10 ribu rupiah atau lebih untuk dapat ikut berperan dalam membantu masyarakat yang membutuhkan melalui aplikasi BSI Mobile, bsmu.or.id, dan jadiberkah.id.  

Direktur Marketing & Communication Yayasan BSMU, Risyad Iskandar berharap program 10ribu untuk Sejuta Kebaikan ini bisa memaksimalkan penghimpunan zakat infaq dan wakaf di Yayasan BSMU. “Program ini sekaligus menjadi sarana literasi dan edukasi masyarakat terkait pentingnya ZISWAF,” kata Risyad , Kamis (21/10).

Delapan program unggulan ini diantaranya Zakat Orang Tua Asuh, Infak Peduli Masjid, Infaq Beras untuk Santri, infaq Bantuan COVID-19; Infaq Kemanusiaan; Wakaf Uang Produktif, Wakaf Ambulance, dan Wakaf Pembangunan Masjid.

Sampai September 2021, realisasi penyaluran zakat, infaq dan dana sosial Yayasan BSMU sebesar Rp48 miliar.

Untuk program Zakat, Yayasan BSMU mempunyai campaign Orang Tua Asuh. Zakat yang terkumpul akan digunakan untuk membantu biaya pendidikan dan pembinaan bagi bagi siswa-siswi binaan melalui program Sahabat Pelajar Indonesia (SPI).

Selain itu dana zakat yang terkumpul akan digunakan untuk membina dan melatih mahasiswa menjadi wirausahawan muda yang memiliki kepedulian sosial melalui  Islamic  Sociopreneur Development  Program (ISDP). Saat ini jumlah penerima manfaat program ISDP adalah sebanyak 130 mahasiswa dari 7 kampus di Indonesia.

Sedangkan untuk Infak total ada empat campaign yaitu Peduli Masjid, Beras untuk Santri, Bantuan COVID-19 dan Infaq Kemanusiaan.  Infaq Peduli Masjid akan digunakan selain pembangunan masjid juga untuk pemeliharaan dan penyediaan fasilitas masjid.  Infaq Peduli Masjid akan digunakan untuk pembangunan, renovasi, dan fasilitas masjid atau musholla yang ada di seluruh Indonesia.

Untuk Infaq Beras untuk Santri, akan digunakan untuk menyediakan beras berkualitas kepada penghafal atau Tahfidz Al Quran di Rumah Tahfidz Quran di Parung Bogor, Cimahi dan  rumah belajar Al Quran di Tangerang. Beras ini berasal dari para petani binaan Desa Berdaya Sejahtera Indonesia (Desa BSI) yang berada di Lampung Tengah.

Ada juga Infaq Bantuan COVID-19 yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi. Bantuan yang diberikan akan digunakan dalam kegiatan penanganan COVID-19 diantaranya pengadaan alat kesehatan, pembuatan sentra vaksinasi untuk masyarakat umum dan bantuan sembako bagi dhuafa yang terdampak.

Untuk Infaq Kemanusiaan akan digunakan untuk pengadaan bantuan medis dan pangan yang menjadi kebutuhan primer para penyintas bencana. Bantuan medis dan pangan menjadi kebutuhan primer para penyintas bencana.

Terkait program Wakaf ada Wakaf Uang Produktif, Wakaf Ambulance, dan Wakaf Pembangunan Masjid. Wakaf Uang Produktif akan digunakan untuk pengoptimalan  perekonomian desa melalui Pertanian Kopi dan Desa Berdaya Sejahtera Indonesia (Desa BSI) yang  ada di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Wakaf Ambulance digunakan untuk pengadaan ambulance dan ditujukan untuk bantuan kebencanaan, layanan kesehatan, dan pelayanan pemulasaraan jenazah bagi masyarakat umum. Sedangkan Wakaf Pembangunan Masjid, digunakan untuk mensukseskan pembangunan masjid-masjid yang juga berkolaborasi dengan BSI.

 

Lewat SPI, Laznas BSMU Bantu Yusnavitha Kuliah di Kampus Impian

Yusnavitha Rachmadani sebelumnya tidak sempat berpikir untuk melanjutkan kuliah semenjak ditinggal oleh sang ayah. Jangankan kuliah, untuk terus bersekolah saja Yusnavitha harus berjuang sekuat tenaga.

Meskipun hidup penuh kekurangan, sejak awal Yusnavitha selalu diajarkan untuk tidak mudah menyerah. Yusnavitha sejak kelas 10 SMA, mempunyai cita cita untuk masuk ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Meteorologi, Departemen Geofisika & Meteorologi (GM), Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral.

Untuk mewujudkan cita-cita ini, Yusnavitha mengumpulkan uang dengan mengajar Iqro. Dengan mengajar Iqro dirinya bisa meneruskan pendidikannya di kelas X SMAN 2 Tanjungpinang.

Kekurangan finansial tidak menghalangi Yusnavitha untuk berprestasi. Buktinya ketika mengikuti Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kota (OSN-K) di bidang Kebumian, Yusnavitha berhasil meraih juara kedua.

Ikhtiar memang tidak pernah mengkhianati hasil. Kegigihan Yusnavitha untuk mengejar cita-cita disambut oleh Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (Laznas BSMU) melalui Program Sahabat Pelajar Indonesia (SPI).

Melalui program ini, Laznas BSMU memberikan program bantuan biaya pendidikan dan pembinaan bagi siswa dan siswi binaan dari keluarga kurang mampu yang bertujuan untuk membentuk karakter-karakter positif.

Uang yang didapatkan dapatkan dari SPI, Yusnavitha gunakan seefektif mungkin, seperti  untuk membantu Ibu dan mempersiapkan diri masuk ke kampus impian. Dari uang itu bisa terbeli buku persiapan UTBK.

Selain itu, Yusnavitha juga mendapatkan pengajaran dan pembinaan dari Nurul Fikri secara gratis yang bekerja sama dengan SPI sehingga bisa aku gunakan layaknya les online seperti yang lainnya. Serta NF juga menyediakan Tryout yang bisa mengukur kemampuan.

“SPI, melaluimu aku bersemangat meraih impianku. Selain itu, ketika aku mulai putus asa dan ingin menyerah, SPI selalu hadir lewat webinar yang kembali membakar semangat. SPI juga membimbing kami melalui mentoring agar tak pernah lupa melibatkan Allah dalam setiap urusan,” tutur Yusnavitha.

BACA: Cara Mendesain Masa Depan Sesuai Keinginan

Yusnavitha mengucapkan terima kasih kepada SPI, dan Laznas BSMU serta seluruh donatur yang telah membantu, baik dalam hal finansial, spiritual, dan persiapan dalam meraih perguruan tinggi. Saat ini Yusnavitha merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB).

Yusnavitha percaya bahwa semua orang punya hak yang sama untuk menempuh pendidikan. Yusnavitha juga yakin ITB adalah tempat yang tepat untuk berproses dan mengembangkan potensi diri agar dapat berkontribusi untuk negeri. 

Masih banyak anak berprestasi yang membutuhkan bantuan untuk mewujudkan cit-cita. Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat memiliki program Orang Tua Asuh yang bertujuan untuk membantu pelajar yang tidak mampu untuk membiayai sekolah. Program ini akan diselenggarakan seluruh Indonesia. Dana zakat yang dikeluarkan manfaatnya akan  terus berkembang dengan membantu pendidikan anak-anak yang kurang mampu.

Simak Peristiwa Penting Yang Terjadi Bulan Rabiul Awal

Bulan Rabi’ul Awal disebut juga dengan bulan Maulid karena bertepatan dengan kelahiran nabi besar Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.  Makna ar-Rabi’ mempunyai arti musim dimana tumbuhan mulai menghijau, memunculkan bunga atau musim semi.

Ada sejumlah peristiwa penting yang pernah terjadi pada bulan Rabiul Awal, diantaranya:

  1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW dilahirkan di bulan Rabiul Awal. Tanggal kelahiran Rasulullah SAW ada banyak versi. Ada yang menyebut bahwa Rasulullah SAW lahir pada tanggal 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal dan 17 Rabiul Awal. Namun menurut hadits riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas, Rasulullah dilahirkan pada malam yang tenang :

“Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal 12 di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awal, Tahun Gajah.” (Imam Ibnu Hisyam, juz 1 hlm 183)

  1. Wafatnya Rasulullah SAW

Peristiwa penting yang kedua adalah bulan Rabiul Awal merupakan bulan wafatnya Rasulullah SAW. Para ulama sejarah bersepakat bahwa Rasulullah SAW wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, tahun 11 Hijriah 8 Juni 632 M.

  1. Hijrahnya Kaum Muslimin

Di bulan Rabiul Awal ini peristiwa penting lainnya adalah hijrah pertama kaum muslimin ke Abisinia atau Habasyah. Rasulullah juga melaksanakan hijrah pada bulan ini.

  1. Rasulullah SAW membangun Masjid Quba

Dalam hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ke Madinah, namun ketika sedang perjalanan dan belum sampai ke Madinah, Rasulullah sempat singgah di daerah Quba, pada hari Senin 12 Rabiul Awal.

Di Quba, Rasulullah SAW tinggal di rumah keluarga Amr bin Auf selama empat hari. Dan di sanalah Rasulullah SAW membangun masjid pertama yaitu masjid Quba.

  1. Menunaikan salat Jumat pertama kali

Setelah empat hari singgah di rumah Amr bin Auf, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Ditengah perjalanan Rasulullah SAW mendapatkan wahyu untuk mengerjakan sholat Jumat.

Maka, Rasulullah SAW melakukan salat jumat bersama para sahabat, lalu berkhutbah. Dan inilah salat jumat pertama kalinya dimulai.

Setelah mengetahui banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rabiul Awal, kita juga bisa mengisinya bulan agung ini dengan mengalirkan sejuta kebaikan. Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) memiliki berbagai program untuk berbagi kebaikan. Mulai dari Orangtua Asuh, wakaf Uang, Wakaf ambulance, Wakaf Masjid Bakauheni, Beras Untuk Santri, Bantuan Covid-19, Peduli Masjid dan Infaq Kemanusiaan.

 

Mudahnya Pembayaran Zakat Secara Online Melalui Laznas BSMU

Zakat memberikan peranan yang penting dalam perekonomian umat islam. Dalam islam orang yang memiliki kelebihan harta diwajibkan untuk memberikan sebagian hartanya kepada yang membutuhkan.

Oleh karena itu zakat memiliki peran mensucikan harta yang dimiliki sekaligus bukti ketaqwaan terhadap Allah SWT. Banyak kisah yang menggambarkan tentang keberkahan dalam berzakat. Semakin banyak orang yang berzakat semakin banyak pula orang yang dapat terbantu.

Pandemi menuntut seluruh sektor kehidupan untuk berinovasi, termasuk dalam hal membayar zakat. Lembaga zakat harus mampu mempermudah para mustahik untuk menunaikan kewajibannya. Bekerjasama dengan marketplace dan dompet digital dapat mempermudah para muzakki untuk membayar zakat.

Laznas bangun Sejahtera Mitra Umat juga turut berkonsentrasi untuk memberikan kenyamanan para muzakki dalam membayar zakat dengan terus mengembangkan website www.bsmu.or.id untuk melayani para muzakki. Di dalam website tersebut, selain bisa untuk membayar zakat secara online juga terdapat kalkulator zakat untuk menghitung zakat yang perlu dibayarkan.

Para pengunjung website www.bsmu.or.id juga diberikan informasi dan berita mengenai penyaluran dana Zakat, Infak yang telah dilakukan.  Dengan berbagai kemudahan yang diberikan, diharapkan para muzakki akan mudah dalam membayar zakat.

Adapun langkah-langkah untuk membayar zakat melalui www.bsmu.or.id adalah:

1.Klik tombol donasi yang ada di halaman utama website

2.Pilih Kalkulator zakat untuk menghitung zakat yang akan dikeluarkan. Kalkulator Zakat ini merujuk pada Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif. Kemudian anda akan diarahkan ke halaman tunaikan zakat untuk membayar zakat yang telah dihitung dengan klik donasi

3.Isi data diri sesuai dengan yang dibutuhkan, walaupun demikian anda bisa mensetting dengan anonymous.

4.Selesaikan pembayaran zakat dengan klik buat pesanan kemudian anda akan diarahkan menuju halaman pilih metode pembayaran, kemudian pilih metode pembayaran dan selesaikan pembayaran dengan mentransfer zakat anda.

Mudah bukan, kemudahan ini diberikan agar para muzakki yang sibuk dengan pekerjaanya tetap bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Bayar zakat melalui online seyogyanya sama dengan membayar langsung, karena muzakki akan tetap mendapatkan kuitansi. Selain itu keuntungannya adalah mencegah kerumunan dan mengurangi tatap muka.

Zakat Sebagai Pengurang Pajak di SPT Tahunan (Bagian Pertama)

Zakat dan Pajak merupakan sama sama kewajiban bagi seorang muslim. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang memiliki kelebihan harta. Sedangkan pajak merupakan kontribusi wajib pribadi atau badan usaha kepada negara yang bertujuan untuk pembangunan.

Apakah anda sudah mengetahui, pembayaran zakat saat ini dapat digunakan untuk pengurang pajak di SPT Tahunan? Saat melakukan pelaporan SPT Tahunan umat muslim dapat menggunakan kwitansi pembayar pajak untuk mengurangi neto dari penghasilan yang wajib pajak. Dilansir dari online-pajak.com dijelaskan bagaimana dasar hukum dan pengurangannya? Mari membahasnya lebih lanjut di artikel ini.

Baca juga : Manfaat Zakat untuk Umat

Dasar Penetapan Zakat Pengurang Pajak

Tercantum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada pasal 22 dan Pasal 23 ayat 1-2.

  • Pasal 22: Zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada BAZNAS atau LAZ dikurangkan dari penghasilan kena pajak.
  • Pasal 23: Baznas atau LAZ wajib memberikan bukti setoran zakat kepada setiap muzaki (pemberi zakat), dan bukti tersebut digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Tujuan aturan ini agar wajib pajak yang beragama Islam tidak terkena beban ganda. Selain itu, aturan ini juga mendorong kepedulian terhadap sesama serta meningkatkan taat beragama.

Lalu pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan, pasal 4 ayat (3) huruf a 1 tercantum:

“Yang dikecualikan dari objek pajak adalah bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.”

Baca juga : Peresmian Desa Berdaya Sejahtera Mandiri Candi Binangun Yogyakarta

Kemudian pada pasal 9 ayat (1) huruf G, berbunyi:

“Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan dengan harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf 1 sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.”

Peraturan lainnya yang membahas tentang hal ini adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2010 Tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. 

Baca juga : Kisah Inspiratif Cipto Peternak Kambing Kejobong Purbalingga

Dimasa ekonomi yang sulit seperti sekarang, hal ini membuat hidup menjadi lebih mudah karena kita sebagai umat islam bisa melaksanakan kewajiban sekaligus dapat mengurangi pajak. Jadi jangan ragu untuk membayar zakat, dengan membayar zakat akan banyak kebermanfaatan yang akan diperoleh untuk hartanya.

Membayar zakat sangat disarankan dapat melalui lembaga zakat karena kebermanfaatannya dapat dirasakan lebih luas. Sehingga fungsi zakat untuk membantu perekonomian umat yang lemah menjadi sangat mungkin terjadi. Secara tidak

Simak, Ini Keutamaan Sedekah Menurut Al-Quran dan Hadist

Sedekah adalah amal yang bisa dilakukan oleh siapa saja, miskin ataupun kaya. Sedekah bisa berbentuk apa saja baik perbuatan maupun dalam bentuk harta. Jika sedekah yang berbentuk harta sering disebut dengan infaq.

Sedekah ada 3 macam yaitu sedekah sunnah, sedekah wajib atau yang biasa disebut zakat dan sedekah yang utama atau wakaf. Dalam beramal Allah akan melihat dari niat bukan dari jumlahnya. Hal ini sesuai dengan Quran surat Al Talaq ayat 7.

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”

Baca : Cara Bersedekah Yang Baik

Dilansir dari berbagai sumber disebutkan ada 3 jenis sedekah yang paling utama.

  1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah sedekah yang diniatkan untuk kebaikan. Sedekah ini memiliki dampak tidak hanya didunia saja namun juga sampai ke akhirat. Sedekah jariyah lebih dikenal dengan wakaf. Misalnya sedekah dalam pembangunan masjid, saluran air, dan sebagainya.

Seperti yang tertulis dalam Hadist Riwayat Muslim, “Rasulullah bersabda, Jika seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak (sholeh) yang mendoakan orangtuanya.”

  1. Sedekah yang Sembunyi-sembunyi

Dalam bersedekah, kita dianjurkan untuk tidak pamer (riya), untuk menjaga kerahasiaannya bahkan dianjurkan agar tangan yang memberi tidak diketahui oleh tangan yang lain.

Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 262 Allah berfirman, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudia mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan (si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Allah.”

Selain itu, Allah juga menegaskan firman-Nya dalam Al-Baqarah Ayat 264 bagi orang yang memamerkan amalan sedekahnya. Allah berfirman, ” Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan (si penerima).”

Baca juga : Perbedaan Zakat dan Sedekah

  1. Sedekah Kepada Kerabat

Sanak kerabat memiliki hak terhadap harta yang kita miliki, sehingga bersedekah kepada mereka juga merupakan sebuah keutamaan. Namun, jika ada orang sholeh yang juga membutuhkan bantuan layak untuk dibantu karena harta kita bisa menjadi lebih berkah bila di tangannya.

Seperti yang tertulis dalam Hadist Riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah dan kepada kerabat ada dua (kebaikan), sedekah, dan silaturrahim.

Masyarakat kita masih lebih banyak bersedekah dengan orang yang terdekat, tidak mengumpulkan melalui lembaga zakat yang terpercaya. Hal ini tentu baik saja,  tetapi lebih menjadi berkah harta jika dikumpulkan karena sedekah yang dikumpulkan bisa menjadi banyak sehingga kebermanfaatannya bisa lebih terasa. Sedekah yang diberikan tidak hanya habis dalam sekali makan, tapi manfaatnya bertubi-tubi yang akan dirasakan oleh masyarakat.

Jangan Sampai Keliru, ini 8 Golongan Penerima Zakat

Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang hartanya sudah mencapai haul. Bagi muslim yang memang tidak mampu membayar, maka gugur kewajibannya untuk membayar zakat. Bagi yang tidak mempu membayar zakat, maka muslim tersebut berhak menerima zakat.

Lantas siapa saja golongan yang berhak menerima zakat? Golongan yang berhak menerima zakat disebut mustahik. Mustahik adalah golongan muslim yang tidak wajib membayar zakat, tapi mereka malah berhak menerima zakat. Ada delapan golongan yang berhak menerima zakat. Berikut adalah delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Allah telah mengatur siapa saja yang menerima dalam Al-Qur’an:

 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, yang dibujuk hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah:60).

Dari ayat tersebut, maka berikut adalah delapan golongan yang berhak menerima zakat.

1. Fakir

Pertama ada golongan fakir. Golongan ini adalah yang diutamakan dalam penerimaan zakat. Fakir adalah orang yang memang tidak memiliki harta, usaha, dan tenaga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam mazhab Syafi’i, fakir bisa saja adalah orang yang sebenarnya memiliki usaha, tapi penghasilannya kurang dari setengah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Miskin

Yang disebut sebagai miskin adalah yang tidak cukup penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan dalam keadaan serba kekurangan.

Pada pandangan mazhab Syafi’i, orang miskin adalah orang yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya setengah yang dibutuhkan, tapi masih belum mencukupi.

3. Riqab

Riqab atau hamba sahaya adalah budak. Ya, di zaman Nabi dahulu memang banyak sekali orang yang dijadikan budak. Pada awal perkembangan Islam, zakat juga digunakan untuk memerdekakan para budak atau hamba sahaya dari majikannya. Budak yang sudah merdeka, maka mereka bisa hidup bebas.

Mungkin praktik perbudakan saat ini memang sudah tidak ada lagi. Tapi istilah ini bisa juga diartikan upaya untuk melepaskan para muslim yang sedang ditawan oleh pihak lain.

4. Gharim

Kemudian ada golongan gahrim yang merupakan golongan orang yang berhak juga dalam menerima zakat. Gahrim adalah orang yang memiliki banyak utang. Apakah semua orang yang memiliki utang berhak menerima zakat? Nah, Gahrim di sini ada dua jenis, yaitu:

Ghârim limaslahati nafsihi, adalah orang yang berhutang demi kemaslahatan dirinya dan keluarganya. Ghârim li ishlâhi dzatil bain, adalah orang yang berhutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa.

Nah, Gahrim berhak mendapatkan zakat jika memang utang itu memang dibenarkan oleh syariat Islam, dan tidak untuk melakukan kegiatan kemaksiatan. Jika orang yang berhutang, tapi dia masih mampu melunasi utang tersebut dengan hartanya, maka dia tidak berhak mendapatkan zakat.

5. Mualaf

Mualaf adalah orang yang baru dilunakkan hatinya, sehingga masuk atau memeluk agam Islam. Mualaf pun memiliki hak untuk mendapatkan zakat. Pemberian zakat kepada mualaf memiliki tujuan untuk mendukung penguatan iman dan takwa para mualaf dalam memeluk agama Islam.

Zakat untuk para mualaf pun memiliki peran sosial untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.

6. Fisabilillah

Golongan selanjutnya yang berhak untuk mendapatkan zakat adalah golongan Fisabilillah. Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT.

Pada zaman sekarang ini Fisabilillah bukan sekadar orang yang berperang secara fisik di jalan Allah SWT. Tetapi mereka yang menjalankan kebijakan untuk kemaslahatan umat, seperti berdakwah menyiarkan agama Islam, atau untuk kegiatan sosial lainnya seperti untuk pendidikan, dan kesehatan maka mereka itulah yang disebut fisabilillah.

7. Ibnu Sabil

Golongan ke tujuh yang berhak menerima zakat adalah para ibnu sabil. Ibnu sabil adalah orang yang dalam perjalanan tapi di perjalanan tersebut dia kehabisan bekal untuk meneruskan perjalanannya. Sehingga, dia tidak mampu meneruskan perjalanannya.

Ya, mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanan sehingga tidak dapat meneruskan perjalanannya, maka mereka berhak menerima zakat. Tapi dengan catatan perjalanan bukan dikarenakan untuk melakukan perbuatan maksiat.

8. Amil

Golongan terakhir yang berhak menerima zakat adalah amil. Amil adalah orang yang bertugas dalam mengumpulkan dan membagikan zakat. Ya, setiap pelaksanaan zakat, maka ada petugas atau panitia yang mengurus proses terselenggaranya zakat. Mereka para amil mengumpulkan dan membahagiakan zakat dari setiap muslim.

Nah, amil ini pun termasuk orang yang berhak menerima zakat. Ini sebagai tanda jasa bagi para amil yang telah membantu terselenggaranya zakat. Amil memang berhak menerima zakat, tapi dengan catatan bahwa ke tujuh golongan penerima zakat di atas sudah menerima zakat.

Misal, di suatu wilayah semua ke tujuan golongan penerima zakat sudah menerima hak mereka, tapi masih ada sisa zakat, maka amil berhak menerimanya.

Itulah delapan golongan yang berhak menerima zakat. Bagi Anda yang memang sudah wajib zakat, maka segeralah menunaikan kewajiban Anda tersebut. Jangan sampai Anda malah memakan hak orang lain. Sebab, dalam harta kita ada hak milik orang lain.

Bayar zakat bisa langsung ditunaikan kepada yang membutuhkan. Tapi terkadang bagi sebagai orang mungkin akan kesulitan jika harus memberikan langsung kepada golongan yang berhak menerima zakat. Keberadaan lembaga amil zakat dapat mempermudah para muzakki untuk menyalurkan dana-dana ZISWAF. Dana yang dikumpulkan melalui lembaga akan dapat memaksimal pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat yang kirang mampu.

Jangan Sampai Keliru, ini 8 Golongan Penerima Zakat

Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang hartanya sudah mencapai haul. Bagi muslim yang memang tidak mampu membayar, maka gugur kewajibannya untuk membayar zakat. Bagi yang tidak mempu membayar zakat, maka muslim tersebut berhak menerima zakat.

Lantas siapa saja golongan yang berhak menerima zakat? Golongan yang berhak menerima zakat disebut mustahik. Mustahik adalah golongan muslim yang tidak wajib membayar zakat, tapi mereka malah berhak menerima zakat. Ada delapan golongan yang berhak menerima zakat. Berikut adalah delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Allah telah mengatur siapa saja yang menerima dalam Al-Qur’an:

 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, yang dibujuk hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah:60).

Dari ayat tersebut, maka berikut adalah delapan golongan yang berhak menerima zakat.

1. Fakir

Pertama ada golongan fakir. Golongan ini adalah yang diutamakan dalam penerimaan zakat. Fakir adalah orang yang memang tidak memiliki harta, usaha, dan tenaga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam mazhab Syafi’i, fakir bisa saja adalah orang yang sebenarnya memiliki usaha, tapi penghasilannya kurang dari setengah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Miskin

Yang disebut sebagai miskin adalah yang tidak cukup penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan dalam keadaan serba kekurangan.

Pada pandangan mazhab Syafi’i, orang miskin adalah orang yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya setengah yang dibutuhkan, tapi masih belum mencukupi.

3. Riqab

Riqab atau hamba sahaya adalah budak. Ya, di zaman Nabi dahulu memang banyak sekali orang yang dijadikan budak. Pada awal perkembangan Islam, zakat juga digunakan untuk memerdekakan para budak atau hamba sahaya dari majikannya. Budak yang sudah merdeka, maka mereka bisa hidup bebas.

Mungkin praktik perbudakan saat ini memang sudah tidak ada lagi. Tapi istilah ini bisa juga diartikan upaya untuk melepaskan para muslim yang sedang ditawan oleh pihak lain.

4. Gharim

Kemudian ada golongan gahrim yang merupakan golongan orang yang berhak juga dalam menerima zakat. Gahrim adalah orang yang memiliki banyak utang. Apakah semua orang yang memiliki utang berhak menerima zakat? Nah, Gahrim di sini ada dua jenis, yaitu:

Ghârim limaslahati nafsihi, adalah orang yang berhutang demi kemaslahatan dirinya dan keluarganya. Ghârim li ishlâhi dzatil bain, adalah orang yang berhutang untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa.

Nah, Gahrim berhak mendapatkan zakat jika memang utang itu memang dibenarkan oleh syariat Islam, dan tidak untuk melakukan kegiatan kemaksiatan. Jika orang yang berhutang, tapi dia masih mampu melunasi utang tersebut dengan hartanya, maka dia tidak berhak mendapatkan zakat.

5. Mualaf

Mualaf adalah orang yang baru dilunakkan hatinya, sehingga masuk atau memeluk agam Islam. Mualaf pun memiliki hak untuk mendapatkan zakat. Pemberian zakat kepada mualaf memiliki tujuan untuk mendukung penguatan iman dan takwa para mualaf dalam memeluk agama Islam.

Zakat untuk para mualaf pun memiliki peran sosial untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.

6. Fisabilillah

Golongan selanjutnya yang berhak untuk mendapatkan zakat adalah golongan Fisabilillah. Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT.

Pada zaman sekarang ini Fisabilillah bukan sekadar orang yang berperang secara fisik di jalan Allah SWT. Tetapi mereka yang menjalankan kebijakan untuk kemaslahatan umat, seperti berdakwah menyiarkan agama Islam, atau untuk kegiatan sosial lainnya seperti untuk pendidikan, dan kesehatan maka mereka itulah yang disebut fisabilillah.

7. Ibnu Sabil

Golongan ke tujuh yang berhak menerima zakat adalah para ibnu sabil. Ibnu sabil adalah orang yang dalam perjalanan tapi di perjalanan tersebut dia kehabisan bekal untuk meneruskan perjalanannya. Sehingga, dia tidak mampu meneruskan perjalanannya.

Ya, mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanan sehingga tidak dapat meneruskan perjalanannya, maka mereka berhak menerima zakat. Tapi dengan catatan perjalanan bukan dikarenakan untuk melakukan perbuatan maksiat.

8. Amil

Golongan terakhir yang berhak menerima zakat adalah amil. Amil adalah orang yang bertugas dalam mengumpulkan dan membagikan zakat. Ya, setiap pelaksanaan zakat, maka ada petugas atau panitia yang mengurus proses terselenggaranya zakat. Mereka para amil mengumpulkan dan membahagiakan zakat dari setiap muslim.

Nah, amil ini pun termasuk orang yang berhak menerima zakat. Ini sebagai tanda jasa bagi para amil yang telah membantu terselenggaranya zakat. Amil memang berhak menerima zakat, tapi dengan catatan bahwa ke tujuh golongan penerima zakat di atas sudah menerima zakat.

Misal, di suatu wilayah semua ke tujuan golongan penerima zakat sudah menerima hak mereka, tapi masih ada sisa zakat, maka amil berhak menerimanya.

Itulah delapan golongan yang berhak menerima zakat. Bagi Anda yang memang sudah wajib zakat, maka segeralah menunaikan kewajiban Anda tersebut. Jangan sampai Anda malah memakan hak orang lain. Sebab, dalam harta kita ada hak milik orang lain.

Bayar zakat bisa langsung ditunaikan kepada yang membutuhkan. Tapi terkadang bagi sebagai orang mungkin akan kesulitan jika harus memberikan langsung kepada golongan yang berhak menerima zakat. Keberadaan lembaga amil zakat dapat mempermudah para muzakki untuk menyalurkan dana-dana ZISWAF. Dana yang dikumpulkan melalui lembaga akan dapat memaksimal pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat yang kirang mampu.

Cara Pembayaran Zakat Deposito Syariah

Kondisi perekonomian yang tidak menentu membuat banyak orang yang semakin peduli terhadap investasi. Terutama investasi yang mudah dan dijamin keamanannya, salah satu instrument investasi tersebut adalah deposito. Walaupun deposito tidak menawarkan bagi hasil yang tidak tinggi namun masih memiliki banyak peminat.

Sebagai umat muslim kita tentu menginginkan harta yang kita miliki bersih dari hak-haknya sehingga depositopun harus dipikirkan pengeluaran zakatnya. Bagaimana jika deposito tersebut diletakkan pada Bank Syariah, apakah masih wajib mengeluarkan zakat dan bagaimana cara mengeluarkannya.

Ust. Oni Sharoni sebagai anggota Dewan Syariah Nasional MUI sekaligus DPS Bank Syariah Indonesia menyatakan dalam jawabannya yang dilansir dari republika.co.id.

Deposito itu wajib ditunaikan zakatnya sebesar 2,5 persen saat saldo depositonya di akhir bulan kedua belas itu mencapai minimal senilai 85 gram emas.

Kesimpulan ini bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut. Pertama, deposito seperti yang dipraktikkan di bank-bank syariah itu wajib ditunaikan zakatnya oleh deposan sebesar 2,5 persen saat saldo depositonya telah melewati genap dua belas bulan dan mencapai minimal senilai 85 gram emas.

Di antara ilustrasinya adalah A membuka deposito di bank syariah dan menempatkan dananya Rp 100 juta pada Januari 2020. Kemudian, pada 1 Januari 2021, total saldo depositonya mencapai Rp 120 juta. Rp 100 juta sebagai modal investasi dan Rp 20 juta sebagai bagi hasilnya, maka A wajib mengeluarkan zakat atas depositonya. Karena, jika kita asumsikan bahwa harga 1 gram emas itu Rp 1 juta, maka 85 gram emas berarti Rp 85 juta. Praktis saldo depositonya sudah mencapai nishab, maka yang harus ditunaikannya adalah 2,5 persen dari Rp 120 juta, yaitu Rp 3 juta.

Jika seseorang membuka deposito di bank konvensional, maka yang menjadi obyek wajib zakat adalah deposito yang disetor, sedangkan bunga yang diterimanya itu bukan obyek wajib zakat, tetapi harus ditunaikan menjadi sedekah. Misalnya, A menyetorkan dana di deposito konvensional sebesar Rp 100 juta pada 1 Januari 2020. Pada 1 Januari 2021 saldo depositonya berjumlah Rp 110 juta. Dengan demikian, perhitungan zakatnya adalah 2,5 persen dari Rp 100 juta, yaitu Rp 2,5 juta. Sedangkan yang Rp 10 juta disalurkan sebagai sedekah karena dikategorikan dana nonhalal (bunga ribawi).

Kedua, kesimpulan tersebut didasarkan pada:

(a) Ketentuan zakat deposito itu adalah ketentuan yang berlaku pada zakat perdagangan dalam nisab, waktu mengeluarkan beserta tarifnya, itu karena kesamaan substansi antara keduanya.

Saat membuka dan menempatkan dananya di deposito bank syariah, maka pemilik deposito adalah pemilik modal yang menitipkan dananya kepada bank syariah untuk dikelola dalam usaha-usaha yang halal dengan keuntungan yang dibagihasilkan antara pihak ketiga, bank syariah, dan deposan.

Jadi, ada unsur investasi dan perputaran barang dan jasa sebagaimana disampaikan al-Qardhawi, “Setiap sesuatu yang digunakan untuk jual beli”. Dan dengan siklus ini, bisa disimpulkan bahwa ada unsur an-nama (berkembang) dalam deposito tersebut.

(b) Saat ketentuan yang berlaku dalam zakat deposito itu adalah zakat perdagangan, maka dalil kewajiban zakat deposito itu juga sama dengan dalil zakat perdagangan, yaitu firman Allah SWT, “… nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ….” (QS al-Baqarah: 267)

Kemudian, hadis Rasulullah SAW, “Dari Samrah bin Jundab ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan zakat dari yang kami persiapkan untuk berjual beli.” (HR. Abu Dawud).

Selain itu, ijma’ sahabat dan tabi’in, seperti pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abdul Aziz, tidak satu pun yang berbeda pendapat dan melarang zakat perdagangan ini.

(c) Sebagaimana regulasi terkait, zakat mal meliputi zakat emas, perak, dan logam mulia lainnya, zakat uang dan surat berharga lainnya, serta zakat perniagaan. (PMA RI Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif).

Ketiga, di antara pilihan teknis mengeluarkan zakat yakni ditunaikan zakatnya oleh bank syariah sebelum dibagihasilkan kepada para pihak terkait atau bank syariah membagihasilkan keuntungan kepada para pihak terkait (termasuk pemilik modal), kemudian masing-masing (termasuk pemilik modal) yang menunaikan kewajiban zakatnya. Wallahu a’lam

Perbedaan Zakat dan Sedekah

Zakat dan sedekah merupakan amalan bagi umat Muslim. Keduanya hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang memiliki kelebihan harta. Namun demikian, terkadang orang masih sering keliru dalam penyebutannya. Banyak keutamaan bagi orang yang mampu menjalankannya.

Perbedaan zakat dan sedekah sangat penting untuk dipahami tiap umat Muslim. Dengan mengetahui perbedaannya, kamu bisa memilih bentuk amal yang tepat sesuai kemampuan.

Untuk mengupas tuntas mengenai hal ini Ustadz Ammi Nur Baits menerangkan dalam tulisannya;

Secara Bahasa:

 Zakat artinya tumbuh (an-Nama’), bertambah (ar-Rii’), keberkahan (al-Barakah), dan mensucikan (at-Tathiir). (Lisan al-Arab, 14/358 dan Fathul Qadir, 2/399).

Sementara kata sedekah turunan dari kata as-Shidq yang artinya kejujuran. Karena sedekah adalah kejujuran iman orang yang mengeluarkannya. (Fathul Qadir, 2/399).

Sedangkan pengertiannya secara syariat,

▶️ Zakat: beribadah kepada Allah – Ta’ala – dengan mengeluarkan barang yang wajib dizakati untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan ukuran tertentu sesuai yang dijelaskan syariat.

▶️ Sedekah: beribadah kepada Allah dengan menginfakkan harta yang tidak diwajibkan syariat.

Meskipun terkadang istilah sedekah digunakan untuk menyebut zakat.

Dalam beberapa ayat, Allah menyebut zakat dengan sedekah.

Seperti firman Allah yang menjelaskan orang-orang yang berhak menerima zakat,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

Sesungguhnya sedekah itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, … (QS. at-Taubah: 60)

Yang dimaksud sedekah pada ayat ini adalah zakat.

Diantara perbedaan sedekah dan zakat,

✅ [1] Zakat adalah kewajiban dalam islam untuk komoditas tertentu, seperti emas, perak, pertanian, binatang ternak, dst.

Sementara sedekah bukan kewajiban dan tidak dibatasi jenis komoditasnya.

✅ [2] Ada syarat tertentu untuk zakat, seperti harus mencapai nishab, bertahan selama satu tahun (haul), dan dikeluarkan dengan nilai tertentu.

Sementara sedekah, tidak ada syarat khusus, tidak ada nishab (batas minimal harta), tidak harus menunggu haul, dan bisa dikeluarkan dengan jumlah berapapun, selama tidak merugikan diri sendiri atau keluarga.

✅ [3] Zakat diwajibkan untuk diserahkan kepada golongan tertentu yang telah disebutkan oleh Allah. dan tidak boleh diberikan kepada selain mereka.

Sementara sedekah bisa diberikan kepada selain 8 ashnaf, seperti anak yatim, dst.

✅ [4] Orang yang mati dan belum menunaikan zakat, wajib dibayarkan oleh ahli warisnya.

Dan pembayaran utang zakat, lebih didahulukan dari pada pembagian wasiat atau warisan.

Sementara untuk sedekah tidak ada kewajiban semacam ini.

✅ [5] Orang yang tidak membayar zakat, mendapatkan hukuman khusus di dunia dan di akhirat

Di dunia, dihukum dalam bentuk ditarik paksa zakatnya dan dihukum ta’zir sesuai keputusan pemimpin.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن منعها معتقدا وجوبها, وقدر الإمام على أخذها منه, أخذها وعزره

“Orang yang tidak membayar zakat, dengan tetap meyakini bahwa itu wajib, sementara pemimpin memungkinkan untuk mengambil hartanya, maka pemimpin boleh memaksa dan memberinya hukuman ta’zir. (al-Mughni, 2/434)

Dan berhak mendapat hukuman di akhirat seperti yang disebutkan dalam hadis.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ

“Siapa yang diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat hartanya dijadikan seekor ular jantan aqra’ (botak karena di kepalanya ada banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu memegang dengan kedua sudut mulutnya, sambil berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu.” (HR. Bukhari 1403).

Sementara untuk orang yang tidak menyerahkan sedekah, tidak ada ancaman semacam ini.

✅ [6] Menurut 4 madzhab, zakat tidak boleh diberikan kepada anak, cucu dst ke bawah, juga tidak boleh diberikan ke bapak, kakek, dst. ke atas.

Sementara sedekah bisa diberikan kepada anak atau orang tua.

Sekarang kamu tidak perlu bingung lagi mengenai perbedaan zakat dan sedekah. Kamupun dapat menunaikannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Lanjutkan kebaikan dengan mengajak orang lain untuk menunaikannya.

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Search