qurban 2021

Bacaan Niat Untuk Qurban

Berqurban merupakan Sunnah paling utama ketika datangnya bulan Dzulhijjah. Berqurban merupakan cara untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Berqurban merupakan salah satu ajaran yang diwariskan dari nabi terdahulu mulai dari nabi adam, kemudian nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam .

Perintah melaksanakan kurban sendiri telah tertuang dalam Surat Al Kautsar ayat 1-3. Allah berfirman:

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Pelaksanaan kurban hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan terutama bagi yang mampu. Bagi yang mampu tetapi tidak melakukannya hukumnya adalah makruh, tidak disukai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sejak 10 Dhulhijjah sampai 3 hari setelahnya yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau disebut juga hari tasyrik, selain hari ini tidak dinakan sebagai qurban.

Niat Qurban

Sebagaimana amalan lain seperti puasa, sholat, dan zakat, kurban juga dilakukan dengan membaca niat terlebih dahulu. Niat inilah yang menentukan apakah ibadah itu diterima atau tidak oleh Allah Ta’ala.

Mengutip buku Fiqih Qurban Perspektif Madzhab Syafi’iy oleh Muhammad Ajib Lc., MA., niat kurban dapat diucapkan ketika menyembelih. Namun, boleh juga dilakukan dalam hati sejak tanggal 1 Dzulhijjah.

Adapun niatnya adalah sebagai berikut:

نويت أن أاضحي للهِ تَعَالى

Nawaitu an udhahhi Lillaahi Ta’ala.

Artinya: “Saya niat berkurban karena Allah Ta’ala.”

Dilansir dari perkataan Buya Yahya, dalam Mazhab Imam Syafi’I niat tidak wajib untuk diucapkan. Ketika sesorang berniat untuk membeli hewan qurban itu juga bisa disebut sebagai niat qurban.

Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Para Pequrban

Nabi Muhammad SAW melarang memotong kuku dan rambut bagi Muslimin yang ingin berqurban. Larangan ini mulai berlaku memasuki bulan Dzulhijjah atau tanggal 1 Dzulhijjah hingga penyembelihan hewan qurban.

 “Jika kalian telah melihat hilal Dzulhijah (yakni telah masuk satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya. (HR. Bukhori)

 Ada perbedaan pendapat yang cukup kuat di kalangan para ulama terkait hukum larangan ini.

Mazhab Syafi’i berpandangan larangan pada hadis di atas bermakna makruh.

Sementara dalam Imam Ahmad dan Ishaq, larangan pada hadis di atas bermakna haram. Pendapat inilah yang dinilai kuat oleh komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (Lajnah Da-imah). (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Rambut yang dilarang dipotong mencakup rambut mubah dan yang mustahab. Rambut mubah maksudnya adalah seluruh rambut yang ada di tubuh kita, yang tidak ada anjuran mencukurnya. Adapun rambut mustahab maksudnya, rambut yang dianjurkan untuk dicukur, seperti kumis, bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak. (Lihat : Bidayatul Faqiih, Karya Dr. Salim Al-Ajmi, hal. 472)

Melansir laman Konsultasisyariah pada Kamis (8/7/2021) disebutkan, kemudian, qurban termasuk jenis ibadah yang pahalanya dapat kita niatkan untuk dibersamakan, seperti berqurban dengan niat diri kita untuk keluarga, atau handai taulan atau yang lainnya. Sebagaimana pernah dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam saat beliau menyembelih hewan qurban beliau, beliau berdoa,

“Ya Allah ini –qurban– dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud, no.2810 dan Al-Hakim 4:229 dan dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al Irwa’ 4:349).

Dalam hadits dari sahabat Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang dinyatakan,ِ

”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi, ia menilainya shahih, Minhaajul Muslim, Hal. 264 dan 266).

Namun kemudian muncul pertanyaan, larangan memotong kuku dan rambut apakah berlaku juga untuk orang-orang yang dicakupkan dalam niat qurban kita ?

Jawabannya adalah, larangan tersebut hanya berlaku untuk si pengqurban saja, tidak untuk keluarga yang dia niatkan.

Hal ini berdasarkan dzohir hadis berikut,

 “Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim).

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengaitkan larangan memotong kuku dan rambut dengan si pengkurban saja. Yakni yang keluar biaya untuk beli kurban atau yang mengqurbankan hewan qurban piaraannya.

Dalam Fatawa Lajnah Da-imah diterangkan,

Dari hadis di atas tampak jelas, bahwa hadis ini khusus berkenaan dengan orang yang hendak berkurban saja. Adapun orang-orang yang dicakupkan dalam niat kurban, baik dewasa maupun kanak-kanak, tidak ada larangan untuk memotong rambut atau kukunya. Hal ini berdasarkan hukum asal memotong rambut dan kuku adalah mubah. Dan kami tidak mendapati dalil yang menyelisihi hukum asal ini. (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Yuk, Tunaikan Qurban

Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha akan tiba, yang artinya sama dengan sebentar lagi kita dianjurkan untuk berqurban. Berqurban sesungguhnya merupakan sebuah sarana dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Sesuai dengan asal katanya yaitu qariba-yaqrabu-qurbanan yang berarti dekat atau mendekatkan. Berqurban tidak hanya masalah harta, tetapi juga kemauan untuk memberikan yang terbaik untuk Allah.

Ibadah qurban dilakukan pada hari Idul Adha dan hari tasyrik, yakni 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dilaksanakan bagi orang yang tidak dapat menunaikan haji pada tahun tersebut. Anjuran berqurban dijelaskan dalam hadits riwayat Aisyah, Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Bersabda:

“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117).”

Tahun 2021 Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) mengusung program Qurban dengan tema “Qurban Hebat, Alirkan Kebaikan untuk Negeri” dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaan dan selain itu pequrban juga bisa menyaksikan secara langsung proses penyembelihan hewan qurban yang telah dibeli.

Lewat program ini, hewan qurban akan dibeli langsung dari mitra peternak binaan di desa, disembelih dan kemudian didistribusikan di desa yang membutuhkan di delapan titik seluruh Indonesia. Jadi di samping aspek ketauhidan terhadap Allah Ta’ala, program qurban dapat berdampak di berbagai sektor kehidupan, terutama ekonomi.

Daftar Harga hewan qurban Laznas BSMU:

  1. Domba Ekonomis (23 – 25kg) Rp 1.800.000
  2. Domba Medium (26 – 28kg) Rp 2.150.000
  3. Domba Premium (29 – 31kg) Rp 2.450.000
  4. Sapi Indonesia Timur (250 – 300kg) Rp 14.500.000
  5. Sapi Indonesia Barat (250 – 300kg) Rp 19.250.000

*Harga sudah termasuk jasa pemotongan, distribusi daging kepada mustahik, serta laporan.

Scroll to top