penerimamanfaat;cluster kambing

Kisah inspiratif Cipto Peternak Kambing Desa Kejombong

BSM Umat – Cipto Waluyo (50 tahun) adalah salah satu peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak Ngudi Dadi Desa Kedarpan Purbalingga. Ketertarikan beliau dalam mengikuti program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri Klaster Peternakan Kambing didorong oleh keinginannya untuk memperbaiki kehidupan ekonomi tanpa harus meninggalkan keluarga. Seperti kebanyakan anak muda yang tinggal di desanya, saat muda Cipto mencoba peruntungan dengan merantau ke Ibu kota Jakarta. Pertama kali merantau ke Jakarta yaitu pada tahun 1983 dengan menjadi buruh bangunan. Dua tahun berselang Cipto muda mencoba peruntungan berjualan es di sekitar Kebayoran Lama karena merasa tidak berkembang saat menjadi buruh bangunan. Rupanya ibu kota belum berjodoh dengan Cipto muda, beliau kembali pulang ke Purbalingga demi dekat dengan keluarga. Saat itu beliau memilih profesi sebagai sopir bus dalam kota yang melayani trayek Purbalingga-Kejobong. Dengan penghasilan yang seadanya yaitu sekitar lima puluh ribu rupiah perhari Cipto coba bertahan demi dekat dengan keluarga tercinta. Selama periode tahun 1987 hingga tahun 2000 Cipto mencoba bertahan di Kota Purbalingga dengan menekuni profesinya sebagai sopir bus. Rupanya Hasrat untuk merantau ke luar kota masih ada dan dipicu oleh kebutuhan keluarga yang cukup besar, Cipto akhirnya memutuskan untuk kembali mengadu nasib menjadi perantauan. Kali ini bukan ke Ibu kota, Cipto bersama saudara tirinya mencoba berjualan buku pelajaran anak SD dan SMP ke Sumatera dan Maluku Utara. Pikirnya daerah tersebut masih belum tinggi persaingannya sehingga diharapkan bisa memperbaiki ekonomi keluarga dengan mendapatkan keuntungan besar dari berjualan buku. Biasanya Cipto berjualan buku selama 3 bulan sekali setiap semesteran. Pada tahun 2010 hingga 2013 beliau merantau ke Riau sedangkan pada tahun 2013 hingg 2016 beliau merantau Ke Maluku utara. Ketika sedang pulang ke Purbalingga beliau masih menjalankan profesi sebagai sopir bus. Beberapa tahun kemudian Cipto memutuskan untuk tidak lagi merantau berjualan buku. Rupanya berjualan buku tidak lagi menggiurkan karena adanya kebijakan pemerintah yang menghambat perkembangan bisnis penjualan buku bacaan anak SD dan SMP. Meninggalkan keluarga cukup lama tentunya bukan hal yang mudah dan kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga mendorong dirinya untuk tinggal di desa saja. Pria yang lahir pada tanggal 5 Februari 1969 kini sudah tidak muda lagi. Tentunya pengalaman pahit saat merantau cukup membuat dirinya lebih dewasa memandang kehidupan. Dia berpikir bahwasanya hidup bukan hanya melulu tentang uang, akan tetapi harus ada kasih sayang yang dibagi untuk keluarga. Setelah malang melintang di kampung orang, Cipto kembali pulang kampung ke Purbalingga. Beliau kemudian memilih  bertani antara lain dengan menanam singkong, jambu, dan menanam pisang. Hasil pertanian bisa dibilang cukup membantu penghasilan keluarga walau masa panennya tahunan. Pada tahun 2018, saat ada program Desa BSM dari LAznas BSM dan Bank Syariah Mandiri Cipto mencoba mendaftarkan diri. Cipto dengan lima puluh peternak lainnya saling bahu-mambahu membangun kandang komunal yang diberikan oleh Laznas BSM hingga mendapatkan bantuan kambing. Kambing yang didapatkan oleh Cipto dan peternak lainnya diberikan sebanyak 30 ekor dan diberikan bertahap. Cipto adalah peternak yang mengikuti saran pendamping agar mau memelihara domba. Saran yang diberikan oleh pendamping dimaksudakan karena domba lebih tahan terhadap penyakit dan tidak akan tertular oleh kambing. Pada Idul qurban 1440 H. 4 ekor domba yang dipelihara Cipto terjual semua dengan harga Rp 6.200.000. Dari hasil penjualan ini Cipto mendapatkan keuntungan bersih 1.440.000 dan bisa menyetorkan untuk kas kelompok sebesar 20% dari keuntungan yang diperoleh. Selanjutnya Cipto kembali bisa membeli 2 ekor domba untuk dipelihara lagi yaitu induk betina dan anakan jantan seharga Rp 3.500.000. Rupanya keberhasilan Cipto menjual seluruh dombanya telah mendorong keinginan peternak lainuntuk memelihara domba. Maklum saja kultur peternak di Desa Kedarpan sedari kecil memelihara kambing membuat mereka kurang tertarik memelihara domba. Walau harganya lebih murah dari kambing, kenyataanya domba lebih tahan terhadap penyakit sehingga layak untuk dijadikan usaha oleh peternak. Saat ini Cipto Waluyo diberikan kepercayaan untuk memelihara 18 ekor domba sisa yang belum laku saat idul adha qurban 1440H. dengan kondisi hijuan yang cukup sulit didapat, Cipto mencoba mengoptimalkan keberadaan pakan alternatif yaitu gedebog pisang. Disaat peternak lain memanfaatkan kulit singkong untuk pakan ternak, langkah Cipto menjadi salah satu alternative yang kemudian diikuti oleh peternak lainnya. Maklum saja gedebog pisang diperoleh tanpa biaya sedangkan kulit singkong diperoleh dengan harga 15 ribu perkarung. Gedebog pisang yang digunakan Cipto dicampur dengan pakan tambahan pollar, ampas tahu, dan rumput odot. Untuk 20 ekor domba dan 6 ekor kambing, Cipto biasanya mencacah dua batang gedebog pisang, mencacah satu ikat rumput odot, lalu mencampurkannya dengan pollar 2kg dan ampas tahu 3kg. Dengan skema pemberian pakan seperti ini Cipto tidak dipusingkan dengan sulitnya mendapat pakan hijuan. Rupanya lambat laun apa yang dilakukan Cipto diikuti pula oleh peternak lainnya. Cipto dan peternak lain di Desa Kedarpan berharap bahwa program Desa Berdaya Sejahtera Mandiri yang digagas Laznas BSM dan Bank Syariah Mandiri bisa berkembang dan membantu mengangkat perekonomian di desanya sehingga tidak perlu lagi berangkat pergi merantau ke ibu kota meninggalkan keluarga tercinta.   
Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Search