Ketahanan pangan

Ketahanan Pangan Keluarga di Masa Pandemi

Kemarin, tepatnya Selasa (29/6), Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2020. Momen ini seyogianya diperingati dalam upaya menumbuhkan rasa kebersamaan antar-anggota keluarga. Harganas menjadi momen untuk berkumpul dan saling menguatkan diri di tengah kondisi kasus covid yang sedang naik. Apalagi jika ada salah satu anggota yang positif covid, hal ini tentu membutuhkan dukungan dari keluarga yang sehat untuk dapat melewatinya.

Masalah Covid adalah masalah bersama, sehingga tidak mungkin bisa diatasi sendiri, minimal keluarga pasti akan terlibat. Dimasa pandemi saat ini peran keluarga sangat penting, dengan saling mengingatkan keluarga akan bahaya. Dengan memberikan asupan makanan yang bergizi dalam keluarga diharapkan akan meningkatkan imunitas.

Imunitas yang baik akan dapat menangkal dari infeksi virus corona. Asupan makanan yang bergizi tidak hanya cukup kenyang saja, melainkan bisa memiliki berbagai unsur yaitu karbohidrat, protein, mineral dan vitamin.

Ketahanan pangan pada dasarnya bicara soal ketersediaan pangan (food avaibilitas), stabilitas harga pangan (food price stability), dan keterjangkauan pangan (food accessibility).
Sumber pangan untuk masyarakat perkotaan sampai saat ini masih tergantung stok dari desa. Untuk penyediaan pangan mandiri masih terkendala beberapa faktor. Hal ini menjadi semakin dipersulit dengan menurunnya kondisi ekonomi masyarakat, sehingga tidak dapat membeli makanan yang dibutuhkan.

Permasalahan pangan saat ini menjadi permasalahan bersama yang harus diselesaikan secara gotong royong. Yang berlebih membantu yang kekurangan itulah prinsip tolong menolong (taawun) dalam islam. Peranan lembaga zakat dalam hal penyediaan makanan sangat dirasakan manfaatnya. Contohnya yang dilakukan Laznas BSMU yang memberikan bantuan bahan makanan pokok kepada keluarga disabilitas yang ada di Bekasi dan masih banyak lainnya.

Dengan menggunakan dana ZISWAF yang disalurkan melalui lembaga yang terpercaya kebermanfaatannya akan jauh lebih terasa oleh umat. Selain itu juga potensi merubah mustahik menjadi muzakki akan mudah terwujud karena dalam program pelaksanaan programnya sangat diperhatikan proses dari hulu hingga hilir agar tepat sasaran.

Bantuan Mesin Air Alkaline untuk Kemandirian Pesantren

Ditengah kondisi pandemi yang memburuk, ketahanan pangan menjadi hal yang sangat  ‘urgent’ untuk dicarikan solusinya. Dengan memiliki rencana dan program ketahanan pangan yang baik dapat menghindari adanya kemungkinan yang terburuk misalnya kelaparan dan kekurangan pangan.

Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) dalam program ketahanan pangan, telah membidik pondok pesantren terutama pondok pesantren untuk kaum dhuafa untuk dibantu dalam program tersebut. Diharapkan, dengan bantuan yang diberikan itu menjadikan pesantren tersebut dapat mandiri dalam hal ekonomi sehingga ketergantungan terhadap bantuan pihak luar bisa semakin dikurangi, bahkan hilang sama sekali. Pesantren selain menjadi tempat pusat menimba ilmu, juga diharapkan mampu menjadi pusat perekonomian masyarakat disekitarnya.

Adapun saat ini,  bantuan diberikan kepada pondok pesantren As Syafi’iyah Pondok Gede dan pondok pesantren Al Muhtadin. Bantuan diberikan berupa mesin air Alkaline dengan total bantuan  sebesar Rp 174 juta. Masing-masing pesantren mendapatkan 1 unit mesin. Dalam sehari mesin tersebut dapat menghasilkan kurang lebih 80 galon. Selain dipergunakan untuk konsumsi pondok pesantren, sebagiannya juga dijual untuk menambah pendapatan pondok.

Adapun alasan dipilihnya dua pesantren tersebut karena merupakan pesantren untuk anak-anak yatim yang tidak memungut biaya untuk santrinya serta dapat memberdayakan masyarakat kurang mampu disekitar pesantren. Total penerima manfaat untuk dua pesantren tersebut adalah sebanyak 300 santri.

Syifa Fauziya selaku perwakilan pondok pesantren Asy Syafi’iyyah menyatakan, “Kami mendapatkan bantuan mesin kangen water yang insya Allah akan menjadi manfaat bagi santri-santri khususnya yatim Asy Syafi’iyyah. Kami sangat bersyukur dan bergembira atas program ini dan semoga ini bisa menjadi satu unit usaha pesantren kedepannya. Terima kasih untuk seluruh donatur Laznas BSMU, semoga Allah memberikan keridhoannya kepada kita semua.”

Program kemandirian ekonomi melalui program ketahanan pangan terlaksana berkat dana ZISWAF yang diamanahkan melalui Laznas BSMU. Tentunya selama peralatan masih dipergunakan maka pahala akan terus mengalir kepada donatur. Pengelolaan dana ZISWAF melalui lembaga akan berdampak besar bagi perekonomian masyarakat.

Peranan Laznas BSMU Dalam Ketahanan Pangan

Problematika ketahanan pangan meliputi beberapa aspek, mulai dari  produksi, distribusi serta konsumsi produk pangan. Kondisi saat ini menyebabkan harga bahan pangan menjadi tidak menentu. Permasalahan ini tentunya tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja tetapi juga masyarakat harus terlibat didalamnya salah satunya lembaga zakat.

Berdasarkan permasalahan tersebut, Laznas BSMU berupaya untuk berperan aktif didalamnya, yaitu bersama Bank Syariah Indonesia berkolaborasi dalam membuat desa binaan dengan berbagai produk unggulannya. Diantara desa binaan tersebut adalah Desa Rejoasri Lampung Tengah untuk kluster padi, Desa Kedarpan untuk kluster kambing/domba dan Trenggalek untuk kluster sapi.

Laznas BSMU juga membuat program untuk mengatasi masalah distribusi pangan kepada masyarakat, sehingga masyarakat yang tidak mampu dapat tercukupi pangannya, melalui:

  1. Program Warteg Mobile, dengan menggunakan konsep penyaluran makanan siap saji (siap konsumsi) untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam mencukupi kebutuhan pangan, dengan target sasaran pemetik manfaat seperti masyarakat di pemukiman padat/kumuh, komunitas disabilitas, komunitas pengemudi angkot/taksi/ojek, serta masyarakat yang terdampak bencana (kebakaran, kebanjiran , dll). Total penerima manfaat sejak tahun 2020 mencapai 144.284 jiwa.
  2. Program Ketahanan Pangan, merupakan bantuan sosial sebagai bentuk respon kepedulian terhadap kondisi bangsa khususnya pesantren, masyarakat sekitar masjid dan kelompok disabilitas yang saat ini menghadapi kesulitan akibat wabah virus corona. Program ini berbentuk charity berupa bahan pokok serta pengembangan usaha ekonomi bagi kemandirian pesantren. Adapun jumlah penerima bantuan program yaitu 30 pesantren dan 500 orang disabilitas dengan total penerima manfaat 16.000 jiwa.
  3. ATM Beras, program pemberian bantuan beras untuk mustahik yang dapat diambil melalui mesin ATM beras yang ditempatkan dilingkungan masjid. Telah ditempatkan ATM beras di 35 titik (masjid) dengan total penerima manfaat mencapai 14.000 jiwa.

Jumlah tersebut masih jauh dari kata cukup untuk dapat mengatasi masalah ketahanan pangan di Indonesia. Namun, merupakan langkah yang berarti untuk dapat membantu sesama yang membutuhkan. Semua program yang telah dilakukan menggunakan dana ZIS yang berasal dari muzakki. Dengan pengelolaan dana ZIS secara lembaga, kebermanfaatannya dapat dirasakan lebih besar.

Bank Syariah Indonesia dan Laz BSMU Bangun Desa Berdaya Sejahtera Mandiri di Lampung Tengah

Jakarta, 21 Maret 2021 – Bank Syariah Indonesia bersinergi bersama BPKH (Badan Pengelolaan Keuangan Haji) dan LAZ Bangun Sejahtera Mitra Umat (Laz BSMU) membangun Desa berdaya Sejahtera Mandiri Rejosari di Daerah Rejosari, Lampung Tengah. Desa ini dipilih karena kesesuaian dengan penerima manfaat zakat yakni petani mustahik serta wilayahnya yang didominasi persawahan dan perkebunan. Simbolik bantuan diberikan oleh Direktur Sales dan Distribusi Bank Syariah Indonesia, Anton Sukarna, didampingi oleh Direktur Program Laz BSMU, Fauzi Indrianto, serta DR. Rahmat Hidayat, SE, MT selaku anggota badan pelaksana BPKH yang hadir secara langsung di lokasi program.

 

Dukungan BSI, BPKH dan LAZ BSMU dituangkan dalam bentuk pemberian alat – alat pertanian berupa alat pemisah warna beras (color sorter) dan alat pemisah batu (destoner). Alat ini berfungsi untuk meningkatkan nilai mutu beras serta meningkatkan kualitas harga nilai jual beras dari para petani desa kepada masyarakat sebagai end user.

 

Alhamdulillah, program ini disambut baik oleh kelompok petani Gapsera Sejahtera Mandiri dimana dengan adanya alat ini membuat optimis bagi warga untuk meningkatkan produksi gabah dan nilai jual beras sehat non pestisida yang dihasilkan di Desa Rejosari.

 

Sejak tahun 2018, kelompok petani yang memiliki lebih dari 100 orang ini telah menginisasi penanaman beras organik. Harapannya para petani dapat turut berperan aktif dalam menyehatkan masyarakat. Hal ini karena selain pemeliharaannya bebas pestisida dan zat kimia, sifat beras yang mudah terurai oleh tubuh sehingga aman bagi tubuh.

 

Direktur Sales dan Distribusi BSI, Anton Sukarna mengatakan pembangunan Desa Berdaya sejalan value Bank Syariah Indonesia dimana keberadaan bank syariah dapat membangun kesejahteraan ekonomi, sosial dan salah satunya ketahanan pangan. “Kami berharap dukungan masyarakat terus mengalir dan kuat sehingga BSI dapat memberikan kemaslahatan yang luas bagi umat”.

 

Hal senada juga disampaikan Suhendar, Ketua Pengurus LAZ BSMU, “terimakasih kepada seluruh pihak baik Bank Syariah Indonesia dan BPKH yang telah mempercayakan dana sosialnya kepada LAZ BSMU untuk bersinergi dalam program pemberdayaan di Lampung. Kami berharap program ini menjadi jalan mengubah para mustahik (penerima manfaat zakat) menjadi muzzaki (pemberi zakat), sehingga Desa Rejosari menjadi sejahtera dari sisi ekonomi, sosial dan akhlak”.

 

“Kami berharap nilai jual beras organik ini cukup bersaing di pasaran yakni Rp 12.500,-/kg di Lampung serta Rp 13.000/kg untuk luar Lampung, sehingga kesejahteraan para anggota petani di Desa Rejosari bisa meningkat dan manfaatnya terus bergulir bagi warga yang ingin bertani”, tutur Ketua Kelompok Petani Gaptera Sejahtera Mandiri, Sukarlin

PENYALURAN INFAQ BERAS SANTRI MANDIRI

BSM Umat – Program Beras santri Mandiri yang sudah berjalan beberapa bulan saat ini telah menyalurkan ke Khadijah Boarding School merupakan pondok pesantren yang dikhususkan bagi Akhwat. Santri Khadijah Boarding School terdiri dari yatim dan dhuafa dari seluruh Indonesia. Efek ekonomi akibat pandemi Covid-19 terus dirasakan oleh masyarakat yang tergolong lemah. Hal ini membuat pihak asrama kesulitan untuk membeli beras.

“Sebagian santri telah dipulangkan untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, tetapi santri yang berasal dari luar pulau masih menetap di sini. Pesantren saat ini sedang kekurangan beras karena harga yang melambung tinggi” ujar pengurus yayasan.

Ciputat menjadi salah satu daerah tanggap darurat penyebaran Covid-19, sehingga santri harus selalu menjaga kesehatan agar tidak terinfeksi Covid-19. 

Alhamdulillah, pada hari Kamis tanggal 26 Maret 2020 BSM Umat hadir memberikan bantuan beras sebanyak 1500 kg, amanah dari para nasabah Mandiri Syariah dalam program Infaq Beras Santri Mandiri. Di Pondok Khadijah telah tersalurkan sebanyak 500 kg beras dan 1000 kg beras disalurkan juga ke 7 pesantren lainnya, seperti Yayasan Al Muta’arif, Ponpes Insan Qurani, Ponpes Daar El Hikam, Yatimku Laa Tahzan, Bima Azzahra Yatim, Rumah Qur’an Al Manar, Ruhama Al Fajar.

Terima kasih nasabah Mandiri Syariah yang telah ikut dalam Program Infaq Beras Santri Mandiri, sehingga dapat membantu anak-anak yatim dan dhuafa agar tetap sehat di tengah wabah Covid-19. Semoga segala sedekah jariyah selalu memberikan keberkahan yang berlipat. Aamiin

Sumber : Mitra Umat Grout

Scroll to top