Qurban

Cerita Dalam Live Streaming Qurban 1442 H

Penyelenggaraan live streaming tahun 2021 dibuka dengan acara simbolis penyerahan hewan qurban dari Bank Syariah Indonesia (BSI) kepada Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU). Penyerahan diwakili kepada 3 masjid yaitu Baitus Masjid Baitus Salamil Ikram yang berada di tol Cipularang KM 88A, Tol Cipali KM 165 dan Gunung Bromo. Serah terima hewan qurban ini juga sekaligus mewakili semua mudhohi yang telah mengamanahkan pembayaran hewan qurbannya melalui BSI.

Sukoriyanto Saputro selaku Direktur Eksekutif Laznas BSMU dalam sambutannya menyatakan, “ Terima kasih kepada para mudhohi/pequrban yang telah mempercayakan hewan qurbannya kepada Yayasan BSMU sebagai lembaga penyalur hewan qurbannya ditahun ini. Semoga momen Idul Adha ini menjadi salah satu langkah terbaik untuk mendapatkan keberkahan dan kemaslahatan seluas-luasnya dan kami doakan agar Bapak/Ibu dan Negeri ini diberikan kekuatan dan keselamatan dalam melewati pandemi.”

Mudhohi Laznas BSMU dapat menyaksikan live streaming dan juga siaran relay penyembelihan hewan qurbannya melalui channel Youtube Laznas BSMU. Live Streaming dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut dari tanggl 21-23 Juli 2021 dimulai dari jam 08.00 sampai dengan selesai. Ada 16 titik potong yang dilakukan live streaming yaitu meliputi wilayah yaitu Bogor, Purbalingga, Kendal, Temanggung, Sleman, Trenggalek, Tuban, Magetan, Banyuwangi, Malang, Lombok NTB, Bima NTB, Ambon Maluku, Rote Ndao NTT, Madiun, Palembang, Bandung, Banjarmasin dan Makassar.

Acara live streaming juga dimeriahkan dengan menghadirkan influencer Umaru Takeda dan Salim Bahanan. Pembacaan kalam ilahi sebagai pembuka acara penyembelihan hewan qurban dilakukan oleh Salim Bahanan. Dalam melaksanakan live streaming, tim lapangan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti : menggunakan masker double, faceshild, baju lengan panjang dan tidak berkerumun.

Salah satu daerah tempat peyembelihan terletak diberbagai daerah sulit terjangkau akses, sehingga awan saja sudah bisa menghilangkan sinyal internet. Terkadang membuat live streaming harus ditunda. Hujan deras yang mengguyur beberapa titik penyembelihan tidak menurutkan tim untuk terus memberikan siaran live streaming terbaik kepada para mudhohi.

Muhsini Aini sebagai penerima manfaat dari Magetan berkata, “Alhamdulillah, semoga semua yang berqurban melalui Laznas BSMU diberikan panjang umur dan diberikan rezeki yang banyak dan berlimpah.”

Penyelenggaraan Penyembelihan Hewan Qurban di Laznas BSMU

Pemerintah telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada tanggal 20 Juli 2021. Pandemi masih menyelimuti perayaan hari besar tersebut. Berdasarkan keputusan Menteri Agama dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2021 yang mengatur pencegahan penyebaran Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaan salat Idul Adha.

Dalam rangka penerapan peraturan tersebut Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU)  memulai penyelenggaraan qurban dari tanggal 11 Dzulhijjah atau 21 Juli 2021. Pelaksanaan dilakukan pada wilayah yang aman dan protokol kesehatan yang ketat. Seperti penggunaan double masker, sarung tangan dan tidak bergerombol di tempat pemotongan.

Salah satu keistimewaan dari qurban di Laznas BSMU adalah para pequrban (mudhohi) dapat menyaksikan secara langsung prosesi pemotongan hewan qurbannya. Sebagai ketentuan bagi yang membeli qurban batas akhir pada jum’at 16 Juli maka akan dapat menyaksikan hewan qurbannyanya tetapi jika lewat dari itu maka tidak bisa menyaksikan. Setiap mudhohi yang memenuhi syarat akan mendapatkan link live streaming H-1 dari hari raya Idul Adha.

Tanggal 21 Juli 2021/11 Dzulhijjah 1442H merupakan awal dari prosesi penyelenggaraan hewan qurban di Laznas BSMU. Acara diawali dengan sambutan dari Heri Gunardi, Direktur Utama Bank Syariah Indonesia dan Sukoriyanto Saputro selaku Direktur Eksekutif Laznas BSMU. Pada pembukaan live streaming juga diserahkan secara simbolis hewan qurban kepada Masjid BSI Cipularang, Masjid BSI Cipali dan Masjid BSI Bromo.

Titik pemotongan tahun 2021 sebanyak 10 daerah dengan 19 Kota/Kabupaten seluruh Indonesia jumlah ini hanya yang dilakukan oleh kantor pusat Laznas BSMU dan belum ditambah dengan titik potong yang berasal dari Unit respresentatif office.

Acara live streaming dimulai pada pukul 08.00 sampai selesai, yang akan dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Live streaming akan dipandu oleh influencer muda yaitu Umaru Takeda dan Salim Bahanan. Untuk menambah kekhusyu’an dari penyelenggaraan penyembelihan hewan qurban maka dibacakanlah surah Al Qur’an oleh Salim Bahanan. Penyelenggaraan penyembelihan hewan qurban di awali dari timur Indonesia yaitu Ambon, Maluku.

Muhsinin Ainil mewakili penerima hewan qurban dari Laznas BSMU menyatakan, “Semoga semua yang berqurban diberikan panjang umur, sehat dan rezeki yang banyak serta baroka. Terima kasih dari warga kaki Gunung Lawu, Magetan”.

Tata Cara Sholat Idul Adha dan Bacaannya

Besok kita akan merayakan hari raya umat islam yang kedua yaitu Hari Raya Idul Adha. Tahun 2021 adalah tahun kedua bangsa Indonesia merayakan Idul Qurban ditengah pandemi virus corona. Ditambah berita buruknya saat ini bangsa Indonesia sedang berada dalam kondisi Siaga 1 Covid-19 gelombang ke dua.

Untuk menekan angka penambahan kasus aktif virus corona pemerintah mengambil kebijakan dengan mengambil keputusan melalui Surat Edaran pemerintah bahwa sholat Idul Adha untuk kawasan di zona merah dengan pemberlakuan PPKM darurat dihimbau untuk melaksanakan sholat Ied di rumah saja.

Apapun kondisinya sholat Idul Adha disunnahkan untuk tetap dilakukan untuk mendapatkan keutamaan hari raya. Bagi yang belum mengetahui tata cara dalam melaksanakan shalat Idul Adha.  

Berikut tata cara sholat Iedul Adha dan bacaannya:

  1. Niat Sholat Idul Adha

أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لِلهِ تَعَــــــــالَى

“Ushallii sunnatan liidil adha rok’ataini (makmuman / imaaman) lillahi ta’alaa.”

Artinya: “Aku berniat salat Iduladha dua rakaat [sebagai makmum / imam] karena Allah ta’ala.”

  1. Membaca takbiratul ihram dan membaca doa iftitah.
  2. Untuk rakaat pertama, dilakukan 7 (tujuh) kali takbir dan di antara tiap takbir itu disunahkan membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhaanallaahi walhamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.

Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.”

  1. Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah dari Alquran yakni Surat Qaf dan surat Al-A’la.
  2. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti sholat biasa.
  3. Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan.
  4. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surt Al Ghasyiyah.
  5. Ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam
  6. Setelah salam, maka disunahkan mendengarkan khutbah Idul Adha.

 

Adapun panduan sholat Idul Adha dirumah merujuk pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.28 Tahun 2020  tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Adha saat pandemi Covid-19.

Berikut panduan sholat Idul Adha di rumah pada masa pandemi:

  1. Shalat Idul Adha yang dilaksanakan di rumah dapat dilakukan secara berjamaah dan dapat dilakukan secara sendiri (munfarid)
  2. Jika shalat Idul Adha dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuannya sebagai berikut:
  3. Jumlah jamaah yang sholat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum
  4. Tata cara shalatnya mengikuti ketentuan shalat berjamaah
  5. Usai shalat Ied, khatib melaksanakan khutbah dengan mengikuti ketentuan khutbah
  6. Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksaan shalat jamaah dirumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat Idul Adha boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah
  7. Jika shalat Idul Adha dilaksanakan secara sendiri (munfarid), maka ketentuannya sebagai berikut:
  8. Berniat Idul Adha secara sendiri yang jika dilafalkan berbunyi : Usholli sunnatan li ‘idil Adha rak’ataini lillahi ta’ala
  9. Dilaksanakan dengan bacaan pelan (sirr)
  10. Tata cara pelaksanaannya mengacu pada tata cara shalat berjamaah
  11. Tidak ada khutbah

Bacaan Niat Untuk Qurban

Berqurban merupakan Sunnah paling utama ketika datangnya bulan Dzulhijjah. Berqurban merupakan cara untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Berqurban merupakan salah satu ajaran yang diwariskan dari nabi terdahulu mulai dari nabi adam, kemudian nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam .

Perintah melaksanakan kurban sendiri telah tertuang dalam Surat Al Kautsar ayat 1-3. Allah berfirman:

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Pelaksanaan kurban hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan terutama bagi yang mampu. Bagi yang mampu tetapi tidak melakukannya hukumnya adalah makruh, tidak disukai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sejak 10 Dhulhijjah sampai 3 hari setelahnya yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau disebut juga hari tasyrik, selain hari ini tidak dinakan sebagai qurban.

Niat Qurban

Sebagaimana amalan lain seperti puasa, sholat, dan zakat, kurban juga dilakukan dengan membaca niat terlebih dahulu. Niat inilah yang menentukan apakah ibadah itu diterima atau tidak oleh Allah Ta’ala.

Mengutip buku Fiqih Qurban Perspektif Madzhab Syafi’iy oleh Muhammad Ajib Lc., MA., niat kurban dapat diucapkan ketika menyembelih. Namun, boleh juga dilakukan dalam hati sejak tanggal 1 Dzulhijjah.

Adapun niatnya adalah sebagai berikut:

نويت أن أاضحي للهِ تَعَالى

Nawaitu an udhahhi Lillaahi Ta’ala.

Artinya: “Saya niat berkurban karena Allah Ta’ala.”

Dilansir dari perkataan Buya Yahya, dalam Mazhab Imam Syafi’I niat tidak wajib untuk diucapkan. Ketika sesorang berniat untuk membeli hewan qurban itu juga bisa disebut sebagai niat qurban.

Bantu Peternak Dhuafa di Idul Adha 1442 H

Idul Adha adalah waktu bagi para peternak panen. Tetapi kondisi tahun ini berbeda, bahkan dengan tahun lalu yang sama-sama dalam kondisi pandemi virus corona. Hal tersebut dikarenakan angka kenaikan kasus positif Covid-19 yang cukup tinggi diakibatkan oleh adanya varian baru yang daya paparnya lebih cepat 6x lipat.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah tidak dapat terelakkan. Dari mulai diberlakukan di Jawa – Bali kini mulai diperluas ke 5 wilayah Sumatra dan Kalimantan. Tak urung hal ini semakin membatasi pergerakan dalam rangka penjualan hewan ternak untuk qurban. Padahal persiapan untuk hewan qurban sudah dimulai sejak 11 bulan yang lalu.

Petugas mendata hewan kurban yang dijual di Pusat Pengadaan Hewan Qurban Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede di Giwangan, Umbulharjo, D.I Yogyakarta, Senin (12/7). Pengelola mengaku saat Pandemi COVID-19 penjualan kambing yang digunakan untuk qurban mengalami penurunan sekitar 50 persen dibanding saat normal dari 400 hewan qurban menjadi 200 hewan qurban dalam satu momentum perayaan Idul Adha.

Dua pekerja memberikan makan sapi qurban yang akan dijual di Dungingi, Kota Gorontalo, Gorontalo, Senin (12/7). Sejumlah pedagang mengaku pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan penjualan sapi yang dijual mulai harga Rp9 juta hingga Rp20 juta per ekor hingga 25 persen.

Tidak hanya pedagang yang terkena imbasnya para peternakpun akan sangat berdampak. Harapan mereka akan mendapat untung yang lumayan menjadi pupus, terutama bagi peternak dhuafa, sehingga angka kemiskinan akan semakin besar.

Program Qurban 1442 H Laznas Bangun Sejatera Mitra Umat membantu peternak dhuafa melalui qurban online. Dengan membeli hewan qurban melalui peternak binaan dari peternak yang tidak mampu. Pembelian langsung ke sentra ternak sehingga kualitas selalu terjamin mutunya. Ibadah qurban selain dapat pahal juga bisa membantu perekonomian masyarakat tidak mampu di desa.

Program ini didukung melalui unit respresentatif office di 8 wilayah yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dan Makassar. Harapannya semakin banyak daerah yang dijangkau, semakin luas kebermanfaatan yang diberikan.

Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Para Pequrban

Nabi Muhammad SAW melarang memotong kuku dan rambut bagi Muslimin yang ingin berqurban. Larangan ini mulai berlaku memasuki bulan Dzulhijjah atau tanggal 1 Dzulhijjah hingga penyembelihan hewan qurban.

 “Jika kalian telah melihat hilal Dzulhijah (yakni telah masuk satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya. (HR. Bukhori)

 Ada perbedaan pendapat yang cukup kuat di kalangan para ulama terkait hukum larangan ini.

Mazhab Syafi’i berpandangan larangan pada hadis di atas bermakna makruh.

Sementara dalam Imam Ahmad dan Ishaq, larangan pada hadis di atas bermakna haram. Pendapat inilah yang dinilai kuat oleh komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (Lajnah Da-imah). (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Rambut yang dilarang dipotong mencakup rambut mubah dan yang mustahab. Rambut mubah maksudnya adalah seluruh rambut yang ada di tubuh kita, yang tidak ada anjuran mencukurnya. Adapun rambut mustahab maksudnya, rambut yang dianjurkan untuk dicukur, seperti kumis, bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak. (Lihat : Bidayatul Faqiih, Karya Dr. Salim Al-Ajmi, hal. 472)

Melansir laman Konsultasisyariah pada Kamis (8/7/2021) disebutkan, kemudian, qurban termasuk jenis ibadah yang pahalanya dapat kita niatkan untuk dibersamakan, seperti berqurban dengan niat diri kita untuk keluarga, atau handai taulan atau yang lainnya. Sebagaimana pernah dilakukan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam saat beliau menyembelih hewan qurban beliau, beliau berdoa,

“Ya Allah ini –qurban– dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud, no.2810 dan Al-Hakim 4:229 dan dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al Irwa’ 4:349).

Dalam hadits dari sahabat Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang dinyatakan,ِ

”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi, ia menilainya shahih, Minhaajul Muslim, Hal. 264 dan 266).

Namun kemudian muncul pertanyaan, larangan memotong kuku dan rambut apakah berlaku juga untuk orang-orang yang dicakupkan dalam niat qurban kita ?

Jawabannya adalah, larangan tersebut hanya berlaku untuk si pengqurban saja, tidak untuk keluarga yang dia niatkan.

Hal ini berdasarkan dzohir hadis berikut,

 “Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim).

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengaitkan larangan memotong kuku dan rambut dengan si pengkurban saja. Yakni yang keluar biaya untuk beli kurban atau yang mengqurbankan hewan qurban piaraannya.

Dalam Fatawa Lajnah Da-imah diterangkan,

Dari hadis di atas tampak jelas, bahwa hadis ini khusus berkenaan dengan orang yang hendak berkurban saja. Adapun orang-orang yang dicakupkan dalam niat kurban, baik dewasa maupun kanak-kanak, tidak ada larangan untuk memotong rambut atau kukunya. Hal ini berdasarkan hukum asal memotong rambut dan kuku adalah mubah. Dan kami tidak mendapati dalil yang menyelisihi hukum asal ini. (Lihat : Fatawa Lajnah Da-imah nomor 1407)

Hukum Berqurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, hal itu berarti kita akan bertemu dengan hari raya kedua umat islam yaitu Idul Adha, dimana disyariatkan untuk melakukan Qurban didalamnya. Tetapi masih banyak pertanyaan dari benak umat muslim, apakah boleh jika berqurban untuk orang yang sudah meninggal. Jumhur ulama berpendapat boleh berqurban untuk orang yang sudah tiada.

Menurut Buya Yahya, hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal adalah sah meskipun orang yang meninggal tidak berwasiat.

Dilansir dari islam.nu.or.id, hukum berqurban merupakan adalah Sunnah muakad. Tetapi khusus untuk Rasulullah saw hukumnya adalah wajib. Jadi jika dalam keluarga sudah ada satu orang yang menjalankannya maka gugurlah kesunahan yang lain, tetapi jika hanya satu orang maka hukumnya adalah Sunnah ‘ain. Kesunnahan berqurban ini ditujukan kepada muslim yang merdeka, baligh, berakal dan mampu.

Beberapa pendapat ulama mengenai hukum berqurban bagi orang yang sudah meninggal, yaitu:

Pendapat pertama, berasal dari mazhab Syafi’i. Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada ketentuan qurban bagi orang yang sudah meninggal, kecuali apabila ia berwasiat ingin berqurban. Jadi, qurban untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan, hanya jika shohibul qurban yang sudah tidak hidup itu pernah mewasatkan. Secara logis, orang yang sudah meninggal memang tidak bisa berqurban, maka lazimnya qurban ini dilakukan oleh keluarganya.

Sementara jika tanpa ada wasiat dari orang yang meninggal maka qurban itu tidak sah. Sebab tidak sahnya qurban untuk orang yang meninggal dijelaskan Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi, ulama dari mazhab syafi’I, dalam kitan Minhaj Ath-Thalibin. Penyebabnya adalah berqurban mensyaratkan adanya niat ibadah. Orang yang sudah meninggal tidak bisa lagi berniat ibadah untuk dirinya sendiri sehingga tidak sah berkurban untuk orang yang sudah meninggal, kecuali jika ia berwasiat atas hal tersebut.

“Tidak sah berqurban untuk orang lain [yang masih hidup] tanpa seizinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiay untuk diqurbani,” (hlm.321)

Pendapat kedua, datang dari para ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbalu yang menyatakan bahwa berqurban untuk orang yang sudah meninggal sah hukumnya karena dimaksudkan sebagai sedekah. Jika qurban untuk orang yang sudah mati dianggap sedekah, maka bersedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya hukumnya sah dan pahalanya bisa sampai kepada yang diqurbani.

Pendapat ini merujuk pada riwayat mengenai qurban yang dilaksanaka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu: “Bahwasanya Ali Radhiallahu Anhu pernah berqurban atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menyembelih dua ekor kaming kibasy. Dan beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallammenyuruhnya melakukan demikan,” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Sesuai Syariat Islam

Idul Qurban 1442 H sebentar lagi akan tiba, banyak persiapan yang harus dilakukan dalam menyambutnya. Termasuk dalam hal tata cara penyembelihan hewan qurban. Agama islam telah mengaturnya secara sempurna yang berkaitan dengan syarat hewan qurban sampai dengan tata cara penyembelihannya. Jika sebelumnya telah dibahas mengenai syarat berqurban kali ini akan diuraikan mengenai tata cara penyembelihan hewan qurban.

Pelaksanaan tata cara penyembelihan yang menurut syariat islam harus difahami, terutama bagi orang yang berqurban atau shohibul qurban saat Idul Adha nanti.

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban yang Benar

Bagi para shohibul qurban (orang yang berqurban), dianjurkan untuk memahami aturan serta tata cara menyembelih hewan qurban yang baik dan benar agar dapat mengambil hikmah dari hewan qurban tersebut.

Adapun tata cara penyembelihannya sebagai berikut:

  1. Menyebut nama Allah

“Dan janganlah kamu sekalian memakan daging binatang-binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am ayat 121)

  1. Membaca Sholawat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Allahumma shalli ala sayyidina muhammad, wa ala ali sayyidina muhammad.”

Menghadap ke arah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih).

  1. Robohkan dengan perlahan hewan qurbanke sisi kiri dengan bagian kepala menghadap ke arah kiblat. Saat merobohkan hewan yang akan disembelih, harus dengan cara yang baik, tidak kasar, tidak dibanting, tidak diinjak, tidak ditarik ekor atau kepalanya.
  2. Kemudian, orang yang menyembelih qurban (dzabih) dianjurkan agar menginjakkan kaki di bagian samping hewan.Para ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan hewan bergerak.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di bagian samping kambing.” (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966 )

  1. Membaca Takbir sebanyak 3 kali bersama-sama.

“Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, walillaahil hamd.”

Setelah membaca ‘Bismillah Allahu Akbar’, penyembelih hewan qurban dibolehkan membaca salah satu di antara bacaan berikut ini:

a. “Hadza minka wa laka.”(HR. Abu Dawud 2795)

b. “Hadza minka wa laka ‘anniatau ‘an fulan (sebutkan nama orang yang berqurban/shohibul qurban)”. Bacaan ini berlaku jika orang yang menyembelih bukan shohibul qurban.

c. Berdoa agar Allah menerima qurban dengan doa, “Allahumma taqabbal minni atau min fulan (sebutkan nama shohibul qurban).”

d. Doa menyembelih hewan qurban sesuai sunnah: “Allahumma haadzihi minka wa ilaika, fataqabbal minnii ya kariim.”(Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu. Dan dengan ini, aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya, Wahai Tuhan Maha Pemurah, terimalah taqarrubku)
Catatan: Tidak ada do’a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak menyembelih hewan qurbannya sendiri.

  1. Tidak memperlihatkan alat potong pada hewan kurban.
  2. Menggunakan pisau yang tajamagar tidak menyakiti hewan kurban.
  3. Syarat sah penyembelihan hewan qurbanharus memutus tiga saluran di leher bagian depan (posisinya di sisi bawah jakun), meliputi; saluran pernapasan atau hulqum, saluran makanan atau mari’, dua pembuluh darah atau wadajaain (dua otot yang ada di samping kanan dan kiri).
  4. Setelah disembelih, hewan qurban tidak boleh diproses lebih lanjut, tidak boleh diikuti, serta tidak boleh dipotong ekornya, kakinya dan kepalanya, kecuali diyakini telah mati dengan sempurna.

“Dari Abu Waaqid Al Laitsy radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Bagian apa saja yang dipotong dari hewan ketika hewannya masih hidup, maka ia adalah bangkai’.” (Hadits Riwayat Abu Dawud dan At Tirmidziy)

  1. Lalu, gantung hewan qurban menggunakan tali yang kuatdi tiang pancang atau pengait secara terbalik dengan kepala mengarah ke bawah. Darah pun akan mengalir keluar dengan lancar untuk mempermudah proses pembagian daging qurban.
  2. Ikat bagian usus dan anussupaya isi lambung dan usus tidak mengotori daging qurban.
  3. Tata cara penyembelihan hewan qurban diteruskan dengan proses pengulitan, dimulai dengan membuat sayatan di tengah sepanjang kulit dada dan perut hingga kaki tengah.
  4. Selesai pengulitan, dilanjutkan dengan membersihkan sisa kotoran di saluran makanan. Pastikan semuanya benar-benar bersih supaya usus dan lambung tidak robek terkena pisau.
  5. Lalu, ambillah bagian dalamnyaseperti hati, ginjal, lambung, usus, paru, limpa, jantung, dan esofagus.
  6. Tempatkan daging hewan qurban yang sudah dipotongrata ke kantong plastik atau wadah, sebelum dibagi kepada orang yang berhak menerima daging qurban.
  7. Bersihkan sisa penyembelihandan buang limbah ke tempat sampah dengan cara membungkus menggunakan plastik atau karung.

Demikianlah tata cara dalam dalam menyebelih hewan qurban sesuai syariat islam. Jika tidak bisa melakukan sendiri, mengamanahkan hewan qurban kepada lembaga yang terpercaya akan lebih baik hasilnya.

Yuk Kenali Syarat Berqurban Menurut Syariat Islam

Idul Adha atau Idul Qurban sebentar lagi akan tiba. Pelaksanaannya terbatas hanya 4 hari saja, yaitu 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah diluar itu tidak dapat disebut qurban namun hanya sedekah biasa. Karena waktunya yang cukup pendek sudah selayaknya kita sebagai umat islam harus mempersiapkannya untuk dapat ambil peranan didalamnya.

Keutamaan dalam berqurban sangat banyak salah satunya mendapatkan banyak kebaikan sebanyak bulu hewan yang dijadikan kurban. Dalam hadist riwayat Imam Abu Daud dari Zaid bin Arqam, dia berkata;

قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِىُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ. قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ. قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ.

“Para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam., ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?. Beliau menjawab; ‘Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Nabi Ibrahim.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?’ Beliau menjawab; ‘Setiap rambut terdapat satu kebaikan.’ Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat satu kebaikan.”

Namun demikian, umat Islam harus memperhatikan syarat sah berqurban. Sebab, jika salah satu syarat tidak dipenuhi, qurban bisa dianggap tidak sah. Apa saja syarat-syarat sah kurban? Berikut penjelasannya:

Syarat Muslim yang Berqurban
Seseorang yang berniat untuk berkurban harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:

Muslim: qurban merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, non muslim tidak memiliki kewajiban untuk berkurban.

Mampu: Perintah berkurban lebih dianjurkan kepada umat muslim yang mampu secara finansial untuk membeli hewan qurban. Seseorang dianggap mampu berkurban jika telah menyelesaikan kewajiban nafkah terhadap keluarganya.

Baligh dan Berakal: Ibadah qurban ditujukan untuk orang dewasa yang berakal sehat. Maka, orang yang belum baligh dan tidak berakal tidak dibebani kurban.

Syarat Hewan yang Akan Dikurbankan

Tidak semua jenis hewan dapat dikurbankan. Hewan-hewan tersebut harus memenuhi persyaratan berikut ini:

  • Hewan ternak (sapi, unta, kambing, atau domba)
  • Cukup umur (kambing harus berusia 1 tahun atau lebih, sapi dan kerbau minimal berusia 2 tahun, dan unta minimal 5 tahun.
  • Kondisi fisik yang prima (sehat, gemuk, tidak cacat, tidak pincang, dan tidak buta)

Lebih Mudah Berqurban Bersama Laznas BSMU

Bagi kamu yang tidak terlalu bisa memilih dan mengerti hewan qurban, Laznas BSMU memberikan solusi cerdas qurban mudah dan sesuai syariah. Kamu hanya perlu tentukan mana hewan qurban yang diinginkan, lakukan transaksi maka akan dilakukan qurban sesuai dengan syariat dan didistribusikan secara tepat.

Syarat qurban yang sah sangat penting untuk diketahui, agar amalan yang dilakukan diterima oleh Allah Ta’ala. Kini ada banyak kemudahan berqurban, salah satunya lewat Laznas BSMU

Qurban dulu atau Bayar Hutang Dulu

Seringkali kita dihadapkan sebuah pilihan berqurban atau membayar hutang terlebih dahulu disaat rezeki hanya bisa untuk memilih salah satunya. Mudah-mudahan tulisan ini  dapat menjadi bahan pertimbangan untuk masalah diatas.

Bersumber dari  yang disampaikan oleh Dr. Oni Sahroni, MA dalam kajian konsultasi syariah yang diadakan oleh LIKES dari Laznas BSMU, terlebih dahulu kita perlu membedah kondisi hutang yang perlu dibayar. Pertama, apakah utang tersebut jatuh tempo atau belum. Kedua apakah kewajiban atau hutang tersebut adalah hutang primer, sekunder atau pelengkap. Kenapa harus dipilah? karena tradisi berhutang untuk sebagian masyarakat nyaris tidak dapat dihindarkan. Kondisi yang sebagian masyarakat atau keluarga kita harus membayar spp bulanan untuk anak-anaknya. Bahkan ada sebagian masyarakat memiliki hutang untuk kebutuhan sekunder, kebutuhan pelengkap. Maka ditengah kondisi tersebut tidak dapat direspon dan dijawab dengan langsung menjawab ‘Ya atau Tidak’. Tapi harus dipilah  kembali menjadi 2 bagian yaitu:

  1. Saat hutang atau kebutuhannya jatuh tempo, kebutuhan hutang yang halal atau primer atau sekunder, maka membayar kewajiban atau hutang didahulukan. Seperti terjadi dalam satu waktu dimana seseorang dalam satu waktu harus membayar hutang kepada pihak lain misalnya 5 juta pada saat yang sama memiliki keinginan untuk berqurban maka membayar hutang kepada pihak lain didahulukan. Contoh ini memperjelas kondisi bahwa hal ini terjadi dalam satu waktu dimana harus didahulukan salah satunya. Hal ini sebagaimana tuntunan hadits Rasulullah SAW, salah satu substansinya adalah menunda-nunda pembayaran kewajiban kepada pihak lain tidak dibolehkan atau makna lainnya membayar dengan tepat waktu itu menjadi kewajiban.
  2. Jika kewajiban atau utangnya itu belum jatuh tempo, pilihan untuk berqurban atau bayar utang tidak pada waktu yang sama, maka berqurban menjadi keutamaannya. Seperti sebagian keluarga kita, setiap bulan memiliki kewajiban seperti setiap tanggal 1 bayar SPP anak-anak, setiap tanggal 5 membayar asuransi pendidikan anak-anak di asuransi syariah, setiap tanggal sekian mengirim nafkah untuk orang tua dan mertua. Dalam perencanaan keuangan keluarga semua ada tanggalnya dan menjadi kewajiban. Dalam kondisi ini, bisa menjadi pilihan dan keutamaan untuk berqurban karena pilihannya dalam waktu yang longgar. Sehingga saat seseorang memilih berqurban di pertengahan bulan dan ia masih bisa berikhtiar untuk menunaikan utang kewajiban seperti spp anak-anak dan lain-lain tepat pada waktunya. Disini berqurban menjadi keutamaan dan pilihan. Keutamaan, fadilah bagi setiap kelurga yang berqurban.

Jadi kesimpulannya, memilih qurban dahulu atau bayar hutang dahulu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Jangan sampai memiliki hutang menjadi sebuah alasan untuk tidak berqurban karena berqurban memiliki banyak keutamaan.

Scroll to top