BWM

Fokus Diskusi Group (FGD) dan Rapat Evaluasi Program LKMS BWM 2019

BSM Umat – Pada hari jum’at tanggal 20 September 2019 bertempat di Gedung OJK Perkantoran BI Jakarta di ruang Rapat  DBPS telah dilakukan Fokus Diskusi Grup (FGD) dan Evaluasi 2019.

FGD melakukan bahasan dan meminta masukan Peserta yang berasal dari Perbankan Syariah, Laznas BSMU selaku pengelola program, Akademisi Kampus, Konsultan Pinbuk dan perwakilan LKMS BWM Lan Taburo.

Menurut Bapak Syukro selaku Kabag Dewan Pengawasan Bank Syariah, bahwa program LKMS BWM akan dinaikkan dari PK (Program Khusus) menjadi Program Intensif Harian sehingga memiliki kewenangan dalam hal struktur organisasi, anggaran dan memiliki kebijakan yang lebih jelas.

LKMS BWM adalah program peningkatan akselerasi Inklusi Keuangan Syariah berbasis Pondok Pesantren. Untuk tahun 2019 direncanakan OJK RI bekerjasama dengan LAZNAS BSMU menargetkan 100 LKMS BWM berdiri di Seluruh Indonesia. Tercatat, hingga dengan akhir Agustus 2019 ini sudah berdiri 54 LKMS BWM. (admin)

LKMS Membuat Hidup Maks Sumik Lebih Baik

BSM Umat – Pekan pertama bulan Maret 2019, tepatnya pada tanggal 01-02 Maret 2019 kami,  tim LKMS Laznas BSM Umat melakukan kunjungan untuk melihat perkembangan LKMS di Kota Kudus Jawa Tengah. Sebutan Kota Kretek berasala dari Kota Kudus yang banyak berkembang usaha rokok kretek merk Nasional yang melegenda. Selain itu, Kudus juga disebut  kota Jenang/dodol  yang terkenal dengan jenang dodol Kudus-nya.

Tim LKMS berkujung ke Pesantren Assa’iddiyah Mejobo kab. Kudus. Kedatangan Tim LKMS Laznas BSM Umat diwakili oleh Bapak Islah selaku Manajer Program disambut hangat oleh Bapak Sofuan selaku Ketua Pengurus dan Bapak Mashuri selaku Manajer LKMS Assa’idiyyah Kudus.

Salah satu warga yang merasa sangat terbantu oleh program ini adalah Mak Sumik. Beliau mendapatkan informasi tentang LKMS melalui pengajian yang rutin diikutinya. Setelah bergabung ke dalam LKMS, Bu Sumik merasa sangat terbantu, ia yang hanya seorang ibu rumah tangga tapi saat ini telah memiliki usaha walaupun masih kecil.

Dengan modal awal yang diberikan sebesar satu juta rupiah, Mak Sumik sudah dapat memulai usaha. Pagi hari menjual nasi dan lauk pauk dilanjutkan disore hari menjual bakso. Semangat mak Sumik dalam merubah nasib terlihat jelas dari kegigihannya dalam menjalankan usaha. Terbukti usaha ini sudah berjalan selama dua tahun dan kondisi ekonominya menjadi semakin membaik.

Mak Sumik sangat bersyukur dan berterimakasih dengan keberadaan LKMS dan semoga LKMS bisa semakin bermanfaat.

Scroll to top