Facebook

sahabat nabi

Tiga Sifat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Perlu Diteladani Umat Muslim

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan khalifah pertama umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada 632 M. Ditunjuknya Abu Bakar sebagai khalifah pertama ini tidak terlepas dari beberapa pertimbangan; teladan sifat beliau.

Pelajaran Hidup dari Sahabat Nabi Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang cukup terkenal. Beliau adalah salah satu sahabat yang pertama kali masuk islam. Abu Bakar juga termasuk orang yang yang dijamin masuk surga.

Digelari As Shiddiq karena beliau adalah orang yang pertama percaya mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj nabi Muhammad SAW. Dialah sahabat yang dinilai paling utama dalam sejarah islam, sehingga beliau menjadi pengganti Rasulullah setelah rasulullah wafat sebagai Khalifah Islam pertama.

Kemuliaan akhlaknya diakui seluruh sahabat nabi lainnya. Kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya untuk membela agama islam sudah tidak diragukan lagi. Kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah umat menjadikan dirinya semakin dipercaya. Ketenangannya Ketika menghadapi kesukaran menjadikan dirinya penolong bagi nabi Muhammad SAW di gua Hira. Kerendahan hatinya Ketika memimpin dan tutur bahasa yang lemah lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya baik dahulu maupun sekarang.

Beberapa keistimewaan beliau adalah karena Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. adalah sahabat nabi yang terkenal karena keteguhan imannya. Rasulullah shallahu alaihi wasallam pernah menyanjung sahabatnya tersebut melalui haditsnya, yaitu “jika ditimbang iman abu Bakar Ash Shiddiq dengan iman sekalian umat maka lebih berat iman Abu Bakar”. Mengapa demikian, diantara jawabannya adalah beliau tidak mencintai dunia ini, cintanya kepada Allah dan rasulnya melebihi apa pun.

Kedermawanan menjadi salah satu sifat yang melekat dalam diri Abu Bakar Ash Shiddiq.

Akhlak mulianya terlihat dari setelah beliau masuk islam. Beliau telah menginfakkan empat puluh ribu dinar untuk kepentingan shadaqah dan memerdekakan budak. Dalam perang Tabuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meminta kepada sekalian kaum muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar radhiallahu anhu membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya diantara dua tangan baginda Rasul. Ini membuktikan Abu bakar merupakan sosok yang rela mengorbankan seluruh harta bendanya untuk perjuangan di jalan Allah.

Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan sahabat yang terkasih dari Rasulullah SAW.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil – kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satupun pintu yang tersisa di (dinding) masjid ini, kecuali pintu Abu Bakar.” Hadits Riwayat Imam muslim dalam Shahihnya di kitab Fadhail Ash Shahabah (lihat Syarh Nawawi/ Juz 8 Hal 7-8)

Keteladanan yang dapat diambil dari Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, adalah :

  1. Memiliki keteguhan keimanan yang sangat kuat, sehingga tidak tergoyahkan oleh apa pun
  2. Memiliki sikap dermawan
  3. Zuhud atau tidak berlebih-lebihan dalam urusan duniawi
  4. Pandai dalam ilmu agama, bersemangat dalam menuntut ilmu dan bersegera mengamalkan ajaran islam Ketika menerimanya
  5. Jujur dan berakhlak mulia

Dengan mengetahui sejarah mengenai sahabat Abu bakar ash shidiq diharapkan kita mampu meneladaninya, menjadikan kita pribadi yang ikhlas, dermawan dan rendah hati. Menjadi pribadi yang jujur, amanah dan bertanggung jawab. Senantiasa bersemangat untuk belajar terutama ilmu agama, walaupun usianya sudah tidak muda lagi ketika masuk islam tetapi semangatnya banyak menginspirasi pemuda islam. Islam telah melatih Abu Bakar menjadi seorang yang berpikir luas, bersikap tegas dan bertindak adil. Pribadi yang suka berjuang di jalan Allah menjadikannya orang yang terkemuka dalam islam.

Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) mengajak meneladani salah satu sikap beliau, yaitu dermawan melalui program 10 ribu untuk sejuta kebaikan. Dengan hanya bermodal sepuluh ribu rupiah akan mampu membantu banyak orang yang membutuhkan. Donasi 10 ribu untuk sejuta kebaikan dapat disalurkan online melalui jadiberkah.id atau bsmu.or.id/sejutakebaikan

Belajar Keuangan Syariah dari Sahabat Nabi Salman Al Farisi

Seorang muslim sebaiknya paham bagaimana cara mengatur keuangan secara syariah. Islam telah menetapkan ajaran-ajaran bagaimana cara seseorang mengatur persoalan finansialnya dalam Al-quran dan Hadist.

Cara mengatur keuangan sangat penting dan erat kaitannya dengan keberlangsungan hidup ke jangka panjang. Kita bisa saja kesulitan di masa mendatang apabila tidak bisa mengatur keuangan dan menabung sejak dini.

Dalam sebuah kisah Islam diceritakan ada seorang lelaki yang terancam finasialnya. Ia adalah Salman Alfarisi radhiallahu anhu, salah seorang sahabat nabi dari Persia. Ia dikenal dengan Formula 1-1-1 yang merupakan rumus mengatur keuangan.

Cerita tersebut berawal ketika beliau mengalami masalah finansial. Beliau tak bisa memberi makan keluarganya. Sepeser uang pun tak punya. Kemudian ia menghampiri Rasulullah untuk berkeluh dan bercerita tentang nasib malangnya.

Setelah mendengar keluhannya, Rasulullah kemudian bertanya apakah ia memiliki sesuatu yang bisa dijual. Kemudian ia memberikan kain yang bisa dijadikan selimut, dan juga gelas yang kemudian akan dijual.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu. “Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?”

Inilah lelang pertama dalam Islam. Lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya seharga dua dirham.

Dari situ, Salman Alfarisi diajarkan mengelola uang yang dimilikinya. Rasulullah menyuruh 1 dirham untuk diberikan kepada keluarga, satu dirham lagi untuk membeli kapak. Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, ia kembali lagi kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian menyuruhnya mencari kayu bakar di hutan dengan kapak tersebut.

Hari berganti hari, ia kembali menghadap Rasulullah dengan senang ia bercerita telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Laki-laki itu tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham digunakan kembali sebagai modal. Dengan pengaturan keuangan seperti itu, ia kemudian sukses memiliki ladang sendiri.

Begitulah awal mudah lahirnya formula mengatur keuangan 1-1-1 dari sahabat Nabi Muhammad SAW, bernama Salman Al Farisi. Formula 1-1-1 tersebut dapat kita tiru di zaman sekarang untuk mengelola keuangan.

Konsep ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan membagi tiga pendapatan yang diperoleh. sepertiga untuk digunakan kebutuhan sehari-hari, sepertiga untuk bersedekah dan sisanya untuk keperluan modal lagi.

Pengaturan keuangan seperti itu dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan keperluan masing masing orang. Misalnya, pembagian tersebut kamu bagi untuk keperluan konsumtif yang rutin dikeluarkan, seperti memenuhi kebutuhan hidup keluarga, biaya pendidikan, hingga keperluan membayar listrik dan air.

Begitu pula pembagian untuk modal, namun kamu adalah karyawan yang tidak membutuhkan modal usaha. Walaupun kamu adalah seorang karyawan atau pegawai, kamu dapat menyisihkan setiap bulan gaji untuk menjadi modal atau membeli aset.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Artinya, kamu menyisihkan untuk menabung atau investasi.

Dengan konsep ini kamu bisa terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan membagi tiga pendapatan yang diperoleh. 1/3 untuk digunakan kebutuhan sehari-hari, 1/3 untuk bersedekah dan sisanya untuk keperluan modal kembali. Jadi, bisa juga disimpulkan bahwa kita perlu memperhatikan 4 hal di bawah ini dalam mengelola keuangan ala Salman Al Farisi, yaitu :

  1. Sisihkan Untuk Modal

Islam menganjurkan umatnya untuk berdagang dalam mencari nafkah. Oleh karena itu, Islam juga menganjurkan untuk menyisihkan pendapatan yang diperoleh dari berdagang untuk modal kembali. Jangan sampai uang hasil berdagang digunakan semuanya untuk membeli kebutuhan konsumtif.

  1. Menabung

“Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (H.R Bukhari)⁣

Dengan menabung Anda akan memiliki cadangan uang yang akan bisa digunakan kapan saja. Mulailah menabung sedikit demi sedikit⁣

  1. Sedekah

Salah satu cara untuk mensucikan harta adalah dengan bersedekah. Hal ini dilakukan karena dalam islam 2.5% dari rezeki yang Anda terima ada hak orang lain di dalamnya. Oleh sebab itu sisihkan lah pendapatan yang diterima per bulannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan lewat berbagai macam badan penyalur sedekah.

  1. Hindari Berhutang

Utang memang kadang kala menjadi penyelamat finansial di saat darurat. Namun, kenyataannya dalam Islam tidak dianjurkan untuk berhutang jika tidak benar-benar membutuhkan. Artinya, jika Anda masih bisa berusaha untuk membayar sesuatu, janganlah berhutang.

Kisah Hijrah Mushab Bin Umair Menjadi Pribadi Luar Biasa

Pemuda hijrah itu bernama Mush’ab bin Umair, merupakan salah satu sahabat nabi yang paling utama. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.  Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.”

Mush’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungan serba berkecukupan. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?

Baca juga : Keteladanan Bisnis Dari Utsman Bin Affan

Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur’an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush’ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya, bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Alquran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, ketika melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang itu kian berwibawa. Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab tak jadi menyakiti putranya. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habasyah melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Makkah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush’ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Baca juga : Meneladani Kesuksesan Bisnis Abdurrahman Bin Auf

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, “Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush’ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah.

Mush’ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum Muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Mush’ab memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka. Demikianlah duta Rasulullah yang pertama itu telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.

Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush’ab hingga putus, sementara Mush’ab meneriakkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Maka Mush’ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!”

Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, “Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”

Sumber : https://www.republika.co.id/berita/lqdi5w/kisah-sahabat-nabi-mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama

Keteladanan Berbisnis Dari Utsman bin Affan

Jum’at 30 Juli merupakan hari persahabatan sedunia. Dalam islam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mencontohkan persahabatan yang terbaik, yaitu persahabatan karena Allah. Dengan memiliki sahabat-sahabat yang baik tentu akan lebih mudah dalam menuju cita-cita. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggalkan generasi yang terbaik untuk menyebarkan nilai-nilai islam yang sempurna.

Untuk mempelajari nilai-nilai luhur tersebut Laznas BSMU mengadakan pembinaan keislaman dalam program Islamic Social Development Program. Bertepatan dengan Hari Persahabatan Se-dunia, pembinaan keislaman kali ini dibahas mengenai salah satu kisah sahabat nabi yang bernama Utsman bin Affan. Pesertanya terdiri dari penerima beasiswa ISDP yang terdiri dari beberapa kampus yaitu UNAIR dan UNAND, IPB, UGM,  UNHAS, UIN Jakarta dan STEI SEBI.

Dimulai sejak awal pagi yaitu setelah sholat subuh, diharapkan kajian ini mampu dapat menjadi awal hari yang lebih baik. Narasumber kali ini adalah Abdul Fattah Ismail Farras Founder dari Huda Institute (@hudainstitute ) dan berbagai aktifitasnya yang luarbiasa lain. Walaupun acara telah dimulai dari ba’da subuh tapi tidak mengurangi antusiame dari peserta, dilihat dari jumlah yang hadir sebanyak 33 orang.

Dalam kisah Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam karena beliau juga memiliki hubungan nasab yang dekat kepada rasulullah. Yaitu Bibi Rasulullah yaitu Ummu Haqiim adalah nenek dari sahabat Utsman bin Affan. Beliau juga merupakan Assabiqul Awwalun dalam memeluk agama islam tepatnya adalah laki-laki yang keempat. Beliau juga termasuk sahabat yang telah dijanjikan syurga walaupun dirinya masih hidup.

Beliau juga merupakan sosok yang yang berjasa dalam menyatukan Al-Quran dalam satu mushaf. Dalam kekhalifan Abu Bakar Ashshidiq dan Umar bin Khattab beliau juga memiliki peran yang penting. Sahabat Utsman bin Affan mendapatkan gelar Zunnurain sosok yang memiliki dua cahaya karena beliau menikah dengan dua putri Rasulullah. Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu mengenal islam di usia 30-an melalui Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.

Dalam pertemuan ini akan dibahas mengenai bagaimana Utsman menjalankan bisnisnya. Utsman bin Affan berasal dari keluarga yang berada, walaupun demikian ketika berhijrah hanya membawa satu pedang saja. Walaupun tidak bermodalkan harta tapi beliau termasuk orang yang cepat dalam memiliki harta ketika berda di Madina. Sehingga beliau termasuk orang yang banyak berinfak untuk kepentingan umat islam.

Ada beberapa kunci sukses yang dilakukan oleh Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu dalam menjalankan bisnisnya:

  1. Menjalani dan mengawasi bisnisnya sendiri secara langsung. Walaupun sudah memiliki banyak anak buah tapi beliau tidak pernah melepaskan bisnisnya kepada pegawainya. Beliau bertemu langsung dengan pelanggan, melihat masalah secara langsung dan dapat memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggannya.
  2. Mengalokasikan sebagian keuntungannya untuk pengembangan bisnis , tidak dihabiskan keuntungannya untuk dipakai.
  3. Tidak pernah meremehkan keuntungan sedikitpun. Tujuannya adalah ketika berbisnis adalah mendapatkan customer dan adanya perputaran barang. Semakin banyak customer dan memiliki hubungan baik dengan customer membuat bisnisnya terus berjalan.
  4. Tidak membeli/menjual barang-barang yang kadaluarsa. Selalu menjual yang dibutuhkan oleh pembeli.
  5. Tidak menaruh seluruh hartanya dalam satu dagangan saja. Sehingga bisnisnya menjadi terus bertumbuh.

Ini adalah 5 tips berdagang dari Utsman bin Affan.

Utsman bin Affan menjadi khulafur rasyidin selama 13 tahun, senantiasa mendengarkan keluhan orang dan sewaktu musim haji turut berkumpul dengan orang-orang sehingga dapat mendengarkan masukan melalui orang-orang islam yang berdatangan dari penjuru islam.

Dalam pertemuan Aprilia Evianti selaku Manager Development Implementation Group berpesan, “Banyak hikmah yang telah Allah berikan dengan pandemi ini, tetapi banyak ayat-ayat dalam Al qur’an yang menyatakan bahwa tidak perlu khawatir karena orang beriman masih punya Allah. Namun, kita perlu memastikan bahwa apa yang kita jalani diridhoi Allah dengan cara yang Allah inginkan.”

Ramadan, Sikap Dermawan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Sahabat Meningkat

Laznas BSM Umat – Hikmah yang terkandung dalam bulan Ramadhan adalah tentang sikap kedermawanan seseorang. Bulan yang penuh berkah ini, jika disusur dari kisah nabi, para sahabat dan orang-orang saleh setelahnya, banyak sikap kedermawanan yang bisa dijadikan contoh.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan misalnya, digambarkan dalam hadist-hadist shahih adalah figur yang berada di garda depan dalam aspek kedermawanan. Anas bin Malik memberi kesaksian, “Rasulullah adalah orang yang paling berani dan sangat dermawan.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam “Shahiih” Bukhari dan Muslim, digambarkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan di bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril di tiap malam. Dengan sangat puitis, kedermawan sang nabi digambarkan laksana angin yang berhembus.

Dalam catatan Ahmad bin Hanbal ada tambahan menarik, siapapun yang meminta sesuatu kepada beliau di bulan suci ini pasti diberi. Pada realita sehari-hari, memang selama beliau punya, tidak pernah menolak permintaan siapapun.

Begitu pentingnya nilai kedermawanan ini, tak lupa beliau tuangkan dalam pesan verbal, “Barangsiapa yang memberi makan (untuk berbuka) bagi orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi ganjaran puasanya sedikit pun.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bila dibahasakan dengan bahasa saat ini adalah berbagi takjil dan makanan berbuka. Para sahabatnya pun meneladani kedermawanan beliau di bulan Ramadhan. Salah satu contohnya adalah Abu Bakar Ash-Siddiq RA. Beliau ini adalah sahabat yang bisa masuk surga dari berbagai pintu. Bapak Aisyah Ra ini adalah sahabat yang terdepan dalam ladang amal kebaikan, terkhusus dalam hal kedermawanan.

Menurut catatan sejarah, beliau pernah menginfakkan seluruh hartanya untuk kepentingan perjuangan Islam. Ketika berpuasa, seperti riwayat Muslim, beliau mampu mengamalkan banyak amalan, di antaranya ziarah, memberi makan orang miskin, menjenguk orang sakit.

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam tafsirnya (1422: II/176) menyebutkan contoh kedermawanan sahabat lainnya. Figur agung seperti Abdullah bin Umar Ra tidak akan berbuka melainkan bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Artinya, setiap hari beliau menyiapkan makanan berbuka untuk anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Orang-orang setelah para sahabat juga mempraktikkan kedermawanan di bulan Ramadhan. Dalam sejarah digambarkan bahwa sosok agung sekaliber Imam Az-Zuhri ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau berujar, “Bulan Ramadhan adalah bulan untuk membaca Alquran dan berbagi makanan.” (Ibnu Rajab, 2004: 171). (dari berbagai sumber)

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari