Facebook

pengelolaan ziswaf

Bagaimana Hukumnya Bayar Zakat Dengan Uang Elektronik ?

Penggunaan uang eletronik saat ini menjadi hal yang populer di masyarakat. Untuk meningkatkan campaign cash less society, pemerintah  mendorong  menggunakan uang elektronik sebagai salah satu bentu efisiensi. Berbagai kebutuhan saat ini dapat dilakukan menggunakan uang elektronik.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri masih ada keraguan menjalankan syariat islam dalam hal ini zakat menggunakan e-money. Menjawab keresahan tersebut Ustadz Oni Sahroni yang merupakan Dewan Pengawas Syari’ah Bank Syariah memberikan penjelasan sebagai berikut.

Berzakat dengan top up e-money, apa hukumnya? Misalnya si A berzakat fitrah dengan men-top Up sebesar Rp35ribu dari saldo e-money yang dimilikinya ke e-money seseorang yang dianggap mustahik (penerima zakat). Dengan top up tersebut, dana Rp 35 ribu tersebut telah diterima penerima.

Dengan tambahan saldo e-money nya si penerima bisa menggunakannya untuk berbelanja dan membeli kebutuhan primer atau sekunder atau pelengkap. Intinya, berzakat dengan top up e-money itu persis sedekah dengan voucer. Dengan e-money atau voucer yang diterimanya, penerima bisa menggunakannya untuk berbelanja atau membeli kebutuhan yang ia perlukan.

Dari aspek fikih, berzakat dengan top up e-money ini perlu dipastikan beberapa hal. Pertama, top up saldo e-money tersebut diberikan kepada yang berhak (mustahik/penerima zakat). Karena itu, tidak boleh memberikan kepada selain dhuafa saat donasi yang diberikan adalah zakat fitrah. Begitu pula tidak diperbolehkan memberikan kepada selain delapan kelompok penerima zakat saat donasi yang diberikan adalah zakat maal.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin” (Qs. Attaubah: 60). Sebagaimana hadis :”Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah, memberi makan orang-orang miskin”. (HR. Abu Dawud)

Kedua digunakan untuk kebutuhan mendasar yang halal. Maksudnya, penerima menggunakannya untuk kebutuhan yang baik dan hajat primernya.

Ketiga, diprioritaskan menggunakan e-money yang sesuai dengan syariah sebagai objek zakat karena yang dizakatkan itu harus halal. Saat ini, diantara e-money yang digunakan masyarakat, khususnya e-money server base, sudah ada yang mendapatkan izin operasional dari otoritas sebagai e-money yang beroperasi sesuai ketentuan dalam fatwa DSN MUI No.116/DSN-MUI/IX/2017 tentang uang Elektronik Syariah. Maka, jika masih memungkinkan, menggunakan e-money yang sudah mendapatkan izin operasional dari otoritas sebagai e-money syariah sebagai zakatnya itu lebih baik (prioritas). Namun, jika tidak memungkinkan, dibolehkan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, selain halal, juga aspek resiko (aman penggunaannya) ini menjadi pertimbangan. Jika tuntunan tersebut sulit diwujudkan dalam kondisi dan daerah tertentu, menyalurkan melalui Lembaga zakat yang resmi dan professional bisa menjadi salah satu solusi. Wallahua’lam.

Pada tahun ini, Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) mempunyai campaign berbagi kebaikan dengan Rp5 ribu rupiah. Dengan campaign ini, masyarakat bisa melakukan donasi minimal Rp5 ribu bisa digunakan untuk membantu masyarakat di berbagai program pemberdayaan umat melalui https://www.bsmu.or.id/gohappy/

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari