Facebook

hutang puasa dalam islam

Panduan Bayar Hutang Puasa yang Benar Menurut Islam

Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap orang muslim. Puasa Ramadhan adalah rukun islam yang ketiga setelah shalat. Kewajiban puasa tersebut sebagaimana firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 183, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Kewajiban puasa sudah ada sejak umat terdahulu, namun puasa Ramadhan baru disyariatkan pada umat nabi Muhammad SAW. Seseorang diwajibkan puasa bila memenuhi syarat yaitu; beragama islam, sudah akil baligh, berakal, sehat atau tidak dalam keadaan sakit, suci dari haid dan nifas, tidak sedang safar dan mampu berpuasa.

Orang dalam syarat tersebut diatas apabila memiliki sebuah halangan Allah memberikan rukhshah atau keringanan untuk mengganti puasanya di kemudian hari. Penggantian puasa tersebutlah yang dinamakan sebagai hutang puasa. Adapun orang yang mendapat keringanan dalam berpuasa sudah diatur dalam surah al Baqarah ayat 184 yakni:

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dalam Tafsir Quraish shihab dijelaskan :

Allah mewajibkan kalian berpuasa di hari yang terbatas hitungannya. Seandainya saja berkehendak, maka Dia akan menambah jumlah hari-hari itu, akan tetapi Allah tidak akan memberi hamba-Nya dengan pekerjaan yang berada di luar batas kemampuannya. Maka barangsiapa yang sedang sakit dan puasa akan membahayakan dirinya atau sedang dalam perjalanan, maka mereka boleh tidak berpuasa pada hari itu tapi wajib menggantinya di hari lain saat sembuh atau sekembali dari perjalanan.

Adapun mereka yang tidak mampu berpuasa kecuali dengan susah payah–bukan karena alasan sakit atau bepergian, tapi oleh alasan yang bersifat tetap seperti usia lanjut atau penyakit yang tidak bisa diharap kesembuhannya–mereka itu boleh tidak berpuasa. Sebagai gantinya mereka diwajibkan memberi makan orang-orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu untuk dimakan. Barangsiapa melakukan puasa sunnah sebagai tambahan atas puasa yang wajib, itu baik bagi dirinya karena puasa itu selamanya baik bagi yang memahami hakikat ibadah.

Dengan demikian puasa yang tidak bisa di lakukan oleh karena alasan yang sudah ditentukan tersebut diatas dapat dibagi dua yaitu hutang puasa yang dapat dibayar dengan puasa dihari yang lain (Qodho) dan hutang puasa yang dibayar dengan fidyah.

Buya Yahya menjelaskan ada 8 golongan yang membayar qodho atau fidyah.

  1. Anak kecil, yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Maka, tidak diwajibkan Qodhon maupun membayar Fidyah atasnya.
  2. Orang gila yang tidak disengaja, juga tidak wajib untuk meng Qodho maupun membayar Fidyah karena meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Namun, perlu digaris bawahi ketentuan tersebut berbeda dengan ketentuan orang yang gila karena disengaja. Orang yang gila karena disengaja, wajib meng Qodho puasanya dan tidak wajib membayar Fidyah atasnya.
  3. Orang yang sakit, adanya keringanan bahwa orang yang sakit boleh meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, namun tetap diwajibkan untuk menggantinya ketika sembuh. Tetapi apabila sakitnya tidak ada harapan sembuh. Maka, cukup membayar Fidyah sebagai ganti.
  4. Orang yang tua, yang juga diperbolehkan untuk meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Tetapi diwajibkan atas dirinya untuk menggantinya di lain waktu.
  5. Orang yang bepergian, juga dibolehkan untuk meninggalkan puasa dan diwajibkan untuk menggantinya.
  6. Orang yang hamil dan menyusui, boleh meninggalkan puasa ramadhan dengan beberapa ketentuan. Apabila meninggalkan puasanya karena, khawatir akan dirinya sendiri. Maka hanya wajib mengQodho puasanya tanpa membayar Fidyah. Sedangkan apabila meninggalkan puasa karena khawatir akan dirinya dan bayinya. Maka hukumnya hanya wajib mengQodho puasanya tanpa membayar Fidyah. Tetapi, apabila yang dikhawatirkan hanya bayinya. Maka, diwajibkan atasnya meng Qodho puasa dan membayar Fidyah.
  7. Orang yang haid, dilarang untuk menjalankan puasa dibulan Ramadhan, namun diwajibkan untuk mengQadha puasanya di lain waktu.
  8. orang yang nifas, juga boleh meninggalkan puasa Ramadhan, tetapi diwajibkan atasnya untuk menggantinya.

Demikianlah beberapa golongan yang boleh meninggalkan puasa ramadhan dan ketentuan-ketentuannya. Dengan penjelasan ini semakin mempermudah memahami mengenai mana yang harus di qodho dan membayar fidyah.

Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (YBSMU) menerima fidyah untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Didistribusikan dalam bentuk makanan siap santap ataupun beras yang siap untuk dimasak. Dengan membayar fidyah sekaligus membantu masyarakat yang saat ini sedang menghadapi kesulitan dalam pemenuhan makanan.

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari