Facebook

Literasi ZISWAF

Panduan Pembayaran Fidyah dan Qadha untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Ketika ada pertanyaan saat ibu hamil dan menyusui memilih untuk tidak berpuasa apakah kompensasinya fidyah atau Qadha, sesungguhnya ada 3 pendapat, yaitu :

  1. Fidyah saja, ibu cukup membayar fidyah saja tanpa perlu meng-qadhanya, ini adalah pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas
  2. Qadha saja tanpa fidyah, kebalikan dari pendapat yang pertama. Ini adalah pendapat imam Abu Hanifah, Abu Ubaid dan Abu Tsaud dan termasuk murid-murid Abu Hanifah.
  3. Keduanya, membayar fidyah dan juga qadha puasa.  Pendapat inilah yang dikenal dengan pendapat Imam Asy Syafi’i.

Kesimpulkan dari tiga pendapat tersebut ditegaskan kembali oleh Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid Wanihayul Muqtashid dalam halaman 241.

Ibnu Rusyd memberitahukan adanya perbedaan dari ketiga pendapat tersebut, yaitu ulama yang menganalogikan ibu hamil/menyusui dengan orang yang tidak kuat berpuasa (orang yang memiliki sakit kronik, manula yang tidak mampu puasa) maka diputuskan bayar fidyah saja.

Sedang yang menganalogikan ibu hamil/menyusui dengan orang sakit saja bukan manula bukan sakit kronik berarti memasukkannya ke dalam mazhab qadho.

Sehingga disini disimpulkan bagi ibu hamil dan menyusui terbuka pilihan untuk membayar fidyah saja atau qadha saja atau bahkan keduanya dijalankan juga boleh. Hal ini berdasarkan dengan kemampuan keuangan, kemampuan fisik, maslahat dan yang lebih menenangkan.

 

Fidyahnya itu seperti apa?

Orang yang membayar fidyah harus dengan standar apa yang biasa dimakannya bukan standar makan dhuafa. Jika para dhuafa biasa makan senilai lima ribu rupiah, sementara yang bayar fidyah biasa makan di rumah makan maka yang menjadi rujukan adalah nilai makan di rumah makan.

Disimpulkan bahwa fidyah itu adalah makanan sehat dan mengenyangkan dalam bahasa lainnya empat sehat lima sempurna. Jika disajikan dalam nasi kotak harus ada nasi, daging, sayuran dan buah-buahan.

Dewan Syariah di Laznas BSMU memilih dua puluh lima ribu sebagai ambang batas minimum untuk membayar fidyah dalam satu hari.

Contohnya, ada seorang ibu hamil meninggalkan puasa selama satu hari di bulan Ramadhan maka yang bisa dilakukan dalam memilih fidyah adalah menyediakan makanan siap santap satu kotak senilai dua puluh lima ribu yang diberikan kepada dhuafa atau dhuafa diundang ke rumah atau diajak makan di restoran bisa juga dengan dibelikan sembako yang terdiri dari minyak goreng, beras dan makanan lainnya senilai minimum dua puluh lima ribu, lebih dari itu diperbolehkan.

Bisa juga lebih mudah lagi dengan cara di transfer ke lembaga zakat seperti Laznas BSMU, amanhnya adalah dibelikan makanan siap santap atau sembako yang diberikan kepada dhuafa.

 

Pertanyaan :

Saya hamil menyusui dua anak berturut-turut karena jarak anak yang dekat belum waktunya menyapih sudah menyusui lagi. Sekarang sedang hamil anak ketiga dalam usia enam bulan. Hutang puasa sebelumnya belum lunas di qadha, sebaiknya saya harus bagaimana?

Jawaban:

Jika memilih fidyah saja tidak masalah, jika dengan berpuasa dapat mengurangi kualitas ASI dan lain-lain maka dapat membayar hutang puasa dengan fidyah saja itu diperbolehkan. Caranya dengan membayar fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan, misalnya 11 hari ditinggalkan, maka perhitungannya : 11 x Rp 25.000= Rp 275.000

Pendapat yang kedua harus membayar double, selain membayar fidyah juga membayar kafarat karena lalai, punya hutang yang seharusnya dibayar tahun lalu tapi belum dibayarkan.

Jadi yang dibayarkan menjadi 2 x fidyah atau lima puluh ribu rupiah (Rp 50.000) terdiri dari fidyah dan kafarat.

Memilih salah satunya diperbolehkan atau memilih pendapat yang kedua dengan membayar kafarat akan lebih baik karena sangat bermanfaat bagi para dhuafa yang saat pandemi sekarang sangat membutuhkan bantuan.

Perkataan dari Sayyidah ‘Aisyah, jika memiliki hutang puasa ia mengatakan pada saat Sya’ban sudah tidak memiliki hutang.

Walaupun di Indonesia merupakan penganut Mazhab Syafi’I tetapi para ibu diperbolehkan untuk memilih mana yang lebih mudah untuk membayar hutang puasa. Hal ini tidak termasuk dalam memudah-mudahkan dalam menjalankan agama karena ada alasan yang syar’i untuk menjalankannya.

Narasumber: Ust. Dr. Oni Sahroni – LIKES

6 Tips Mengelola Uang THR Agar Optimal, Kuncinya Zakat dan Sedekah

Bagi sebagian besar tenaga kerja di Indonesia, bulan puasa identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Mulai dari pegawai swasta hingga pegawai negeri sipil, baik karyawan kontrak maupun tetap, semua pasti menantikan tanggal pencairan THR.

Mau Bayar Zakat Fitrah? Pakai BSI Mobile Aja Gaiss!

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan disebutkan secara beriringan dengan kata shalat pada delapan puluh dua ayat di dalam AlQur’an, Allah mewajibkan zakat  sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, dan Sunnah rasul-nya, dan kesepakatan ulama kaum Muslimin.

Kata zakat secara bahasa mempunyai arti bertambah, berkah dan bertambahnya kebaikan. Dan kadang juga bermakna menyucikan, sedangkan menurut istilah zakat merupakan sebuah nama bagi suatu harta tertentu yang wajib diberikan kepada golongan tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula.

Pada bulan Ramadhan umat islam seluruhnya diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Selama ia mendapati bulan Ramadhan, dalam keadaan merdeka dan memiliki kelebihan rezeki maka baginya wajib menunaikan zakat fitrah. 

Landasan hukum zakat fitrah

Dari Ibnu Umar Ra, beliau berkata: Nabi Saw mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma dan gandum kepada setiap muslim laki-laki dan perempuan, baik merdeka atau budak. (HR. Bukhari No. 1504).

Dari sahabat Ibnu Abbas Ra, beliau berkata: “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari senda gurau dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberi makanan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id, maka zakatnya diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka terhitung sedekah biasa” (HR. Ibnu Majah No. 1827).

 

Batas Akhir Zakat Fitrah

Membayar zakat fitrah sebelum batas akhirnya memiliki keunikan tersendiri yaitu muzakki menjadi membantu mustahik yang ingin membayar zakat melalui zakat yang ditunaikannya. Sehingga orang yang tidak mampu terhindar dari perasaan gelisah menghadapi hari raya.

Saat ini Laznas BSM Umat sebagai Lembaga ZISWAF yang terpercaya telah membuka pelayanan zakat fitrah dari awal Ramadhan. Caranyapun sangat mudah bisa melalui https://www.bsmu.or.id/dashboard/layanan-zakat-fitrah/ atau layanan dalam BSI Mobile.

Adapun cara membayar zakat fitrah melalui BSI Mobile adalah sebagai berikut:

1. Login terlebih dahulu ke akun BSI Mobile

2. Anda pilih menu Berbagi – Ziswaf

3. Pilih Zakat Fitrah, Kemudian masukkan kata sandi untuk melanjutkan pembayaran

4. Pilih no rekening yang akan digunakan (jika kamu memiliki lebih dari satu rekening)

5. Pilih Laznas BSM Umat sebagai lembaga penyalur zakat fitrah

6. Pilih berapa jiwa yang akan dibayarkan zakat fitrahnya (50 ribu perjiwa karena beras yang disalurkan adalah beras yang premium)

7. Masukkan pin BSI Mobile Anda

8. Pembayaran Zakat fitrah selesai

Laznas BSMU akan memberikan report penyaluran zakat fitrah melalui slider yang ada di BSI Mobile, website bsmu.or.id dan IG Laznas BSMU. Laporan sebagai bentuk bentuk transparansi dalam penyaluran zakat fitrah. Kemudahan ini menjadi solusi bagi setiap orang yang ingin membayar zakat fitrah.

Raih Pahala Tanpa Batas Dengan Tunaikan Zakat Mal di Ramadhan 1443 H

Bulan Ramadhan adalah nikmat yang tak terhingga yang Allah berikan kepada umat muslim, bahkan bagi non muslim pun turut merasakan nikmatnya. Bulan Ramadhan mempunyai banyak keutamaan dan kemuliaan. Keberkahan pada bulan Ramadhan merupakan anugerah dari Allah SWT kepada seluruh umat Nabi Muhammad SAW sebagai bulan ibadah dan amal kebaikan yang Allah SWT lipat gandakan pahalanya bagi siapapun yang mengisinya dengan ibadah dan amal shaleh.

 

Ibadah puasa yang dilaksanakan  oleh umat Islam di seluruh dunia ini merupakan ibadah yang istimewa. Ibadah puasa di bulan Ramadhan sangat berbeda dengan ibadah lain. Sebab puasa adalah ibadah rahasia. Artinya  hanyalah orang berpuasa  dan Allah saja yang mengetahuinya.

Covid memberikan banyak sekali hikmah. Ramadhan kali ini berbeda dari tahun sebelumnya yang terasa sedikit mencekam. Banyak orang menjadi hijrah menuju kebaikan karena Covid, sehingga sayang sekali jika kesempatan yang Allah beri kembali ini dilalui dengan biasa saja dan begitu-begitu saja.

 

Umat muslim dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan karena disini setiap amal kebaikan diganjar pahala berganda. Rasulullah juga mewanti-wanti umat islam untuk berbuat kebaikan bukan sebaliknya yaitu melakukan kemaksiatan.

 

Rasulullah SAW: “Maka berhati-hatilah kalian pada bulan Ramadhan, sesungguhnya kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan itu dilipat gandakan pada apa-apa yang tidak dilipat gandakan dalam selain bulan Ramadhan, demikian pula kejelekan-kejelekan (juga dilipatgandakan),” (HR Thabrani).

 

Berbuat baik bisa dilakukan dengan tenaga maupun harta, tetapi harta menjadi sangat dinanti bagi yang membutuhkan. Caranya bisa dengan bersedekah sunnah yaitu infaq dan sedekah wajib yaitu zakat. Berinfaq kita bisa mengeluarkan kemampuan yang kita miliki, memberikan yang lebih banyak dan ikhlas menjadi nilai tersendiri di mata Allah.

 

Zakat adalah salah satu cara menambah keberkahan harta, namun bagi yang baru hijrah mungkin akan kesulitan menghitung zakat yang dimilikinya. Laznas BSMU memberikan solusi untuk kesulitan tersebut dengan mengunjungi halaman kalkulator zakat. Kalkulator zakat bsmu.or.id dapat menghitung zakat penghasilan, zakat emas atau logam mulia lainnya dan zakat perak. Bisa juga membayar zakat mal melalui aplikasi BSI Mobile.

 

Kalkulator Zakat ini merujuk pada Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Syarat Dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal Dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif.

 

Laznas BSMU akan menyalurkan dana zakat Anda dalam usaha produksi seperti membantu perekonomian pedesaan dalam klaster pertanian, peternakan dan perikanan. Selain itu juga membantu pelaku usaha UMK dan pelajar agar tetap bisa bersekolah.  Donasi zakat di bulan Ramadhan dapat dilakukan melalui https://www.bsmu.or.id/dashboard/zakat-penghasilan-emas-perak-dll/

Pembayaran Zakat Perusahaan BSI Mencapai Lebih dari Rp122,5 Miliar, Terbesar Dalam Sejarah

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) membayar zakat perusahaan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebesar lebih dari Rp122,5 miliar. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan pembayaran zakat BSI pada tahun lalu yang sebesar Rp94 miliar.

Selama Ramadhan, BSI Bersama dengan Laznas BSMU Gelar Ngaji Bareng & Sharing

Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (Yayasan BSMU) berkolaborasi bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., mengadakan acara “NGABRING” (Ngaji Bareng & Sharing). Kegiatan ini akan berlangsung dua minggu sekali dengan mengajak para pemirsanya menjadi sahabat finansial, sosial, dan spiritual. NGABRING Ramadhan tahun 1443 H/2022 mengangkat tema besar “RAMADHAN & HALAL LIFESTYLE”.

 

Ahad 10 April 2022 telah dilaksanakan kajian perdana dengan tema “Agar Puasamu Tidak Sia-sia”. Memilih waktu pelaksanaan mulai dari ba’da subuh sampai pukul 07.00 memiliki tujuan sebagai sarana untuk mengoptimalkan bulan Ramadhan. Kegiatan dilaksanakan melalui webinar dan sekaligus disiarkan langsung melalui youtube LAZNAS BSM Umat.

 

Hadir dalam acara ini sebagai nara sumber adalah Direktur Marketing and Communication Risyad Iskandar dan Ustadz Hilman Fauzi. Acara ini juga diikuti oleh nasabah BSI dan masyarakat umum.

 

Dalam sambutannya Risyad Iskandar menyampaikan, LAZNAS BSMU adalah sebuah lembaga pengelola dana ZISWAF nasional yang menjadi mitra strategis PT Bank Syariah Indonesia Tbk Kolaborasi ini membuat kami terus berusaha mengoptimalisasi dana ZISWAF yang ditujukan untuk berbagai kemaslahatan dan salah satunya untuk penguatan industri ekonomi dan keuangan halal.

 

Sebagai lembaga yang memiliki visi sebagai lembaga yang terpercaya terdepan dan LAZNAS BSM Umat menyediakan berbagai program kemaslahatan, diantaranya program berbagi paket berbuka dan sahur, program sembako lebaran, zakat mal, fidyah dan fitrah serta terkait dengan kegiatan protokol kesehatan yang sudah mulai dilonggarkan pada Ramadhan ini, kami juga melakukan program layanan mudik di beberapa titik masjid yang dikelola oleh PT Bank Syariah Indonesia yang bekerjasama dengan LAZNAS BSM Umat.

 

“Terima kasih kepada bapak/ibu dan seluruh hadirin yang telah berkenan mempercayakan  donasi untuk seluruh program-program kami di LAZNAS BSM Umat. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan, keberkahan dan kemudahan dalam setiap langkah dan upaya kita,“ ujar Risyad Iskandar.

 

Ustadz Hilam Fauzi menyampaikan, puasa adalah tanda keimanan kepada Allah. Jangan sampai ramadhan menjadi sebuah ritual saja, sehingga tidak mendapatkan impact dari ramadhan. Puasa yang berkualitas akan menghantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

 

Ada 5 dimensi nilai puasa, pertama dimensi spiritual, puasa adalah benteng dari perbuatan yang buruk. Kedua, dimensi fisik yang meningkat, berpuasa akan mendatangkan kesehatan, fisik tambah sehat pikiran tambah sehat. Ketiga, dimensi emosional, yang awalnya benci jadi cinta, yang tadinya mencaci jadi menyayangi. Keempat dimensi sosial, bisa merasakan yang kesulitan orang. Kelima, dimensi finansial, biasanya ada peningkatan financial pada bulan Ramadhan dan berlaku untuk semua orang; kaya-miskin muslim maupun non muslim.

 

Di akhir ceramahnya ustadz Hilmi menyampaikan ada 5 hal agar ramadhan tidak sia-sia, yaitu senantiasa memperbaharui niat, mengetahui ilmu tentang puasa, menahan diri dari hal mubah dalam puasa, menghidupkan amal dan memaksimalkan aktivitas yang halal.

 

Sebagai catatan, sedekah menjadi salah satu cara mengoptimalkan amal shaleh pada bulan Ramadhan. Dicontohkan oleh Rasulullah bahwa beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan daripada bulan yang lainnya.

 

Pada tahun ini, Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (Yayasan BSMU) sebagai lembaga Zakat terpercaya tahun ini  mengadakan berbagai kegiatan pada bulan Ramadhan 1443 H dengan tema “Inspirasi Kebaikan”. Program campaign dan penyaluran yang dilaksanakan yaitu: Sembako untuk dhuafa, Paket berbuka dan sahur, zakat fitrah dan fidyah. Donasi dapat disalurkan melalui www.bsmu.or.id/ramadhan


Penjelasan Lengkap Wakaf Ahli dan Perannya dalam Penghimpunan Wakaf

Wakaf ahli adalah wakaf yang manfaatnya diperuntukkan bagi kesejahteraan umum sesama kerabat berdasarkan hubungan darah (nasab) dengan wakif. Wakaf ahli memiliki landasan hukum dari hadis Rasulullah ketika memberikan petunjuk kepada Abu Thalhah yang akan mewakafkan harta yang paling dicintainya yaitu kebun kurma “Bairuha” sebagai respon langsung atas turunnya firman Allah QS. Ali Imran ayat 92 yang artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada (kebajikan) yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai”.

3 Hal yang Harus dilakukan di Bisnis Syariah Agar Penuh Berkah

Manusia tidak dapat lepas daripada manusia yang lainnya, karena dengan berbagai macam kebutuhan satu sama lain akan saling membutuhkan. Karena hal itu juga setiap harinya secara sadar ataupun tidak, kita selalu melakukan praktik bisnis.

Bagaimana Hukumnya Bayar Zakat Dengan Uang Elektronik ?

Penggunaan uang eletronik saat ini menjadi hal yang populer di masyarakat. Untuk meningkatkan campaign cash less society, pemerintah  mendorong  menggunakan uang elektronik sebagai salah satu bentu efisiensi. Berbagai kebutuhan saat ini dapat dilakukan menggunakan uang elektronik.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri masih ada keraguan menjalankan syariat islam dalam hal ini zakat menggunakan e-money. Menjawab keresahan tersebut Ustadz Oni Sahroni yang merupakan Dewan Pengawas Syari’ah Bank Syariah memberikan penjelasan sebagai berikut.

Berzakat dengan top up e-money, apa hukumnya? Misalnya si A berzakat fitrah dengan men-top Up sebesar Rp35ribu dari saldo e-money yang dimilikinya ke e-money seseorang yang dianggap mustahik (penerima zakat). Dengan top up tersebut, dana Rp 35 ribu tersebut telah diterima penerima.

Dengan tambahan saldo e-money nya si penerima bisa menggunakannya untuk berbelanja dan membeli kebutuhan primer atau sekunder atau pelengkap. Intinya, berzakat dengan top up e-money itu persis sedekah dengan voucer. Dengan e-money atau voucer yang diterimanya, penerima bisa menggunakannya untuk berbelanja atau membeli kebutuhan yang ia perlukan.

Dari aspek fikih, berzakat dengan top up e-money ini perlu dipastikan beberapa hal. Pertama, top up saldo e-money tersebut diberikan kepada yang berhak (mustahik/penerima zakat). Karena itu, tidak boleh memberikan kepada selain dhuafa saat donasi yang diberikan adalah zakat fitrah. Begitu pula tidak diperbolehkan memberikan kepada selain delapan kelompok penerima zakat saat donasi yang diberikan adalah zakat maal.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin” (Qs. Attaubah: 60). Sebagaimana hadis :”Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah, memberi makan orang-orang miskin”. (HR. Abu Dawud)

Kedua digunakan untuk kebutuhan mendasar yang halal. Maksudnya, penerima menggunakannya untuk kebutuhan yang baik dan hajat primernya.

Ketiga, diprioritaskan menggunakan e-money yang sesuai dengan syariah sebagai objek zakat karena yang dizakatkan itu harus halal. Saat ini, diantara e-money yang digunakan masyarakat, khususnya e-money server base, sudah ada yang mendapatkan izin operasional dari otoritas sebagai e-money yang beroperasi sesuai ketentuan dalam fatwa DSN MUI No.116/DSN-MUI/IX/2017 tentang uang Elektronik Syariah. Maka, jika masih memungkinkan, menggunakan e-money yang sudah mendapatkan izin operasional dari otoritas sebagai e-money syariah sebagai zakatnya itu lebih baik (prioritas). Namun, jika tidak memungkinkan, dibolehkan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, selain halal, juga aspek resiko (aman penggunaannya) ini menjadi pertimbangan. Jika tuntunan tersebut sulit diwujudkan dalam kondisi dan daerah tertentu, menyalurkan melalui Lembaga zakat yang resmi dan professional bisa menjadi salah satu solusi. Wallahua’lam.

Pada tahun ini, Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) mempunyai campaign berbagi kebaikan dengan Rp5 ribu rupiah. Dengan campaign ini, masyarakat bisa melakukan donasi minimal Rp5 ribu bisa digunakan untuk membantu masyarakat di berbagai program pemberdayaan umat melalui https://www.bsmu.or.id/gohappy/

Panduan Lengkap Membayar Fidyah Puasa, Ketentuan Cara dan Waktu

Membayar hutang puasa selain dengan mengqadho’nya (membayar puasa diwaktu yang lain) bisa juga dengan membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan. Fidyah adalah sebuah keringanan bagi orang yang lemah dan tidak mampu menjalankan puasa karena terhalang alas an yang syar’I atau sesuai ketentuan agama.

Menurut bahasa kata fidya فدية berasal dari Bahasa arab فدى yang artinya memberikan harta untuk. Dalam Al-Quran, Allah SWT menggunakan kata fidyah dalam firman-Nya ketika menceritakan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS.

Secara istilah atau menurut syara’, kata fidyah memiliki makna sebagai berikut : “al-Fidyah adalah sinonim dari al-Fida’ yang artinya suatu pengganti (tebusan) yang membebaskan seorang mukallaf dari sebuah perkara hukum yang berlaku padanya.”

Istilah bayar-membayar atau mengeluarkan fidyah ini tidak hanya ada dan berlaku pada ritual ibadah puasa saja. Melainkan dalam ritual ibadah haji pun kita akan menemui pembahasan-pembahasan terkait masalah fidyah.

 

Siapa yang harus membayar fidyah

Tidak semua orang bisa mengganti puasa yang ditinggalkan dengan fidyah. Adapun aturan orang yang dapat mengganti puasa yang ditinggalkan dengan fidyah terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 184.

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al Baqarah : 184).

Dijelaskan pula dalam hadits nabi Muhammad saw., ”Berkata Ibnu Abbas : (ayat 184 surat al-Baqarah) (karena ia diperuntukkan) bagi orang tua (lansia), laki-laki atau perempuan yang tidak lagi mampu untuk berpuasa, maka mereka wajib memberikan makan (sebagai denda tidak puasa) setiap satu hari satu orang miskin. (HR. Al Bukhari)

Dengan demikian ketentuan membayar fidyah berlaku kepada:

  1. Lansia (Orang Tua). Orang tua yang kondisi fisiknya sudah lemah dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka tidak diwajibkan untuk berpuasa. Sebagai gantinya, hanya diwajibkan untuk membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan.
  2. Orang sakit. Mereka yang mengidap penyakit yang membuat fisik mereka menjadi lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berpuasa.
  3. Wanita Hamil dan/atau Menyusui. Menurut jumhur ulama cukup dengan mengqadha puasa yang ditinggalkan. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, wanita hamil dan/atau menyusui wajib melakukan dua-duanya, qadha dan membayar fidyah. Hal ini persis yang dilakukan oleh wanita hamil dan/atau menyusui kemudian berbuka karena khawatir terhadap diri dan anaknya.
  4. Meninggal dan Berhutang Puasa.

Pertama, dia meninggalkan karena puasa karena udzur syar’i, seperti sakit, kemudian dia sembuh, dan punya kesempatan untuk mengqadhanya namun belum dilaksanakan sampai datang ajalnya. Jumhur ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa dia tidak ada kewajiban apapun terhadap ahli warisnya. Tidak wajib qadha, dan tidak wajib membayar fidyah.

Kedua, dia meninggalkan ibadah puasa juga karena udzur syar’i, namun sampai selesainya bulan Ramadhan kondisinya tidak kunjung membaik sehingga tetap tidak mungkin untuk berpuasa sampai datang ajalnya. Menurut jumhur ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, dan Hambali, keluarga si mayit wajib membayarkan fidyahnya.

5. Menunda Qadha ke Ramadhan Berikutnya. Pada dasarnya menunda-nunda melunasi hutang puasa (qadha) sampai datang bulan Ramadhan berikutnya dibolehkan dalam Islam, dengan catatan ada alasan atau udzur yang dibenarkan menurut sudut pandang agama, seperti sakit misalnya. Maka dalam kasus ini kalau seandainya nanti ada kesempatan untuk mengqadhanya, maka wajib . Kalau tidak maka ada konsekuensi tambahan.

Sedangkan apabila tanpa ada alasan Syar’i terdapat perbedaan pendapat. Jumhur ulama dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat dia wajib mengqadhanya dan membayar fidyah. Sedangkan kalangan Hanafi tidak mewajibkan fidyah, hanya qadha saja.

 

Cara membayar fidyah

Ukuran untuk fidyah para ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Hanafi misalkan, ukuran fidyah yang wajib dikeluarkan adalah satu sha’, berarti ukuran ini sama dengan ukuran zakat fitrah. Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Syafi’i, ukuran fidyah bukan satu sha’, melainkan satu mud.

Terakhir menurut madzhab Hambali, dalam pandangan mereka ukuran fidyah tergantung pada jenis makanan yang dikeluarkan. Kalau kurma, ukurannya adalah setengah sha’, dan kalau gandum utuh maka ukurannya satu mud.

Lalu apa itu sha’ dan mud? Sha’ adalah satuan ukur yang umum digunakan di zaman Nabi Muhammad SAW, begitu juga mud. Namun bedanya adalah, sha’ (satuan ukur dalam bentuk volume, bukan berat) itu setara dengan memenuhi dua telapak tangan orang dewasa normal yang digabungkan, persis seperti posisi telapak tangan ketika berdoa.

Sedangkan mud adalah ukuran yang volumenya hanya ¼ dari ukuran sha’. Yang mana kalau kita konversikan kedua ukuran tersebut kedalam satuan ukur yang biasa digunakan di Indonesia maka satu mud setara dengan 675gr atau 0,688lt. Berarti kalau ukuran satu sha’, tinggal dikalikan empat saja, 1 sha’ = 675grx4=2700gr (2,7kg) atau 0,688×4=2,752 liter.

Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 7 Tahun 2021 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta dan sekitarnya telah ditentukan bahwa nilai fidyah dalam bentuk uang sebesar Rp45.000,-/hari/jiwa.

 

Waktu Membayar Fidyah

Para ulama sepakat bahwa fidyah wajib dikeluarkan atau dibayarkan oleh mereka-mereka yang mendapatkan kewajiban untuk membayarkannya. Namun para ulama berbeda pendapat dalam hal waktu pelaksanaannya, diantaranya:

  1. Sebelum bulan Ramadhan. Menurut kalangan madzhab Hanafi dianggap sah-sah saja. Misalkan, ada seorang yang sudah lanjut usia, maka dia boleh saja membayarkan fidyahnya sebelum datang bulan Ramadhan di mana dia tidak mampu untuk berpuasa. Begitu juga yang lainnya seperti orang sakit, wanita hamil, dan sebagainya.
  2. Pada saat bulan Ramadhan. Menurut madzhab Syafi’i membayar fidyah itu dilakukan di bulan Ramadhan. Jadi kalau orang yang sudah lanjut usia dan merasa tidak kuat untuk berpuasa, maka dia belum diperbolehkan membayar fidyahnya sampai datang bulan Ramadhan.

 

Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (YBSMU) menerima fidyah untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Didistribusikan dalam bentuk makanan siap santap ataupun beras yang siap untuk dimasak. Dengan membayar fidyah sekaligus membantu masyarakat yang saat ini sedang menghadapi kesulitan dalam pemenuhan makanan.

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari