Facebook

Panduan Pembayaran Fidyah dan Qadha untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Ketika ada pertanyaan saat ibu hamil dan menyusui memilih untuk tidak berpuasa apakah kompensasinya fidyah atau Qadha, sesungguhnya ada 3 pendapat, yaitu :

  1. Fidyah saja, ibu cukup membayar fidyah saja tanpa perlu meng-qadhanya, ini adalah pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas
  2. Qadha saja tanpa fidyah, kebalikan dari pendapat yang pertama. Ini adalah pendapat imam Abu Hanifah, Abu Ubaid dan Abu Tsaud dan termasuk murid-murid Abu Hanifah.
  3. Keduanya, membayar fidyah dan juga qadha puasa.  Pendapat inilah yang dikenal dengan pendapat Imam Asy Syafi’i.

Kesimpulkan dari tiga pendapat tersebut ditegaskan kembali oleh Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid Wanihayul Muqtashid dalam halaman 241.

Ibnu Rusyd memberitahukan adanya perbedaan dari ketiga pendapat tersebut, yaitu ulama yang menganalogikan ibu hamil/menyusui dengan orang yang tidak kuat berpuasa (orang yang memiliki sakit kronik, manula yang tidak mampu puasa) maka diputuskan bayar fidyah saja.

Sedang yang menganalogikan ibu hamil/menyusui dengan orang sakit saja bukan manula bukan sakit kronik berarti memasukkannya ke dalam mazhab qadho.

Sehingga disini disimpulkan bagi ibu hamil dan menyusui terbuka pilihan untuk membayar fidyah saja atau qadha saja atau bahkan keduanya dijalankan juga boleh. Hal ini berdasarkan dengan kemampuan keuangan, kemampuan fisik, maslahat dan yang lebih menenangkan.

 

Fidyahnya itu seperti apa?

Orang yang membayar fidyah harus dengan standar apa yang biasa dimakannya bukan standar makan dhuafa. Jika para dhuafa biasa makan senilai lima ribu rupiah, sementara yang bayar fidyah biasa makan di rumah makan maka yang menjadi rujukan adalah nilai makan di rumah makan.

Disimpulkan bahwa fidyah itu adalah makanan sehat dan mengenyangkan dalam bahasa lainnya empat sehat lima sempurna. Jika disajikan dalam nasi kotak harus ada nasi, daging, sayuran dan buah-buahan.

Dewan Syariah di Laznas BSMU memilih dua puluh lima ribu sebagai ambang batas minimum untuk membayar fidyah dalam satu hari.

Contohnya, ada seorang ibu hamil meninggalkan puasa selama satu hari di bulan Ramadhan maka yang bisa dilakukan dalam memilih fidyah adalah menyediakan makanan siap santap satu kotak senilai dua puluh lima ribu yang diberikan kepada dhuafa atau dhuafa diundang ke rumah atau diajak makan di restoran bisa juga dengan dibelikan sembako yang terdiri dari minyak goreng, beras dan makanan lainnya senilai minimum dua puluh lima ribu, lebih dari itu diperbolehkan.

Bisa juga lebih mudah lagi dengan cara di transfer ke lembaga zakat seperti Laznas BSMU, amanhnya adalah dibelikan makanan siap santap atau sembako yang diberikan kepada dhuafa.

 

Pertanyaan :

Saya hamil menyusui dua anak berturut-turut karena jarak anak yang dekat belum waktunya menyapih sudah menyusui lagi. Sekarang sedang hamil anak ketiga dalam usia enam bulan. Hutang puasa sebelumnya belum lunas di qadha, sebaiknya saya harus bagaimana?

Jawaban:

Jika memilih fidyah saja tidak masalah, jika dengan berpuasa dapat mengurangi kualitas ASI dan lain-lain maka dapat membayar hutang puasa dengan fidyah saja itu diperbolehkan. Caranya dengan membayar fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan, misalnya 11 hari ditinggalkan, maka perhitungannya : 11 x Rp 25.000= Rp 275.000

Pendapat yang kedua harus membayar double, selain membayar fidyah juga membayar kafarat karena lalai, punya hutang yang seharusnya dibayar tahun lalu tapi belum dibayarkan.

Jadi yang dibayarkan menjadi 2 x fidyah atau lima puluh ribu rupiah (Rp 50.000) terdiri dari fidyah dan kafarat.

Memilih salah satunya diperbolehkan atau memilih pendapat yang kedua dengan membayar kafarat akan lebih baik karena sangat bermanfaat bagi para dhuafa yang saat pandemi sekarang sangat membutuhkan bantuan.

Perkataan dari Sayyidah ‘Aisyah, jika memiliki hutang puasa ia mengatakan pada saat Sya’ban sudah tidak memiliki hutang.

Walaupun di Indonesia merupakan penganut Mazhab Syafi’I tetapi para ibu diperbolehkan untuk memilih mana yang lebih mudah untuk membayar hutang puasa. Hal ini tidak termasuk dalam memudah-mudahkan dalam menjalankan agama karena ada alasan yang syar’i untuk menjalankannya.

Narasumber: Ust. Dr. Oni Sahroni – LIKES

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari