Facebook

Menumbuhkan Empati Anak Bersama dr. Aisah Dahlan

Empati adalah hal yang penting dalam kehidupan
sehari-hari. Ketiadaan empati dapat menghilangkan rasa peduli kepada sesama,
individu menjadi lebih mementingkan diri sendiri padahal hidup di dunia ini
tidak bisa sendiri.

Dalam islam kita senantiasa diajarkan untuk
berempati terhadap kesulitan orang lain. Sedekah, zakat dan wakaf merupakan
salah satu perwujudan riil dari rasa empati.

Jadiberkah.id sangat memahami arti penting dari
empati, berdasarkan hal tersebut maka diadakan webinar yang bertema Menumbuhkan
Empati Anak bersama dr. Aisah Dahlan yang sudah terkenal di bidang neuropatik
pada 28 Maret 2022.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai empati yuk
kita simak bersama penjelasan dari dr. Aisah Dahlan berikut ini:

Pengertian
empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang
dirasakan orang lain, bisa melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga
membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut.

Secara psikologis empati memainkan peranan
penting dalam membangun dan menjaga hubungan antara sesama manusia. Rasa empati
ini sebenarnya telah ada sejak bayi dan terus berkembang sampai dewasa. 

Di Masyarakat, terkenal dua istilah yaitu
empati dan simpati, tetapi keduanya memiliki perbedaan, yaitu empati I feel how
you feel sedangkan simpati I know how you feel.

Empati merupakan tingkatan yang paling tinggi
di bawahnya ada simpati dan yang paling bawah adalah antipati. Tingkatan lebih
tinggi dari empati adalah empath (firasat).

Apa
saja ciri-ciri dari empati?

Ciri-ciri empati yang sudah muncul dalam diri
yaitu:

1. Memiliki kepedulian yang tinggi dan
kebaikan terhadap orang lain

2. Merupakan pendengar yang baik

3. Pandai memahami perasaan orang lain

4. Sering dijadikan tempat curhat oleh
orang lain

5. Sering memikirkan perasaan orang lain

6. Sering diminta menjadi penasihat bagi
masalah orang lain

7. Sering merasa terbebani oleh
peristiwa-peristiwa tragis

8. Berusaha untuk selalu membantu orang
lain yang menderita

9. Mudah mengetahui ketika seseorang
berkata tidak jujur

10. Terkadang merasa lelah atau kewalahan
dalam situasi sosial yang tidak menyenangkan

 

Bagaimana
cara menanamkan empati kepada anak-anak

Cara yang paling tepat dengan menggunakan
contoh teladan. Anak akan melihat dan mencontoh apa yang dilihatnya, didengar
dan direkam oleh otak. Ilmuwan menemukan dalam otak yang namanya sel otak atau
neuron cermin (mirror neuron) dimana seseorang dapat belajar dengan meniru.
Jumlah mirror neuron di otak sebanyak 30% dari keseluruhan otak.

Anak-anak sangat membutuhkan panutan teladan
dari orangtua terutama ibu. Kenapa? Karena sistem saraf ibu dan anak sama
persis sehingga cepat terekam oleh anak.

Perasaan merupakan salah satu kerja dari qalbu.
Bicara perasaan, organ yang berperan adalah jantung. Menurut para ulama dan
ilmuwan yang mentelaah tentang qalbu yaitu Herth Math Institute sejak tahun
1988. Hasil penelitian menunjukkan, jantung selain membawa darah keseluruh
tubuh disana  juga terdapat suara tuhan.

Jantung mendistribusi darah keseluruh tubuh
yang mengandung nutrisi ,mineral vitamin dan juga membawa hormon yang Allah
ciptakan di berbagai tempat khususnya di bagian otak, atau pinggang, punggung
yang menimbulkan rasa empati. Namun selain itu, didalam otak yang bagian
depannya mengatur akal/pikiran tetapi didalamnya terdapat bagian yang mengatur
emosi, yang terkenal sebagai istilah limbic sistem.

Empati erat hubungannya dengan emosi. Menurut
KBBI emosi merupakan luapan perasaan dan pikiran yang berkembang dan surut
dalam waktu singkat. Diartikan sebagai keadaan dan reaksi psikologis dan
fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan). Diartikan
juga sebagai kebenaran yang bersifat subjektif. Sehingga timbullah istilah
Emotional intelligence adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan dan
memahami emosi (baik emosi orang lain maupun emosi diri sendiri) dengan tujuan
meningkatkan kesehatan fisik dan mental serta mengharmoniskan hubungan
komunikasi.

Emosi adalah bagian dari diri manusia. Tetapi
menjadi terlalu emosi dan tidak rasional itu keliru. Agar tidak keliru perlu
belajar emosi karena basic dari empati adalah emosi. Allah di dalam al quran
selalu mengingatkan untuk menjaga nafsu (disebut dengan emosi). Rasa antipati,
simpati dan empati yang ada dalam diri tidaklah permanen/bisa berubah.

Emosi dasar anak-anak adalah emosi sedih (duka,
kecewa, hampa dan malu, galau, putus asa, lara, pilu) emosi takut ( cemas
khawatir, gelisah ngeri, cemburu, ragu-ragu) emosi marah (kesal, jengkel,
jijik, geram, benci dendam) dan emosi senang (bahagia, riang, gembira, cinta,
kagum, damai, syukur, takjub).

Semakin dewasa (baligh) semakin banyak jenis
emosi yang dimiliki. Dalam islam, ada tiga jenis nafsu yaitu nafsu lawwamah,
nafsu amarah dan nafsu muthmainnah. Emosi ini tidak bisa hilang tapi bisa
diulang-ulang agar sadar.

Jika dalam
memberi masih ada rasa belum ikhlas maka teruslah memberi karena secara
tidak langsung level emosi akan naik dengan sendirinya. Bisa juga dengan
melakukan istighfar terlebih dahulu sebelum memberikan sedekah sehingga kita
bisa mendapatkan pencerahan dari Allah.

Jantung mempunyai medan elektronik 5000 kali
lebih besar dari otak. Jadi apabila pikiran bisa ditangkap oleh manusia apalagi
dengan perasaan. Jika positive thinking menggunakan 1 watt maka positive
feeling menggunakan tenaga 5000 watt.

Fikiran dan perasaan dipengaruhi oleh emosi
maka tugas manusia adalah mengembalikan pada posisi netral/bersih ketika
mengalami keterpurukan.

Vibrasi manusia bisa semakin kuat dengan cara
melakukan ZISWAF. Tetapi jangan sekali-kali melakukan sedekah dibarengi dengan
pikiran buruk maka dapat berefek buruk pula.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
mengasah kecerdasan anak:

1. Jadilah teladan/ahli mengelola emosi

2. Kenalkan ragam jenis emosi, marah,
sedih, dll

3. Ajari anak menerima emosi sebagai hal
yang wajar

4.       Saling belajar menceritakan emosi

Biasakan diri kita pada saat level emosi turun
mengucapkan nama Allah dan pada saat level emosi naik juga ucapkan nama Allah,
sehingga anak dapat meniru. Hal itu juga menjadikan apapun yang menimpa diri
kita bisa bernilai pahala disisi Allah.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari