Facebook

Sosok Perempuan Panutan: Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah

Tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini, dimana kita diajak mengenang kembali perjuangan ibu Kartini untuk mendapatkan hak-hak perempuan salah satunya adalah hak mendapatkan pendidikan yang sama dengan para laki-laki. Sehingga masa kegelapan wanita berubah menuju cahaya dengan sarana ilmu pengetahuan.

 

Jauh sebelum masa ibu Kartini, mungkin beliau juga mengidolakannya, telah hadir seorang sosok perempuan besar untuk membantu perjuangan nabi Muhammad saw agar umat ini mendapatkan cahaya islam. Pengorbanannya tidak perlu disangsikan lagi sehingga nabi Muhammad saw sangat kehilangan beliau. Siapakah wanita mulia tersebut? yuk kita simak sejarah akhir hayat ibunda Khadijah Al Qubro r.a untuk mengambil ibroh dari kebesaran hatinya.

 

Khadijah al Qubro r.a binti Khuwailid adalah wanita istimewa. Beliau wafat pada bulan istimewa tepatnya 11 Ramadhan  tahun kesepuluh hijriyah. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Nabi Muhammad SAW dan bersama beliau, Nabi Muhammad selama 25 tahun memilih monogami.  Berikut kisah akhir hidup ummul mukminin  Khadijah binti Khuwailid.

 

Dua pertiga (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah binti khuwailid, istri pertama Rasulullah . Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

 

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri.”

 

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

 

Siti Khadijah, Ummul Mukminin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata Mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

 

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

 

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

 

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

 

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

 

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

 

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum Muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum Muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

 

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

 

Khadijah. Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu.”

 

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

 

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

 

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

 

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

 

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku ?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

 

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan,” jawab Khadijah.

 

“Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasulnya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya.”

 

“Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan lanjutkan dakwahmu.”

 

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”

 

Rasulullah pun tampak sedih.

 

“Oh Khadijah Ku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

 

“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib. jawab, menantu Rasulullah.

 

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdo’a kepada Allah.

“Ya Allah, ya ILahi Robbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku, Menenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah.”

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari