Facebook

Mau Berhutang? Yuk Pahami 4 Adab Berhutang Menurut Islam

Berhutang dalam Islam disebut dengan istilah Al-Qardh. Secara etimologi berarti memotong sedangkan dalam artian menurut syar’i bermakna memberikan harta dengan dasar kasih sayang kepada siapa saja yang membutuhkan dan akan dimanfaatkan dengan benar, yang mana pada suatu saat nanti harta tersebut akan dikembalikan lagi kepada orang yang memberikannya.

Hutang- piutang menjadi sesuatu yang sensitif diantara hubungan sesama manusia. Meski Islam memperbolehkan untuk berhutang, itupun dengan syarat. Berhutang dianjurkan hanya dalam kondisi yang benar-benar sangat terdesak saja.

Ustadz Oni Sahroni menerangkan dalam kajian muamalahnya mengenai adab-adab yang perlu dilakukan oleh orang yang memberi hutang dan menghutang. Ditinjau dari kajian ilmu fiqih sehingga meminimalisir dampak buruk yang diakibatkan oleh hutang. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

Sangat mungkin terjadi dalam kondisi masyarakat memenuhi kebutuhan asasinya dengan cara berhutang atau tidak tunai karena ketersediaan dana yang terbatas atau karena sebab lainnya. Adab-adab apa saja yang islami yang perlu dipenuhi untuk berhutang. Jika ditelaah literatur fiqih maka dapat disimpulkan beberapa adab-adab islami dalam berutang, yaitu:

Pertama, seorang kreditur atau calon kreditur memberi pinjaman tanpa bunga karena hal itu bagian dari ihsan dan sebaliknya tidak boleh memberikan jasa pinjaman dengan bunga atau benefit atas jasa pinjamannya karena itu adalah bunga atau riba jahiliyah yang tidak diperkenankan dalam islam sebagaimana kaidah :

Kullu Qordhin jarro naf’an fahua ribaa

“Setiap utang piutang yang mendatangkan manfaat (dipersyaratkan) adalah riba.

Kedua, bagi seorang debitur atau calon peminjam semaksimal mungkin melakukan transaksi utang piutang ini hanya untuk memenuhi kebutuhan asasi baik sekunder maupun primer. Oleh karena itu tidak dianjurkan seseorang melakukan transaksi berhutang atau pembelian tidak tunai hanya untuk memenuhi kebutuhan tersier atau pelengkapnya.

Ketiga, seorang debitur itu juga dianjurkan untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara memiliki kemampuan financial agar tidak melakukan transaksi utang piutang.

Keempat, seorang debitur seemaksimal mungkin memenuhi kewajibab financialnya kebutuhannya secara standar tanpa berlebihan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yang popular dengan kalimat al badza’ah yaitu pola hidup sederhana karena seorang sahabat itu banyak sekali menjadi seorang hartawan tetapi itu diketahui dengan cara berinfaq dan bersedekahnya. Tetapi pola hidupnya tetap standar.

Mudah-mudahan dengan beberapa point ini akan semakin jelas apa itu adab-adab dalam berhutang. Semoga Allah SWT meridhoi kita semua.

Hutang memiliki dampak buruk jika tidak sesuai dengan adab-adab tersebut diatas. Tidak hanya akan menghabiskan harta juga mampu memecah belah persaudaraan. Zakat dan sedekah menjadi salah satu solusi bagi orang yang tidak mampu agar tidak berhutang untuk kebutuhan yang asasi dan sekaligus akan menjalin tali silaturahmi.

Yayasan BSMU mengajak bersegera dalam kebaikan melalui program campaign dan penyaluran yaitu paket berbuka dan sahur, sembako saat lebaran dan zakat fitrah dan fidyah. Untuk program campaign dan layanan fundraising selama Ramadhan yaitu diantaranya infak paket berbuka dan sahur dan infaq paket sembako lebaran.

Untuk infaq berbuka dan sahur ini dilakukan pada saat pembagian takjil dan iftar serta makan sahur dengan nilai donasi sebesar Rp50 ribu. Sedangkan untuk infaq paket sembako lebaran ini nilai donasinya sebesar Rp250 ribu.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari