Facebook

Panduan Lengkap Membayar Fidyah Puasa, Ketentuan Cara dan Waktu

Membayar hutang puasa selain dengan mengqadho’nya (membayar puasa diwaktu yang lain) bisa juga dengan membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan. Fidyah adalah sebuah keringanan bagi orang yang lemah dan tidak mampu menjalankan puasa karena terhalang alas an yang syar’I atau sesuai ketentuan agama.

Menurut bahasa kata fidya فدية berasal dari Bahasa arab فدى yang artinya memberikan harta untuk. Dalam Al-Quran, Allah SWT menggunakan kata fidyah dalam firman-Nya ketika menceritakan kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS.

Secara istilah atau menurut syara’, kata fidyah memiliki makna sebagai berikut : “al-Fidyah adalah sinonim dari al-Fida’ yang artinya suatu pengganti (tebusan) yang membebaskan seorang mukallaf dari sebuah perkara hukum yang berlaku padanya.”

Istilah bayar-membayar atau mengeluarkan fidyah ini tidak hanya ada dan berlaku pada ritual ibadah puasa saja. Melainkan dalam ritual ibadah haji pun kita akan menemui pembahasan-pembahasan terkait masalah fidyah.

 

Siapa yang harus membayar fidyah

Tidak semua orang bisa mengganti puasa yang ditinggalkan dengan fidyah. Adapun aturan orang yang dapat mengganti puasa yang ditinggalkan dengan fidyah terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 184.

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al Baqarah : 184).

Dijelaskan pula dalam hadits nabi Muhammad saw., ”Berkata Ibnu Abbas : (ayat 184 surat al-Baqarah) (karena ia diperuntukkan) bagi orang tua (lansia), laki-laki atau perempuan yang tidak lagi mampu untuk berpuasa, maka mereka wajib memberikan makan (sebagai denda tidak puasa) setiap satu hari satu orang miskin. (HR. Al Bukhari)

Dengan demikian ketentuan membayar fidyah berlaku kepada:

  1. Lansia (Orang Tua). Orang tua yang kondisi fisiknya sudah lemah dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka tidak diwajibkan untuk berpuasa. Sebagai gantinya, hanya diwajibkan untuk membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan.
  2. Orang sakit. Mereka yang mengidap penyakit yang membuat fisik mereka menjadi lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berpuasa.
  3. Wanita Hamil dan/atau Menyusui. Menurut jumhur ulama cukup dengan mengqadha puasa yang ditinggalkan. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, wanita hamil dan/atau menyusui wajib melakukan dua-duanya, qadha dan membayar fidyah. Hal ini persis yang dilakukan oleh wanita hamil dan/atau menyusui kemudian berbuka karena khawatir terhadap diri dan anaknya.
  4. Meninggal dan Berhutang Puasa.

Pertama, dia meninggalkan karena puasa karena udzur syar’i, seperti sakit, kemudian dia sembuh, dan punya kesempatan untuk mengqadhanya namun belum dilaksanakan sampai datang ajalnya. Jumhur ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa dia tidak ada kewajiban apapun terhadap ahli warisnya. Tidak wajib qadha, dan tidak wajib membayar fidyah.

Kedua, dia meninggalkan ibadah puasa juga karena udzur syar’i, namun sampai selesainya bulan Ramadhan kondisinya tidak kunjung membaik sehingga tetap tidak mungkin untuk berpuasa sampai datang ajalnya. Menurut jumhur ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, dan Hambali, keluarga si mayit wajib membayarkan fidyahnya.

5. Menunda Qadha ke Ramadhan Berikutnya. Pada dasarnya menunda-nunda melunasi hutang puasa (qadha) sampai datang bulan Ramadhan berikutnya dibolehkan dalam Islam, dengan catatan ada alasan atau udzur yang dibenarkan menurut sudut pandang agama, seperti sakit misalnya. Maka dalam kasus ini kalau seandainya nanti ada kesempatan untuk mengqadhanya, maka wajib . Kalau tidak maka ada konsekuensi tambahan.

Sedangkan apabila tanpa ada alasan Syar’i terdapat perbedaan pendapat. Jumhur ulama dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat dia wajib mengqadhanya dan membayar fidyah. Sedangkan kalangan Hanafi tidak mewajibkan fidyah, hanya qadha saja.

 

Cara membayar fidyah

Ukuran untuk fidyah para ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Hanafi misalkan, ukuran fidyah yang wajib dikeluarkan adalah satu sha’, berarti ukuran ini sama dengan ukuran zakat fitrah. Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Syafi’i, ukuran fidyah bukan satu sha’, melainkan satu mud.

Terakhir menurut madzhab Hambali, dalam pandangan mereka ukuran fidyah tergantung pada jenis makanan yang dikeluarkan. Kalau kurma, ukurannya adalah setengah sha’, dan kalau gandum utuh maka ukurannya satu mud.

Lalu apa itu sha’ dan mud? Sha’ adalah satuan ukur yang umum digunakan di zaman Nabi Muhammad SAW, begitu juga mud. Namun bedanya adalah, sha’ (satuan ukur dalam bentuk volume, bukan berat) itu setara dengan memenuhi dua telapak tangan orang dewasa normal yang digabungkan, persis seperti posisi telapak tangan ketika berdoa.

Sedangkan mud adalah ukuran yang volumenya hanya ¼ dari ukuran sha’. Yang mana kalau kita konversikan kedua ukuran tersebut kedalam satuan ukur yang biasa digunakan di Indonesia maka satu mud setara dengan 675gr atau 0,688lt. Berarti kalau ukuran satu sha’, tinggal dikalikan empat saja, 1 sha’ = 675grx4=2700gr (2,7kg) atau 0,688×4=2,752 liter.

Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 7 Tahun 2021 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta dan sekitarnya telah ditentukan bahwa nilai fidyah dalam bentuk uang sebesar Rp45.000,-/hari/jiwa.

 

Waktu Membayar Fidyah

Para ulama sepakat bahwa fidyah wajib dikeluarkan atau dibayarkan oleh mereka-mereka yang mendapatkan kewajiban untuk membayarkannya. Namun para ulama berbeda pendapat dalam hal waktu pelaksanaannya, diantaranya:

  1. Sebelum bulan Ramadhan. Menurut kalangan madzhab Hanafi dianggap sah-sah saja. Misalkan, ada seorang yang sudah lanjut usia, maka dia boleh saja membayarkan fidyahnya sebelum datang bulan Ramadhan di mana dia tidak mampu untuk berpuasa. Begitu juga yang lainnya seperti orang sakit, wanita hamil, dan sebagainya.
  2. Pada saat bulan Ramadhan. Menurut madzhab Syafi’i membayar fidyah itu dilakukan di bulan Ramadhan. Jadi kalau orang yang sudah lanjut usia dan merasa tidak kuat untuk berpuasa, maka dia belum diperbolehkan membayar fidyahnya sampai datang bulan Ramadhan.

 

Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (YBSMU) menerima fidyah untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Didistribusikan dalam bentuk makanan siap santap ataupun beras yang siap untuk dimasak. Dengan membayar fidyah sekaligus membantu masyarakat yang saat ini sedang menghadapi kesulitan dalam pemenuhan makanan.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari