Facebook

4 Cara Meningkatkan Kecerdasan Berpikir Anak Menurut Agama Islam

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki perkembangan rasio atau akal yang baik. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya mulai dari makanan bernutrisi sampai dengan treatment untuk mencerdaskan otak. Banyak orang mengukur kecerdasan rasio atau akal berdasarkan kesuksesan anak tersebut baik dari segi pendidikan atau keterampilan yang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Islam rasio tidak hanya meliputi kecerdasan intelektual belaka tetapi lebih menyeluruh. Sehingga Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya berjudul Pendidikan Anak Dalam Islam, menerangkan bahwa rasio adalah membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu agama, kebudayaan dan peradaban. Dengan demikian pikiran anak menjadi matang, bermuatan ilmu, kebudayaan dan sebagainya.

Seorang anak memiliki tantangan yang berbeda dari yang pernah dialami orangtua. Pendidikan akal yang secara sempurna meliputi berbagai bidang sesuai dengan yang diajarkan agama islam menjadi suatu hal yang mutlak. Tanggungjawab ini tidak hanya bisa diberikan kepada para pendidik di sekolah namun juga menjadi peran orangtua. Penanam pendidikan yang dapat melekat lebih dalam kedalam jiwa anak dibutuhkan juga sebuah pendidikan dengan pola pendidikan yang lebih personal.

Menurut Dr. Nashih Ulwan pendidikan keimanan adalah sebuah pondasi, tanggung jawab pendidikan fisik/jasmani merupakan persiapan dan pembentukan dan pendidikan moral merupakan penanaman dan pembiasaan. Sedangkan rasio (akal) merupakan penyadaran, pembudayaan dan pengajaran.

Tanggung jawab terhadap keimanan, fisik dan akal saling berkaitan erat dalam proses pembentukan kepribadian anak secara integral dan sempurna agar menjadi manusia yang konsisten dan siap melaksanakan kewajiban, risalah dan tanggung jawab. Alangkah indahnya iman jika dibarengi dengan pemikiran yang cerdas  dan alangkah mulianya akhlak jika dibarengi dengan Kesehatan fisik.

Menurut Dr. Nashih Ulwan kecerdasan berpikir seorang anak dapat ditumbuhkan melalui 4 cara, yaitu:

  1. Pengajaran yang hidup
  2. Teladan yang hidup
  3. Penelaahan yang hidup
  4. Pergaulan yang hidup

Pertama, yang dimaksud pengajaran yang hidup adalah hendaknya anak diajari oleh kedua orangtua dan pendidiknya tentang hakikat islam dan seluruh permasalahan dan hukumnya. Menanamkan nilai menjadikan islam sebagai satu-satunya agama yang memiliki nilai keabadian dan kesempurnaan sehingga Allah mewarisi bumi dan segala isinya. Mengajarkan cara mewaspadai bahaya yang akan mengancam identitas dirinya sebagai seorang yang beragama islam. Pendidikan tidak hanya sekedar pengetahuan tentang teknis beribadah namun lebih mendalam kepada nilai-nilai islam dan cara menjaga nilai-nilai tersebut yang menjadi pendoman dalam kehidupun.

Kedua, yang dimaksud dengan teladan yang hidup adalah hendaknya anak merasa terikat untuk meneladani seseorang pembimbing yang ikhlas, sadar, paham terhadap Islam, berjihad di jalan Allah, menerapkan hukum-hukumNya dan tidak menghiraukan celaan orang lain ketika dirinya berada dalam kebenaran. Keteladan yang hidup menjadi sangat penting karena mampu membentuk karakter anak. Sangat disayangkan saat ini banyak pembimbing yang menyimpang dari islam kecuali hanya sebagian kecil saja.

Ketiga, yang dimaksud dengan penelaahan yang dilakukan secara hidup adalah, diharapkan para pendidik menyediakan sebuah perpustakaan sekalipun kecil untuk anak-anak ketika mulai memasuki masa sekolah yang memuat kisah-kisah yang islami yang menceritakan tentang perjalanan dan sepak terjang para pahlawan, hikayat orang shaleh dan arif serta koleksi tentang pemikiran dalam sistem islam baik dari segi akidah, akhlak, perekonomian maupun politik. Bagi pendidik hendaklah memilih buku-buku sesuai dengan usia dan tingkat kejiwaannya dan kemampuannya.

Keempat, adapun yang dimaksud dengan pergaulan yang hidup adalah diharapkan pendidik mampu memilihkan teman-teman yang saleh, dapat dipercaya dan memiliki pemahaman islam yang matang, kesadaran berfikir dan kebudayaan islam yang sempurna. Seorang teman tidak cukup hanya seorang yang sholeh dan rajin beribadah namun juga mampu menyatukan ketakwaan, kematangan berfikir, kesadaran sosial dan pemahaman islami.

Pentingnya dalam memilih teman juga diterangkan oleh Rasulullah dalam hadits Riwayat Tirmidzi:

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya. Oleh karena itu hendaknya salah seorang diantara kamu memperhatikan orang yang ditemani.”

Sebagai orang yang hidup di masa yang penuh ujian cobaan yang salah satunya berasal dari derasnya arus informasi yang tidak mampu lagi untuk dibendung peranan pendidik menjadi sangat berat. Pendidik tidak akan mampu melakukannya tanpa bekerjasama dengan lingkungannya serta senantiasa mendoakan kebaikan bagi yang dididik. Selain itu dengan melakukan berbagai kebaikan diantaranya sedekah mampu membuka peluang kebaikan menjadi lebih besar.

Pada tahun ini  Yayasan  BSMU mempunyai campaign Go Happy. Dalam campaign ini masyarakat bisa membantu donasi untuk masyarakat terdampak bencana di Indonesia melalui Infaq Kemanusiaan. Donasi bisa dilakukan melalui https://www.bsmu.or.id/gohappy/.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari