Facebook

3 Peristiwa Penting di Bulan Syaban, Salah Satunya Perubahan Arah Kiblat

Bulan Sya’ban adalah bulan pembuka sebelum datangnya bulan Ramadhan. Secara bahasa, Abdurrahman Al-Shafury dalam kitabnya, Nuzhat Ul Majalis wa Muntakhab Al Nafais, mengatakan bahwa kata Syakban terdiri dari lima huruf yang melambangkan makna-makna tertentu; huruf syin bermakna asy-syaraf (kemuliaan), huruf ain bermakna al-uluww (derajat yang tinggi), huruf ba’ bermakna al-birr (kebaikan), huruf alif bermakna al-ulfah (kasih sayang), dan huruf nun yang bermakna al-nur (cahaya).

Istilah Sya’ban berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Maksudnya, Syakban merupakan waktu untuk menemukan jalan demi mencapai kebaikan.

Bulan merupakan salah satu bulan yang kedudukannya mulia dalam Islam. Bulan ini menempati urutan kedelapan dalam penanggalan kalender hijriyah. Dalam shahih Bukhari dan , diriwayatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلُ لاَ يَصُوْمُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامً مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhân dan aku tidak pernah melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Sya’ban.“

Di balik keistimewaan bulan Syaban, terdapat beberapa penting yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah yang jarang diketahui oleh orang. Dilansir dari berbagai sumber berikut peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban ketika Rasulullah masih Hidup, yaitu :

 

Pertama, Peralihan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah

Adapun terkait waktu pengalihan kiblat, Al-Qurtubi dalam kitabnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti. Dia berkata bahwa Allah Swt. menurunkan ayat peralihan kiblat kepada Nabi Muhammad saw. pada malam Selasa di pertengahan bulan Sya’ban yang dinamakan dengan malam Nisfu Sya’ban (Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi, juz 1, hal. 671).

Peralihan kiblat terjadi di Masjid Bani Salamah. Dalam Tafsir al-Baghawi diterangkan bahwa ketika itu Nabi Muhammad saw. salat zuhur dengan para sahabat. Ketika shalat memasuki rakaat kedua, turunlah ayat peralihan kiblat, sehingga Rasulullah saw. memalingkan badannya ke arah Ka’bah dan para sahabat mengikuti perbuatannya tersebut. Masjid tempat peralihan kiblat ini kemudian dinamakan Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).

 

Kedua, Turunnya ayat tentang shalawat

Sebagian ulama menyebut Sya’ban sebagai bulan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. As-sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani berpendapat, rahasia mengapa Rasulullah SAW menisbatkan Sya’ban sebagai bulan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena pada bulan inilah turun ayat shalawat dan salam.

 

Ayat yang dimaksud adalah surah al-Ahzab ayat 56. Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan makna Shalawat dari Allah untuk Nabi Muhammad SAW adalah bentuk rahmat dan keridhoan-Nya, sedangkan shalawat dari Malaikat untuk Nabi Muhammad berarti doa dan permohonan ampun untuk Nabi, adapun arti Shalawat orang orang beriman kepada Nabi Muhammad. kepada beliau merupakan doa serta bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi Muhammad. Maka, shalawat yang dihaturkan kepada Nabi Muhammad. dari Allah, Malaikat, serta Umatnya memiliki arti yang berbeda.

 

Ketiga, Turunnya perintah puasa Ramadhan

Pada tahun ke 2 Hijriah Allah mensyariatkan puasa bulan Ramadhan untuk pertama kalinya. Tepatnya pada hari Senin tanggal 10 Sya’ban pada satu setengah tahun setelah Rasulullah SAW dan umat Islam berhijrah dari Kota Mekah ke kota Madinah.

Dalam Kasyifah al-Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani disebutkan, “Puasa Ramadhan diwajibkan atau difardukan pada Sya’ban tahun 2 Hijriah. Setelah mendapat perintah wajib tersebut, Rasulullah saw. berpuasa sebanyak 9 kali bulan Ramadhan.”

Untuk menambah keberkahan Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat mempermudah pembayaran zakat infaq dan sedekah melalui campaign Go Happy. Dalam campaign ini masyarakat bisa membantu donasi untuk masyarakat terdampak bencana di Indonesia melalui zakat untuk orang tua asuh dengan nominal mulai Rp5 ribu. Donasi bisa dilakukan melalui https://www.bsmu.or.id/gohappy/.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari