Facebook

Isra Miraj dan Makna Tentang Persatuan Ummat

Isra Mi’raj adalah bagian perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah beliau mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

 

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengutip Liputan6.com menyampaikan bahwa peringatan Isra Miraj bertujuan untuk menebarkan nilai-nilai persatuan. Menurutnya dalam konteks modernisasi beragama di Indonesia, spirit Isra Miraj itu adalah keseimbangan, persatuan, keadilan dan musyawarah yang juga menjadi spirit bangsa Indonesia di tengah keberagaman menuju cita-cita bangsa berdasarkan nilai Pancasila dan UUD 1945. 

 

Sedangkan menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengutip Republika peringatan Isra Mi’raj diharapkan bisa menjadi momentum untuk menghadirkan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Setiap Muslim punya andil dalam membangun kehidupan yang lebih maslahat dan mencegah segala macam kedaruratan untuk mengokohkan persatuan.

 

Dengan Isra Mi’raj diharapkan umat beragama bisa menunjukkan teladan yang baik atau uswah hasanah. Salah satunya dilakukan dengan menerapkan nilai kebaikan, kebenaran, dan kepatutan. 

 

Prof Haedar Nashir mewanti-wanti bahwa jangan sampai atas nama agama umat malah menebar permusuhan dan ujaran-ujaran yang menimbulkan mafsadah (kerusakan) dan kontroversi bagi kehidupan. 

 

Peristiwa Isra Mi’raj setiap 27 Rajab pada tahun ini bertepatan dengan Senin (28/2). Menurut Haedar, Isra Mi’raj memiliki nilai inklusif bagi kehidupan kemanusiaan dan alam semesta. Perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju Sidratul Muntaha ini mengandung tiga makna penting dalam kehidupan.

 

Haedar mengatakan, makna pertama Isra Mi’raj adalah tentang kekuasaan. Ayat tersebut dan peristiwa Isra Mi’raj itu sendiri menunjukkan bahwa di balik kekuasaan manusia yang bersifat duniawi, ada kekuasaan Allah yang bersifat ruhaniah-ilahiah atau kekuasaan yang sakral.

 

Artinya, baik manusia, sekelompok manusia, bahkan negara atau lebih jauh lagi antarnegara yang memiliki kekuasaan duniawi, jangan menyalahgunakan kekuasaan. Sebab, kata Haedar, di balik kekuasaan duniawi ada kekuasaan Ilahi dan ada kekuasaan yang suci, yakni Allah Yang Maha Pencipta.

 

Manusia seharusnya dengan kekuasaan yang dimilikinya rendah hati dan tidak menyalahgunakan kekuasan. Perang penistaan kezaliman dan segala bentuk kesewenang-wenangan itu terjadi karena kekuasaan manusia lepas dari kekuasaan Ketuhanan. 

 

Makna kedua dari Isra Mi’raj, yaitu membawa perintah shalat. Sedangkan makna ketiga, yaitu Nabi Muhammad SAW menjalankan kerisalahan setelah Isra Mi’raj. Risalah pertama, Nabi SAW hadir dengan Islam untuk menyempurnakan akhlak manusia. Risalah Islam membangun peradaban dan keadaban.

 

Di era media sosial dan era digital seperti saat ini dibutuhkan keadaban sehingga bisa membuat manusia bisa menjadi lebih mulia akhlaknya.  Pada tahun ini, Yayasan BSMU memiliki campaign Go Happy. Dengan minimal Rp5 ribu masyarakat bisa melakukan donasi melalui program unggulan ZISWAF melalui channel http://www.bsmu.or.id

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari