Facebook

Mengenal Lebih Dekat Tirto Adhi Soerjo, Tokoh Nasional Indonesia

Masih menyambut peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2022, tidak ada salahnya untuk mengenal salah satu Pahlawan Nasional, Perintis Pers Indonesia, penerima Bintang Mahaputra Adipradana, Tirto Adhi Soerjo.

 

Sosok Bapak Pers Nasional ini terkenal sebagai orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat pembentuk pendapat umum.

 

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarekat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan redaksinya adalah pribumi Indonesia asli.

 

Dia mulai menulis sejak awal masuk kuliah kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), di Batavia. Tulisannya juga dimuat di beberapa surat kabar terkemuka saat itu yaitu Bintang Betawi, Chabar Hindia Olanda, Pewarta Priangan, Bromartani, juga Pembrita Betawi.

 

Terkait pengelolaan jurnalistik, Tirto banyak belajar dari Karel Wijbrands, jurnalis senior yang juga pemimpin redaksi Nieuws van den Dag.  Dirinya mendapat bimbingan bagaimana harus mengelola penerbitan, dan ditunjukkan jalan untuk kelak bisa memiliki terbitan sendiri.

 

Wijbrands menyarankan pula kepada Tirto agar mempelajari hukum untuk mengetahui batas-batas kekuasaan pemerintah kolonial, beserta hak dan kewajibannya. Tirto diminta memperdalam tata pemerintahan supaya lebih jeli dalam menilai kekuasaan. Dan, juga atas saran Wijbrands, untuk mengenal bangsa bumiputra yang mayoritas Muslim, Tirto diminta untuk mendalami ajaran Islam berikut hukum-hukumnya.

 

Salah satu masterpiece Tirto di bidang jurnalistik adalah ketika dirinya mendirikan Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan. Melalui dua media ini, dirinya adalah orang Indonesia pertama yang menyuluh rasa kesadaran berbangsa bumiputera melalui kuasa media. Dalam konteks ini, ia memperkenalkan apa yang sekarang disebut sebagai jurnalisme advokasi. Tak jarang, Tirto membela kaum tertindas lewat surat kabarnya.

 

Keberaniannya serta kemampuan Tirto dalam menulis membuatnya bisa dekat dengan siapa saja, termasuk pejabat kolonial sendiri. Bahkan dia akrab dengan Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz yang memerintah pada 1904-1909. Apalagi keduanya sama-sama pecinta ilmu pengetahuan terutama dengan kemunculan modernisme di Eropa.

 

Selama berkarir di bidang jurnalistik, tercatat sudah banyak efek yang dihasilkan dari tulisan-tulisannya. Salah satunya adalah perubahan kebijakan dan regulasi yang lebih baik dari pihak kolonial.

 

Hal inilah yang membuat pada tahun 1973, Tirto dianugerahi gelar sebagai perintis pers Indonesia. Kemudian pada tahun 2007, Tirto dianugerahi gelar pahlawan nasional. Kini makamnya berada di kawasan Blender, Bogor.

 

Kalian juga bisa menjadi pahlawan lo sebenarnya seperti Tirto Adhi Soerjo, hal ini bisa dilakukan dengan melakukan donasi di campaign Go Happy. Hanya dengan Rp5 ribu kalian bisa membantu program program ZISWAF untuk kemanusiaan, pemberdayaan UMKM, dan orang tua asuh Yayasan BSMU melaluii alamat http://www.bsmu.or.id. 

 

 

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari