Facebook

Meneladani Muslimah Pembelajar Ummul Mukminin, Sayyidah Shafiyah

Bagi sebagian muslim, nama Shafiyyah binti Huyay masih terdengar asing. Namun, tahukah kamu bahwa Shafiyyah binti Huyay adalah salah satu Ummul Mukminin, istri Rasulullah SAW yang berasal dari keturunan pemuka Yahudi?

Shafiyah berasal dari kalangan bangsawan Banu Nadir di daerah Khaybar, Arab Saudi. Selain akhlak yang menawan, Shafiyah juga dikenal atas kecerdasan, kecantikan, ketenangan, lemah lembut, penyabar, sopan dan tabah. 

 

Sejak masih muda, Shafiyah sudah gemar akan ilmu pengetahuan. Seperti Ummul Mukminin yang lain, Shafiyah juga adalah gudang ilmu. Mereka yang mencari ilmu biasa berkumpul di rumah beliau untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. 

 

Sepulang menunaikan haji, rumah Shafiyah ramai dikunjungi wanita dari jauh seperti Kufah untuk bertanya pelbagai soalan kepada beliau. Shafiyah menjawab dengan tepat dan berkesan setiap persoalan yang diutarakan. Pantaslah jika Shafiyyah yang pada masanya dapat dipuji sebagai wanita yang sangat cerdas oleh Ibnu Al-Atsir dan An-Nawawi.

 

Mengutip buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam. Bassam Muhammad Hamami menulis selain cerdas, Shafiyah juga dikenal memiliki sifat tabah dalam menghadapi cobaan. 

 

Salah satu cobaan adalah tekanan karena dirinya dibanding-bandingkan dengan wanita Quraisy atau orang Arab sedangkan Shafiyah adalah keturunan Yahudi. 

 

Ia pun duduk sambil menangis tersedu-sedu lalu Rasulullah SAW menanyakan apa sebabnya ia menangis. Shafiyah menceritakan tentang hal yang dikatakan terhadap dirinya. Karena itu, Rasulullah pun bersabda, “Katakanlah kepada mereka: ‘Bagaimana kalian bisa lebih baik daripada aku sementara suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa’.”

 

Kata-kata Rasulullah ini menjadi penyejuk bagi Shafiyah. Kata-kata yang mampu menghilangkan rasa tersiksa dan semakin memupuk kesabarannya.

 

Beliau amat menyayangi dan mencintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Pintar memasak makanan yang lezat untuk suaminya. 

 

Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, di akhir masa hidupnya, Shafiyah tidak dapat menahan kesedihan melihat derita yang dialami oleh suami yang mulia lalu menangis dan berkata: “Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kalaulah aku dapat menanggung semua penderitaanmu itu sendiri supaya engkau merasa ringan dengan sakitmu.”

 

Dalam paparan singkat mengenai keteladanan Shafiyyah binti Huyay, dapat diambil hikmah bahwa menjadi muslimah sejatinya ialah menjadi pembelajar yang baik. Selain juga tetap tabah menghadapi cobaan. 

 

Terus menggali ilmu pengetahuan dan menyeimbangkan dengan amalan akhirat merupakan sebuah pencapaian yang sangat bernilai tanpa perlu menyombongkan diri.

 

Demikianlah, kita bisa meneladani sifat dari Sayyidah Shafiyah semasa hidup. Kalian juga bisa membantu perjuangan dakwah dengan ikut serta dalam kampanye Goceng Bikin Happy Yayasan BSMU. Hanya dengan lima ribu rupiah kalian dapat mendonasi ke program donasi untuk umat. 

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari