Facebook

Tiga Sifat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Perlu Diteladani Umat Muslim

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan khalifah pertama umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada 632 M. Ditunjuknya Abu Bakar sebagai khalifah pertama ini tidak terlepas dari beberapa pertimbangan; teladan sifat beliau.

 

Salah satu pertimbangan penting adalah Abu Bakar pernah mendampingi Rasulullah ketika bersembunyi dalam gua pada saat masa hijrah ke Madinah. Selain itu, Abu Bakar juga pernah ditetapkan sebagai pengganti Rasulullah dalam shalat ketika ia sakit.

 

Hal tersebut disampaikan Dai Muda Ustadz Nizam Zulfikar dalam acara Ngobrol Pelajar Inspiratif. Dengan tema “Meneladani Sifat Abu Bakar Ash-Shiddiq”. Acara ini dibuka oleh Care Program Director Yayasan BSMU, Ilham Syahputra.

 

Dalam materinya Nizam Zulfikar menyampaikan setidaknya ada tiga sifat yang perlu diteladani oleh umat muslim. Tiga sifat ini adalah pertama karakter Abu Bakar yang bisa menjaga reputasi dan akhlak dengan baik.

 

Hal ini dilakukan dengan cara memilih teman atau sahabat yang sesuai dengan nilai nilai yang diyakini. “Teman atau sahabat ini penting karena siapa sahabat yang kita pilih akan menentukan diri kita nantinya,” kata Nizam.

 

Beberapa reputasi yang telah dibangun oleh Abu Bakar selama hidup dan dikenal masyarakat pada saat itu adalah beliau tidak pernah melakukan maksiat, dan sering menyelesaikan masalah dengan akhlak baik dan cerdas. Kecerdasan Abu Bakar diakui di seantero Mekkah pada saat itu karena salah satunya sanggup menghafalkan semua silsilah di kalangan Suku Quraisy.

 

Abu Bakar merupakan salah satu sahabat yang sangat dicintai dan dekat dengan nabi. Bahkan ada suatu riwayat yang menyatakan bahwa andai nabi ingin mengambil kepercayaan, beliau akan mengambil Abu Bakar sebagai orang yang dipilih.

 

Kedekatan dan kesetiaannya pada Nabi Muhammad merupakan satu hal yang sangat melekat pada diri Abu Bakar, utamanya terlihat saat mendampingi Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan kepatuhannya dalam menerima keputusan Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah, meski banyak sahabat Nabi kala itu tidak menyepakati perjanjian tersebut karena dipandang berat sebelah.

 

Sifat kedua adalah tak menunda kebaikan yang akan dilakukan. Ini ditunjukkan Ketika Abu Bakar melihat kebaikan yang dicontohkan nabi tanpa ragu ragu dia langsung mengamalkan itu.

 

Sebelum masuk Islam nama Abu Bakar adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Nabi menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’).Nabi memberinya gelar yaitu Ash-Shiddiq (artinya ‘yang berkata benar’) setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi’raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya.

 

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

 

Bahkan pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggal dunia, Abu Bakar Ash-Shiddiq dianggap sebagai sahabat Nabi yang paling tabah menghadapi meninggalnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini.

 

Sifat ketiga yang bisa diambil pelajaran dari Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah totalitas. Ketika tekad sudah bulat, kita diminta untuk totalitas untuk beramal. Dari beberapa sifat Abu Bakar diatas, pantaslah jika kemudian beliau merupakan salah satu dari 10 sahabat nabi yang dijamin hadist untuk masuk surga.

 

Kalian juga bisa meneladani dan ikut membantu dakwah islam dengan ikut serta dalam campaign Yayasan BSMU pada 2022 yaitu Goceng Bikin Happy. Dengan 5 ribu rupiah kalian bisa memilih beberapa donasi untuk disalurkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.

 

 

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari