Facebook

Mengenal Lebih Dalam Sighat Sebagai Salah Satu Rukun Wakaf

Wakaf merupakan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam wakaf harus ada syarat dan rukunnya agar wakaf menjadi sah. Adapun rukun wakaf terdiri dari Wakif (orang yang mewakafkan), Mauquf (barang yang diwakafkan), Mauquf ‘Alaih (orang atau lembaga yang berhak menerima harta wakaf) dan Shigat (pernyataan wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan harta bendanya).

Kali ini akan dibahas mengenai shighat (ikrar) wakaf. Dalam pembahasan fiqih pembahasan sighat wakaf sangatlah luas. Agar lebih memahami sighat wakaf kita perlu mengetahui mengenai sighat mulai dari pengertian wakaf, syarat-syarat, status dan dasar shighot. Dirangkum dari buku Fiqih Wakaf yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji. Untuk memahaminya yuk kita bahas mengenai sighat wakaf.

Pengertian Sighat Wakaf

Sighat wakaf adalah segala ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang bertekad untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Namun dalam sighat wakaf cukup dengan ijab saja dari wakif tanpa memerlukan qabul dari mauquf ‘alaih. Qabul tidak menjadi syarat sahnya dan juga untuk syarat untuk berhaknya mauquf ‘alaih memperoleh manfaat harta wakaf, kecuali pada wakaf tidak tertentu. Ini menurut pendapat Sebagian madzhab.

Status Shighat

Status shighat (pernyataan) secara umum adalah salah satu rukun wakaf. Wakaf tidak sah tanpa shighat. Setiap shighat mengandung ijab tapi tidak menuntup kemungkinan mengandung qabul dari mauquf alaih.

Dasar Shighat

Dasar perlunya shighat (pernyataan) karena wakaf adalah melepaskan hak milik dan benda dan manfaat atau dari manfaat saja dan memilikkan kepada yang lain. Maksud tujuan melepaskan dan memilikkan adalah masalah hati. Karena tidak ada yang mengetahui isi hati seseorang. Ijab wakaf tersebut mengungkapkan dengan jelas keinginan wakif memberi wakaf. Ijab dapat berupa kata-kata.

Adapun pedoman susunan lafadz sighat:

  1. Menggunakan kata yang sharih (jelas) yang menunjukkan pemberian wakaf, yaitu kata “wakaf” saja seperti diatas (saya wakafkan…).
  2. Menyebutkan obyek wakaf seperti tanah, rumah dan lain-lain.
  3. Menyebutkan seperlunya keterangan yang jelas tentang keadaan obyek wakaf seperti luas tanah, keadaan bangunan dan alamat.
  4. Tidak perlu mencantumkan kalimat “Saya lepaskan dari milik saya”
  5. Memperhatikan syarat wakaf, seperti Ta’dib (memberi wakaf kepada), Tanjiz (wakaf diberikan kepada yang sudah ada bukan yang aka nada), Al Ilzam (mengikat) dan menjelaskan pihak yang diberi wakaf.

Sejak tahun 2019 Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat resmi menjadi nazhir wakaf. Adapun wakaf yang telah dikelola seperti rumah tahfidz, wakaf uang produktif dan wakaf Al-Qur’an. Bagi yang ingin berwakaf dapat menyalurkannya secara online melalui bsmu.or.id dan jadiberkah.id.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari