Facebook

Tips Menjaga Kesehatan Ibu dan Anak Pada Saat Bencana Alam

Negara kita Indonesia, akhir akhir ini sedang banyak mengalami bencana alam. Mulai dari banjir di beberapa daerah seperti Jawa dan Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat. Selain banjir, terjadi pula bencana Erupsi Gunung Semeru dan gunung berapi berada dalam level siaga 3 yang sudah menumpahkan laharnya.

Indonesia merupakan negara dengan letak yang berada di zona pertumbukan tiga lempeng, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo Australia dan lempeng Pasifik. Keadaan ini menyebabkan Indonesia memiliki deretan gunung api yang disebut ‘Ring of Fire’. Akibatnya Indonesia memiliki daerah yang subur karena memiliki tanah vulkanik akibat dari aktivitas gunung berapi.

Dalam kondisi bencana, yang paling terdampak adalah anak-anak karena tubuh mereka  belum mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Selain itu, anak-anak belum memiliki kemampuan untuk mengelola kebutuhan sendiri. Mereka masih membutuhkan bantuan orang dewasa dalam pemenuhan kebutuhannya.

Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, pada saat bencana terjadi memenuhi kebutuhan makanan merupakan hal yang sulit. Keterbatasan kondisi penampungan membuat ketersediaan makanan kurang memadai. Hal ini menyebabkan anak-anak mudah terkena penyakit dalam pengungsian.

Mengapa pemberian makan pada bayi dan anak saat bencana itu penting? Bayi dan anak adalah golongan kelompok umur yang paling rentan terdampak saat bencana. Dalam kondisi bencana, angka kematian bayi dan anak dapat meningkat 2 hingga 70 kali lipat dari biasanya (WVI IYCF-E Presentation, 2015).

Beberapa yang harus diperhatikan untuk pemberian makanan pada bayi dan anak di saat bencana, yaitu:

  1. Pemberian makanan yang sesuai untuk bayi dan anak

Makanan yang sesuai dengan kebutuhan usia menjadikan anak mendapatkan asupan gizi yang tepat. Sehingga potensi kekurangan gizi pada anak saat bencana dapat ditanggulangi.

  1. Promosi dan perlindungan untuk pemberian ASI

Saat bencana ada anggapan kalau ibu yang biasanya memberikan ASI menjadi sulit memberikan ASI akibat stress yang ditimbulkan oleh bencana. Nyatanya tidak semua ibu mengalami itu dan faktor stress hanya sedikit pengaruhnya terhadap proses produksi ASI. Yang paling besar pengaruhnya adalah hisapan si bayi. Artinya, semakin sering bayi disusui, semakin banyak juga produksi ASI ibu.

Dalam bencana, berbagai bantuan susu juga sering diberikan. Pihak-pihak yang mengkoordinasikan bantuan saat bencana harus ekstra hati-hati dalam mendistribusikan bantuan susu agar tak menyalahi aturan tentang distribusi susu formula.

Beberapa rujukan payung hukum seperti PP 33/2012 tentang pemberian ASI eksklusif dan Permenkes 39/2013 tentang susu formula ada baiknya diketahui oleh koordinator distribusi bantuan saat bencana.

  1. Proteksi anak yang tidak menyusui dari pemberian makanan buatan

Saat bencana sangat banyak bantuan serba instan yang masuk. Tanpa perlu berdebat panjang soal kandungan nutrisi dalam makanan instan serta baik atau buruknya, anak yang tidak menyusui (usia di atas 2 tahun, balita, anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, dan kategori lainnya) lebih baik tetap menerima asupan makanan yang diolah secara lokal dengan bahan makanan yang ada di wilayah setempat dengan memperhatikan kecukupan zat gizinya.

Untuk kecukupan zat gizi ini, penting sekali bagi relawan atau kordinator pemberian makanan di posko bencana menguasai tentang “Makanan 4 bintang” atau “Isi Piringku” yang rutin disosialisasikan oleh Kementerian Kesehatan.

  1. Kesehatan ibu (fisik, mental, dan kebutuhan nutrisi)

Saat bencana peran ibu sangat penting. Secara mental, ibu lebih dekat ke anak. Secara fisik, ibu lebih sering diandalkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehari-hari.

Kadangkala kesehatan ibu (fisik dan mental) serta kebutuhan nutrisinya sering diabaikan dan disamakan dengan kebutuhan orang dewasa lainnya. Pengelola distribusi makanan saat bencana harus bisa membedakan kebutuhan nutrisi ibu yang sedang menyusui, ibu hamil, ibu dengan balita, dengan orang dewasa lainnya untuk menjamin kecukupan nutrisi mereka.

Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) dalam penanggulangan bencana selalu memperhatikan pemberian asupan gizi sesuai dengan usia, sehingga dampak yang ditimbulkan dari bencana yang terjadi bisa diminimalisir. Dengan bekerja sama dengan pemangku kebijakan, para ahli, relawan dan masyarakat setempat diharapkan bantuan bisa sesuai dengan kebutuhan. Selain itu ketepatan sasaran menjadi salah satu aspek dalam pemberian bantuan.

Untuk mempermudah masyarakat dalam memberikan bantuan kepada yang sedang tertimpa musibah Laznas BSMU memiliki program 10 ribu untuk sejuta kebaikan. Cukup dengan sepuluh ribu dapat memberikan sejuta kebaikan. Donasi online dapat melalui jadiberkah.id dan bsmu.or.id/sejutakebaikan

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari