Facebook

Sejarah Wakaf di Masa Sebelum Kemerdekaan Indonesia

Sejak Islam datang ke Indonesia, perwakafan sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Peraturan perwakafan kala itu diatur oleh hukum islam belum masuk ke undang undang resmi. Pada saat itu, tata cara perwakafan tanah dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan fiqh yang terdapat dalam kitab-kitab kuning.

Seiring dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dengan terbentuk pemerintahan di bawah kekuasaan Hindia Belanda, setiap perbuatan perwakafan tanah harus diketahui oleh negara dalam hal ini Pemerintah.

Hal ini karena wakaf erat kaitannya dengan masalah sosial dan keberadaannya membantu dalam perkembangan peradaban masyarakat Islam.

Berdasarkan sejarah, banyak bukti peninggalan wakaf sejak periode Islam masuk Indonesia atau sebelum kemerdekaan. Adapun sejarah perkembangan perwakafan di Indonesia sebagai berikut:

Wakaf Pada Zaman Kesultanan

Banyak bukti-bukti ditemukan bahwa pada masa kesultanan telah dilakukan praktik wakaf, hal ini dapat dilihat pada peninggalan sejarah, baik berupa tanah dan bangunan masjid, bangunan madrasah, komplek makam, tanah lahan baik basah maupun kering yang ditemukan hampir di seluruh Indonesia terutama yang di zaman dulu kesultanan/Susuhan atau pernah diperintah oleh Bupati yang beragama Islam. Bukti itu antara lain tanah-tanah yang diantaranya berdiri masjid seperti:

1. Masjid Al Falah di Jambi berasal dari tanah Sultan Thah Saifudin;

Masjid wakaf di Indonesia yang satu ini berasal dari Jambi yang berdiri di atas tanah wakaf milik Sultan Thah Saifudin. Masjid Al-Falah dijuluki sebagai masjid seribu tiang dan menjadi ikon kebangaan masyarakat Jambi. Sejak pertama kali dibangun tahun 1971, masjid ini kental dengan nuansa kerajaan melayu. Proses pembangunannya pun memiliki waktu perjuangan yang tidak singkat, yakni 9 tahun.

2. Masjid Kauman di Cirebon wakaf dari Sunan Gunung Jati;

Dibangun pada tahun 1480 oleh Sunan Gunung Djati sebagai pemimpin, lalu Sunan Kalijaga dan Raden Sepat sebagai arsiteknya dan 200 orang pembantunya. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar seluas 400 meter persegi. Di bagian mihrab, terdapat bermacam-macam ukiran bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, ada tiga buah ubin khusus yang melambangkan 3 ajaran pokok, yakni iman, islam, dan ihsan.

3. Masjid di Demak wakaf dari Raden Patah;

Masjid Demak dibangun dengan bantuan walisongo saat mendirikan 4 tiang utama, yaitu Sunan Bonang di sebelah barat laut, lalu Sunan Gunung Jati di sebelah barat daya, Sunan Apel di sebelah tenggara, dan Sunan Kalijaga di sebelah timur laut. Masjid ini terkenal menjadi salah satu masjid wakaf tertua di Indonesia.

4. Masjid Menara di Kudus wakaf dari Sunan Muria;

Wakaf menara masjid yang satu ini berasal dari Sunan Kudus. Menara ini dijuluki sebagai Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar yang dibangun dari batu bata merah pada tahun 1549 masehi. Coraknya merupakan hasil akulturasi budaya Islam, Hindu, dan Buddha yang merupakan wujud toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

5. Masjid Jamik Bangkalan wakaf dari Sultan Abdul Qodirun;

Masjid Agung Bangkalan Pertama kali dibangun oleh Sultan Raden Maulana Abdul Kadir bergelar Pangeran Adipati Cakra Adiningrat II dan lebih dikenal dengan nama Sultan Kadirun. Pembangunannya dimulai dengan pemancangan pertama pada tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah Sholat Jum’at. Bangunan awal masjid ini berukuran 30 m x 30 m.

6. Masjid Agung Semarang wakaf dari Pangeran Pandanaran;

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan sebuah landmark masjid agung yang terletak di Kota Semarang. Masjid agung semarang ini berdiri di luas lahan sebesar 119 hektar , tanah yang ditempati ini merupakan pemberian (Tanah wakaf) dari Ki Ageng Pandanaran II. Beliau merupakan bupati semarang pada zaman dahulu. Ia merupakan sosok yang dermawan dan suka berbagi , ia mewakafkan ratusan hektar tanahnya untuk digunakan sebagai sarana produktif seperti masjid.

7. Masjid Ampel di Surabaya wakaf dari R. Rochmat Sunan Ampel;

Di dalam Masjid Sunan Ampel terdapat 16 tiang utama yang terbuat dari kayu jati asli. Empat tiang yang menjulang setinggi 17 meter tampil mencolok di tengah. Tiang berdiri tegak lurus tanpa sambungan dan menjadi penyangga pokok atap bersusun tiga di atasnya. Desain atap berupa tajuk tumpang tiga memang menjadi ciri umum masjid-masjid kuno di Jawa, yang melambangkan Islam, iman, dan ihsan.

8. Masjid Agung Kauman di Yogya wakaf dari Sultan Agung;

Masjid Gedhe Kauman, merupakan nama awal sebelum berubah menjadi Masjid Agung, Masjid Besar, dan sekarang Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertama kali dibangun pada tanggal 29 Mei 1773 atau 6 Robi’ul Akhir 1187 Hijriyah, masih erat kaitanya dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian yang menjadi awal mula berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

9. Masjid Agung Kauman di Solo wakaf dari Susuhunan Paku Buwono X;

Masjid Agung Surakarta adalah peninggalan Kerajaan Mataram. Masjid Agung Surakarta terletak dekat Keraton sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja, alun-alun sebagai pusat aktivitas masyarakat, dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Bangunan berbentuk tajug dengan atap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (kubah). Makna tajug bertumpang tiga tersebut adalah pokok-pokok tuntunan Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Masih banyak masjid yang didirikan dengan wakaf di nusantara, ini membuktikan peranan wakaf dalam membangun peradaban masyarakat.

Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat memiliki program 10 ribu untuk sejuta kebaikan, salah satu adalah wakaf masjid Bakauheni yang terletak di Sumatera Selatan. Hanya dengan sepuluh ribu rupiah sudah dapat ikut wakaf pembangunan masjid Bakauheni yang pahalanya akan terus mengalir selama masih digunakan.

Cara pembayaran wakaf dapat dilakukan dengan cara online melalui BSI Mobile, jadiberkah.id dan bsmu.or.id/sejutakebaikan.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari