Facebook

Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy Tokoh Inspiratif Zakat Wakaf Dari Aceh

Tahun 2019 ditetapkanlah 7 nama tokoh untuk mendapatkan penghargaan sebagai tokoh inspiratif Zakat Wakaf. Salah satu diantaranya adalah tokoh agama Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy. Beliau Bersama para tokoh yang lain menjadi simpul yang sangat penting untuk terus mendorong zakat dan wakaf bagi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Lalu, Siapakah Tengku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy?

Teungku Muhammad Hasby Ash-Shidieqy dilahirkan pada 10 Maret 1904 di Lhokseumawe, Aceh Utara, Indonesia. Ayahnya Bernama Al Hajj Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein Ibn Muhammad Ma’ud, seorang ulama terkenal yang memiliki sebuah dayah (pesantren). Ibunya Bernama Teungku Amrah, puteri Teungku Abdul Aziz pemangku jabatan Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Kesultanan Aceh Waktu itu.

Menurut silsilah, Hasbi Ash Shiddieqy merupakan keturunan Abu Bakar Ash Shiddieqy (khalifah pertama) generasi ke-37. Oleh karena itu, sebagai keturunan Abu Bakar Ash Shiddieqy, ia kemudian meletakkan gelar ash-shiddieqy dibelakang Namanya. Ketika berusia 6 tahun ibunya meninggal dan kemudian ia diasuh oleh bibinya Bernama Teungku Syamsiah.

Sejak kecil Teungku As Shiddiqie sudah gemar belajar, sejak usia 8 tahun beliau sudah mulai mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota yang lain. Pada tahun 1926, ia merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al Irsyad. Disini selama dua tahun ia mengambil takhasus (spesialisasi) dalam bidang Pendidikan dan Bahasa. Beliau juga pernah mendalami ilmu agama islam di Timur Tengah. Selain melalui jalur formal, beliau juga mendalami berbagai disiplin ilmu agama  secara otodidak.

Semasa hidupnya Hasbi ash shiddiqiey aktif dalam menulis, karya tulis yang telah dihasilkan sebanyak 73 judul. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh berjumlah 36 dan selebihnya buku hadist 8 judul, tafsir 6 judul dan tauhid 6 judul.

Pemikiran Teungku Hasbi Ash Shiddiqie

Sebagai ulama kontemporer memiliki pandangan tersendiri mengenai syariat islam. Beliau berpendapat, syariat Islam memiliki sifat dinamis dan elastis, sesuai perkembangan zaman dan konteks sosial budaya yang ada. Ruang lingkupnya mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik sesama manusia maupun dengan Tuhan.kemudian syariat islam yang bersumber dari wahyu Allah SWT tersebut dikaji dan dipahami umat islam melalui metode ijtihad untuk menyesuaikan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Hasil ijtihad ini kemudian melahirkan banyak kitab fiqh.

Akan tetapi, menurut as Shiddieqy, banyak kalangan umat islam, khususnya di Indonesia belum bisa membedakan antara syariat Islam yang langsung dari Allah SWT dan hukum-hukum fiqh hasil ijtihad para imam mazhab. Selama ini Sebagian umat Islam cenderung menganggap fiqh sebagai syariat yang absolut (pasti). Akibatnya, kitab-kitab fiqh imam mazhab tersebut dijadikan sebagai salah satu sumber syariat yang pokok dalam kehidupan sehari-hari. Padahal pendapat imam mazhab tersebut, masih perlu diteliti dan dikaji ulang dengan konteks kekinian, sebab hasil ijtihad  mereka tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi sosio-kultur lingkungan geografis mereka pada waktu itu.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari