Facebook

Karakteristik Kepemimpinan Menurut Rasulullah SAW

Sikap pemimpin dipengaruhi oleh kepribadian yang dimiliki. Dengan kepribadian yang baik biasanya memiliki jiwa kepemimpinan yang baik pula. Sesungguhnya setiap manusia diciptakan sebagai pemimpin sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW  bersabda:

Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Allah mengutus Rasulullah untuk menjadi suri tauladan termasuk dalam hal ini adalah kepemimpinan. Kepandaian beliau dalam hal kepemimpinan juga sangat diakui oleh orang diluar Islam. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Hal ini diakui oleh Michael Hart seorang penulis Barat dalam bukunya “The 100, a Rangking of The Most Influential Persons in History”. Dengan sangat obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah. 

Seorang pemimpin yang ideal harus memiliki kecerdasan manajerial yang tinggi dalam mengelola, mengatur, dan menempatkan anggota masyarakatnya dalam berbagai posisi sesuai kemampuannya, sehingga dapat mencapai tujuan utamanya.

Dilansir dari berbagai sumber, Nabi SAW selalu mengedepankan akhlak mulia dalam melaksanakan kepemimpinannya. Hal ini diakui oleh Husain bin Ali sebagai cucu Nabi SAW. Bahwa Nabi adalah pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Rasulullah memimpin dengan rasa empati. Beliau tidak pernah mencaci seseorang, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Rasulullah  selalu membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, dan berbagai sifat empati yang lainnya.

Rasulullah SAW selalu mengedepankan keteladanan (uswah hasanah) dalam memimpin, memberikan contoh dalam segala hal. Dalam kepemimpinan hal ini sangat diperlukan karena sudah menjadi tabiat manusia suka mencontoh orang lain. Bahkan dalam kisah menggali parit untuk perang khandaq, beliau juga turut serta dalam penggalian.

Nabi SAW adalah sosok pemimpin yang mengedepankan kebersamaan. Selalu mengusulkan ide win-win solution dalam penyelesaian masalah. Salah satu contohnya ketika terjadi keributan antar kepala suku saat ingin meletakkan hajar aswad di tempatnya. Nabi memberikan solusi dengan merentangkan sebuah kain besar, kemudian hajar aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu beliau meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut. Setelah itu, hajar aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Para pemimpin suku pun merasa puas dengan solusi yang diberikan.

Walaupun beliau memiliki sifat yang lemah lembut tetapi beliau juga bersikap tegas dan bijak dalam mengatasi berbagai permasalahan.

Dalam menetapkan hukum rasulullah tidak pilih kasih, atau tebang pilih. Tidak memihak kepada siapa pun, baik pada pejabat pemerintahan, sahabat, masyarakat kecil maupun anggota keluarganya sendiri, termasuk anaknya. 

Hal itu ditunjukkan dengan sikap tegasnya, “Demi Allah, andai Fatimah Putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Selain dikenal figur yang tegas, juga dikenal sebagai sosok yang bijak dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan suatu perkara, Nabi selalu memikirkannya secara matang, dan mengacu kepada kaidah yang ditetapkan dalam Alquran. Misalnya, pada saat beliau memutuskan sanksi rajam terhadap pelaku perzinahan.

Saat ini banyak yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin tanpa menyadari bahwa amanah pemimpin itu sangatlah berat karena merupakan salah satu yang dihisab pada hari kiamat. Kepemimpinan yang baik akan dapat menebarkan kemaslahatan yang banyak bahkan hingga tutup usia.

Dalam memimpin harta manusia juga dianjurkan berbuat baik dengan cara memberikan sebagian hartanya untuk sedekeh, infaq zakat maupun wakaf. Dalam program 10 ribu untuk sejuta kebaikan Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat membuka peluang untuk melipatgandakan rezeki yang disedekahkan. Hanya bermodal 10ribu tetapi mendapat sejuta kebaikan.


Berita Terkait

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
Akun
Donasi
Laporan
Cari