Hukum Berqurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, hal itu berarti kita akan bertemu dengan hari raya kedua umat islam yaitu Idul Adha, dimana disyariatkan untuk melakukan Qurban didalamnya. Tetapi masih banyak pertanyaan dari benak umat muslim, apakah boleh jika berqurban untuk orang yang sudah meninggal. Jumhur ulama berpendapat boleh berqurban untuk orang yang sudah tiada.

Menurut Buya Yahya, hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal adalah sah meskipun orang yang meninggal tidak berwasiat.

Dilansir dari islam.nu.or.id, hukum berqurban merupakan adalah Sunnah muakad. Tetapi khusus untuk Rasulullah saw hukumnya adalah wajib. Jadi jika dalam keluarga sudah ada satu orang yang menjalankannya maka gugurlah kesunahan yang lain, tetapi jika hanya satu orang maka hukumnya adalah Sunnah ‘ain. Kesunnahan berqurban ini ditujukan kepada muslim yang merdeka, baligh, berakal dan mampu.

Beberapa pendapat ulama mengenai hukum berqurban bagi orang yang sudah meninggal, yaitu:

Pendapat pertama, berasal dari mazhab Syafi’i. Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada ketentuan qurban bagi orang yang sudah meninggal, kecuali apabila ia berwasiat ingin berqurban. Jadi, qurban untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan, hanya jika shohibul qurban yang sudah tidak hidup itu pernah mewasatkan. Secara logis, orang yang sudah meninggal memang tidak bisa berqurban, maka lazimnya qurban ini dilakukan oleh keluarganya.

Sementara jika tanpa ada wasiat dari orang yang meninggal maka qurban itu tidak sah. Sebab tidak sahnya qurban untuk orang yang meninggal dijelaskan Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi, ulama dari mazhab syafi’I, dalam kitan Minhaj Ath-Thalibin. Penyebabnya adalah berqurban mensyaratkan adanya niat ibadah. Orang yang sudah meninggal tidak bisa lagi berniat ibadah untuk dirinya sendiri sehingga tidak sah berkurban untuk orang yang sudah meninggal, kecuali jika ia berwasiat atas hal tersebut.

“Tidak sah berqurban untuk orang lain [yang masih hidup] tanpa seizinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiay untuk diqurbani,” (hlm.321)

Pendapat kedua, datang dari para ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbalu yang menyatakan bahwa berqurban untuk orang yang sudah meninggal sah hukumnya karena dimaksudkan sebagai sedekah. Jika qurban untuk orang yang sudah mati dianggap sedekah, maka bersedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya hukumnya sah dan pahalanya bisa sampai kepada yang diqurbani.

Pendapat ini merujuk pada riwayat mengenai qurban yang dilaksanaka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu: “Bahwasanya Ali Radhiallahu Anhu pernah berqurban atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menyembelih dua ekor kaming kibasy. Dan beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallammenyuruhnya melakukan demikan,” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top