Peranan Laznas BSMU Dalam Ketahanan Pangan

Problematika ketahanan pangan meliputi beberapa aspek, mulai dari  produksi, distribusi serta konsumsi produk pangan. Kondisi saat ini menyebabkan harga bahan pangan menjadi tidak menentu. Permasalahan ini tentunya tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja tetapi juga masyarakat harus terlibat didalamnya salah satunya lembaga zakat.

Berdasarkan permasalahan tersebut, Laznas BSMU berupaya untuk berperan aktif didalamnya, yaitu bersama Bank Syariah Indonesia berkolaborasi dalam membuat desa binaan dengan berbagai produk unggulannya. Diantara desa binaan tersebut adalah Desa Rejoasri Lampung Tengah untuk kluster padi, Desa Kedarpan untuk kluster kambing/domba dan Trenggalek untuk kluster sapi.

Laznas BSMU juga membuat program untuk mengatasi masalah distribusi pangan kepada masyarakat, sehingga masyarakat yang tidak mampu dapat tercukupi pangannya, melalui:

  1. Program Warteg Mobile, dengan menggunakan konsep penyaluran makanan siap saji (siap konsumsi) untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam mencukupi kebutuhan pangan, dengan target sasaran pemetik manfaat seperti masyarakat di pemukiman padat/kumuh, komunitas disabilitas, komunitas pengemudi angkot/taksi/ojek, serta masyarakat yang terdampak bencana (kebakaran, kebanjiran , dll). Total penerima manfaat sejak tahun 2020 mencapai 144.284 jiwa.
  2. Program Ketahanan Pangan, merupakan bantuan sosial sebagai bentuk respon kepedulian terhadap kondisi bangsa khususnya pesantren, masyarakat sekitar masjid dan kelompok disabilitas yang saat ini menghadapi kesulitan akibat wabah virus corona. Program ini berbentuk charity berupa bahan pokok serta pengembangan usaha ekonomi bagi kemandirian pesantren. Adapun jumlah penerima bantuan program yaitu 30 pesantren dan 500 orang disabilitas dengan total penerima manfaat 16.000 jiwa.
  3. ATM Beras, program pemberian bantuan beras untuk mustahik yang dapat diambil melalui mesin ATM beras yang ditempatkan dilingkungan masjid. Telah ditempatkan ATM beras di 35 titik (masjid) dengan total penerima manfaat mencapai 14.000 jiwa.

Jumlah tersebut masih jauh dari kata cukup untuk dapat mengatasi masalah ketahanan pangan di Indonesia. Namun, merupakan langkah yang berarti untuk dapat membantu sesama yang membutuhkan. Semua program yang telah dilakukan menggunakan dana ZIS yang berasal dari muzakki. Dengan pengelolaan dana ZIS secara lembaga, kebermanfaatannya dapat dirasakan lebih besar.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top