Berikut ini sekilas profil awarder ISDP tahun 2021, melalui ISDP Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) lahirlah pengusaha-pengusaha milineal baru yang memiliki cita-cita yang sama yaitu memberikan kontribusi terbaik bagi perekonomian masyarakat disekitarnya dengan menciptakan lapangan kerja baru. Jatuh bangun telah mereka lewati hingga sampai ketitik saat ini.

SUGENG JAYA FARM

Koes Hendra Agus Setiawan, Benny Akbar Kurniawan

Fakultas Peternakan – IPB

ISDP Beasiswa ‘Paket Komplit’

Semula teman – teman di bangku kuliah meremehkan keputusan yang kami buat. Kali pertama membudidayakan ulat hongkong dilakukan pada September 2016 saat kami menginjak semester 5 di bangku kuliah dengan penuh perjuangan, hingga pada akhirnya tim yang dinamai Sugeng Jaya Farm ini bisa sampai menjadi badan usaha berbadan hukum yang bernama PT. Sugeng Jaya Grup pada April 2019. Saat itu saya, Benny Akbar Kurniawan beserta kedua sahabat saya yaitu Ongky Pratama dan Koes Hendra AS memutuskan untuk memulai dunia baru dengan memelihara ulat hongkong disebuah kandang tidak terpakai berukuran 3 x 4 meter persegi di dalam komplek kandang Fakultas Peternakan IPB. 

Jatuh bangun telah kami rasakan dalam membangun usaha, tetapi kami tetp bertahan dengan tekad terus mempertahankan apa yang sedang dirintis. Masa – masa sulit akhirnya berlalu, kami juga berinovasi dengan menciptakan beberapa produk inovasi lainnya yaitu ulat hongkong kering dalam kemasan yang saat ini berkambang dengan memproduksi aneka serangga kering dalam kemasan dan juga memproduksi konsentrat pakan untuk ruminansia. Berbagai perlombaan tentang kewirausahaan pun berhasil kami raih hingga Juara 1 Nasional.

Akhir tahun 2017 kami ikut program beasiswa ISDP (Islamic Sociopreneur Development Program). Beasiswa ini merupakan “paket komplit” karena fasilitasnya sangat menunjang para mahasiswa wirausaha. Paket mendapatkan subsidi SPP kuliah, uang pembinaan, pembinaan keislaman, pembinaan bisnis secara berkala, pendampingan bisnis hingga pemberian permodalan untuk scale up usaha yang telah berjalan maupun untuk yang akan baru memulainya. Kami mendapatkan banyak ilmu tentang usaha baik mengelola usaha, mengelola keuangan, mengelola SDM, ilmu marketing, hingga penerapan ekonomi dalam islam. Hal ini membuat orang tua saya di kampung halaman turut bangga.

Di akhir 2018 LAZ BSMU melalui program ISDP memberikan amanah kepada usaha kami dengan pemberian modal usaha yang alhamdulillah bisa membantu kami mendirikan badan usaha dan mendirikan sebuah bangunan untuk produksi di lahan aset perusahaan kita. ISDP adalah beasiswa yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa terutama mahasiswa enterpreneur sejati.

KIWAE

Latifriansyah Usman Ali

Fakultas Teknologi Pertanian – UGM

Ingin Memberikan Manfaat yang Lebih

Jogjakarta, kota wisata dan kota pelajar yang sudah familiar diketahui masyarakat Indonesia. Beragam pilihan tempat wisata, salah satu kedai makan yang menarik untuk disorot adalah ‘Kiwae’, sebuah kedai yang tidak hanya memiliki varian menu yang menggugah selera dengan harga yang terjangkau, tetapi juga misi sosialnya untuk mendukung lahirnya para UMKM (Usaha Mikro, Kecil & Menengah) di Jogjakarta.

Kedai Kiwae, didirikan oleh seorang mahasiswa UGM jurusan Teknologi Pertanian bernama Muhammad Latifriansyah Usman Ali. Ian, begitu panggilan akrabnya merintis kedai ini. Setelah mengalami jatuh bangun berkali-kali dalam bisnisnya, akhirnya Kedai Kiwae berdiri. Ian juga merupakan salah satu penerima beasiswa ISDP (Islamic Sociopreneur Development Program) dari lembaga sosial LAZNAS BSM Umat. Selama melalui hampir dua tahun mendapatkan pembinaan ISDP dan berkesempatan mendapatkan permodalan usaha sehingga dapat memperbesar Kedai Kiwae miliknya.

Dari awal berdiri pada November 2018, Kedai Kiwae memberikan pelatihan bisnis gratis bagi para UMKM di Jogjakarta. “Banyaknya beda-beda, biasanya minimal 3 kali sebulan hingga pernah 12 kali dalam sebulan” jelas Ian saat ditanyakan mengenai intensitas pelatihan yang diberikan. Hingga saat ini, ada sekitar 20 UMKM yang menjadi binaannya.

“Kedepan kami ingin lebih memberikan manfaat yang lebih, dan kami akan terus menambah aspek sociopreneur dalam usaha kami,” jelas Ian mengenai rencana pengembangan bisnisnya ke depan. Semoga Kiwae semakin maju dan semakin banyak para wirausaha yang mendukung UMKM lainnya.

PROFISH INOVASI INDONESIA

Fikrang

Ilmu Kelautan dan Perikanan, UNHAS 2015

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Nelayan dan Petambak Indonesia

Fikrang, asli Bugis Sulawesi Selatan. Dilahirkan dari seorang ibu yang sangat hebat dan penuh kasih sayang dan dididik dengan penuh ketegasan dari seorang ayah. Fikrang adalah salah satu mahasiswa Universitas Hasanuddin. Melihat potensi lingkungan yang cukup besar dalam hal perikanan tapi belum diolah dengan maksimal sehingga belum dapat mensejahterakan kehidupan nelayan maupun petambak.

Usahanya telah mengalami ujian ditinggal partner bisnis, pelanggan yang diakuisisi oleh competitor, diusir calon pelanggan, cash flow berantakan sampai pernah uang dibawa kabur. Timnya yang awalnya berjumlah 4 orang kini tinggal 2 orang saja. Pada akhir tahun 2018 dia diumumkan lulus sebagai penerima manfaat ISDP Laznas BSMU. “Bersyukur saat terpuruk saya mendapatkan masukan dari pembina dan para mentor yang berpengalaman dari tim ISDP” ujar Fikrang.

Pada tahun 2019 didirikanlah perusahaan yang bernama PT. Profish Inovasi Indonesia (PT.PII). Perusahaan yang bergerak dibidang perikanan terpadu dengan menggunakan teknologi terdepan dan berkelanjutan. Memiliki visi menjadi perusahaan perikanan terbesar pada tahun 2045. Kini Profish memiliki 3 produk utama, pertama fintech perikanan sebagai upaya membantu para nelayan, petambak dan pata pelaku usaha perikanan untuk dapat mengakses permodalan dengan system syariah dengan prinsip gotong royong.

Kedua, budidaya udang Vanamei intensif dan semi insentif dengan tambak milenial digital. Produk ini lahir sebagai penyesuaian melihat petambak-petambak yang ada di daerah masih tertinggal secara teknologi. Selain itu juga sebagai proyek percontohan bagi para petambak wabil khusus kab. Barru. Beberapa kelebihan tambak ini adalah kontruksi dapat dibongkar pasang, penerapan teknologi pada system keamanan tambah melalui pengenalan citra wajah dan pengukuran pompa air dengan sensor ultra sonic.

Ketiga, budidaya penampungan dan ekspor kepiting bakau dengan teknologi VCF. Produk ketiga lahir dari potensi kepiting yang melimpah dan belum dimaksimalkan sehingga diexploitasi oleh kabupaten lain. Hal ini menyebabkan kesejahteraan nelayan lokal tidak sesuai dengan sumberdaya alamnya. Awalnya harga jual kepiting berkisar Rp 15.000 – Rp 45.000 per kilo kini menjadi Rp 70.000 – Rp 140.000 per kilo. Sehingga mengalami kenaikan sebesar 2 s/d 3 kali lipat. Produk yang sudah tersedia bekerjasama dengan perusahaan di Makassar untuk di ekspor.

Setelah mendapatkan bimbingan dan pembinaan dari ISDP, kini usahanya  telah mendapat omset sebesar 9-45 juta rupiah perbulan dan mulai bangkit dari keterpurukan. Usahanya pun saat ini telah memiliki 6 karyawan tetap, 20 karyawan harian, 34 mitra nelayan dan 13 titik manfaat yang berfokus di kab. Barru.

   SHARE 
Facebook
Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top