Bulan: Januari 2019

ISLAM MAJU KARENA UMATNYA BERFIKIR

Nabi Muhammad SAW berdakwah untuk mengajak orang lain keluar dari kesesatan seperti yang dilakukan beliau di Mekkah kemudian Madinah.

Kinerja dakwah Nabi terus meningkat dari yang hanya diikuti oleh segelintir orang namun menjadi sangat masif. Jejak ini terus diikuti oleh para sahabat, tabi’in, ulama dan pengikutnya sehingga Islam menyebar luas di seantero jagat.

Yang menarik adalah kalau kita amati kondisi Indonesia dan Dunia khusus Eropa dan Amerika tentang populasi umat Islam.

Di Indonesia dengan populasi masyarakat yang didominasi muslim, hari ini faktanya sudah menurun populasinya hingga 80%an. Hanya dengan waktu satu dekade yang awalnya 85%. Bahkan pernah mencapai 90%an

Mungkin ini bagian dari yang kita tidak sadari bahwa umat lain melakukan “dakwah”nya baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, baik memaksa atau tidak memaksa, baik secara damai atau peperangan. Atau dengan cara memberi sembako dan lain-lain. Di satu sisi kita sedih dengan kondisi ini.

Namun sisi lain kita bahagia, kalau diamati pertumbuhan Islam Dunia khususnya Amerika dan Eropa cukup pesat. 

Beberapa penelitian menyebutkan seperti peneliti dari Pew Forum on Religion and Public Life memproyeksikan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk muslim dunia adalah 1,5 persen per tahun, sementara penduduk non muslim hanya tumbuh 0,7 persen per tahun.

Penelitian bertitel ”The Future of the Global Muslim Population” ini memproyeksikan bahwa jumlah penduduk muslim pada 2030 akan mengambil 26,4 persen total populasi dunia yang diperkirakan akan mencapai sekitar 8,3 miliar jiwa.

Luar biasanya peningkatan itu diprediksi akan berlipat ganda dibandingkan peningkatan umat non muslim.

Ada perbedaan signifikan tentang karakter dan kualitas manusia yang perpindah agama ini. Di Indonesia, perpindahan agama dari Muslim menjadi non Muslim banyak karena dorongan ekonomi lemah dan kualitas pendidikan umat yang rendah. Mereka tidak menggunakan akal sehat untuk berpindah agama. Pergerakan ini banyak dialami di negara berkembang atau kecil.

Sedangkan di Eropa dan Amerika, mereka yang berpindah agama dari Non Muslim ke Muslim didominasi dari kalangan ekonomi menengah ke atas dan kualitas pendidikan tinggi. Mereka berpindah karena menggunakan akal sehat mereka dengan sebuah perenungan dan kajian terhadap ayat-ayat Allah SWT. Pergerakan ini banyak dialami di negara-negara maju.

Dampak dari semua ini dapat dibayangkan ke masa depan Islam akan lebih maju, karena orang-orang yang kembali kepada fitrah Islam adalah orang yang menggunakan akal fikirannya dan orang-orang hebat bukan sebaliknya. Tumbuh di negara maju, turun di negara kecil.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (Al Baqarah: 219)

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS Al A’raf :176)

Dengan demikian Islam akan menjadi maju dan rahmatan lil Alamin. Tetap berdakwah bil hikmah dan diajak untuk menggunakan akal sehatnya melalu berfikir. Wallahua’lam

Manfaat Zakat untuk Umat

Membayar zakat adalah suatu kewajiban bagi umat Muslim.

Continue Reading

Ramadan, Sikap Dermawan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Sahabat Meningkat

Laznas BSM Umat – Hikmah yang terkandung dalam bulan Ramadhan adalah tentang sikap kedermawanan seseorang. Bulan yang penuh berkah ini, jika disusur dari kisah nabi, para sahabat dan orang-orang saleh setelahnya, banyak sikap kedermawanan yang bisa dijadikan contoh.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan misalnya, digambarkan dalam hadist-hadist shahih adalah figur yang berada di garda depan dalam aspek kedermawanan. Anas bin Malik memberi kesaksian, “Rasulullah adalah orang yang paling berani dan sangat dermawan.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam “Shahiih” Bukhari dan Muslim, digambarkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan di bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril di tiap malam. Dengan sangat puitis, kedermawan sang nabi digambarkan laksana angin yang berhembus.

Dalam catatan Ahmad bin Hanbal ada tambahan menarik, siapapun yang meminta sesuatu kepada beliau di bulan suci ini pasti diberi. Pada realita sehari-hari, memang selama beliau punya, tidak pernah menolak permintaan siapapun.

Begitu pentingnya nilai kedermawanan ini, tak lupa beliau tuangkan dalam pesan verbal, “Barangsiapa yang memberi makan (untuk berbuka) bagi orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi ganjaran puasanya sedikit pun.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bila dibahasakan dengan bahasa saat ini adalah berbagi takjil dan makanan berbuka. Para sahabatnya pun meneladani kedermawanan beliau di bulan Ramadhan. Salah satu contohnya adalah Abu Bakar Ash-Siddiq RA. Beliau ini adalah sahabat yang bisa masuk surga dari berbagai pintu. Bapak Aisyah Ra ini adalah sahabat yang terdepan dalam ladang amal kebaikan, terkhusus dalam hal kedermawanan.

Menurut catatan sejarah, beliau pernah menginfakkan seluruh hartanya untuk kepentingan perjuangan Islam. Ketika berpuasa, seperti riwayat Muslim, beliau mampu mengamalkan banyak amalan, di antaranya ziarah, memberi makan orang miskin, menjenguk orang sakit.

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam tafsirnya (1422: II/176) menyebutkan contoh kedermawanan sahabat lainnya. Figur agung seperti Abdullah bin Umar Ra tidak akan berbuka melainkan bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Artinya, setiap hari beliau menyiapkan makanan berbuka untuk anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Orang-orang setelah para sahabat juga mempraktikkan kedermawanan di bulan Ramadhan. Dalam sejarah digambarkan bahwa sosok agung sekaliber Imam Az-Zuhri ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau berujar, “Bulan Ramadhan adalah bulan untuk membaca Alquran dan berbagi makanan.” (Ibnu Rajab, 2004: 171). (dari berbagai sumber)

Scroll to top