Cara Laznas BSM Umat Bantu Muslim Rohingya

Laznas BSM Umat - Konflik sosial yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, mengusik sejumlah pihak termasuk Indonesia, untuk membantu menyelesaikan konflik yang disebut-sebut bagian dari pembersihan etnis Rohingya yang mendiami kawasan tersebut.

Melihat kondisi demikian, sejumlah lembaga sosial dan kemanusiaan kompak memberikan kontribusinya untuk membantu muslim Rohingya. Salah satunya adalah Laznas Bangun Sejahtera Mitra (BSM) Umat, dengan memberikan penyaluran dana program pendidikan, kesehatan, dan bantuan pangan.

Penyaluran bantuan ini, Laz BSM Umat bersinergi dengan Forum Zakat (FOZ) yang merupakan    bagian dari AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar). Pengiriman bantuan kemanusiaan dan relawan, dilakukan satu jalur koordinasi melalui AKIM.

Direktur Ekskutif Laz BSM Umat Rizqi Okto Priansyah mengatakan, sampai 27 September 2017, telah terkumpul dana sekira Rp208.242.470 yang berasal dari infak masyarakat, dana zakat, dan dari para pegawai Bank Syariah Mandiri (BSM).

"Bantuan ini menjadi kontribusi kita dalam meringankan beban dari saudara-saudara muslim Rohingya di Myanmar," kata Rizqi Okto dalam siaran pers, Jumat (29/9/2017).

"Tentunya dana ini akan terus mengalir dan kita berharap bisa memberi bantuan secara maksimal kepada warga Rohingya," imbuhnya.

Rizqi Okto mengungkapkan, segenap bangsa Indonesia ingin bahwa konflik yang terjadi di Myanmar bisa segera diselesaikan.

"Dalam penyelesaian konflik, kita tidak lagi berbicara tentang agama, asal usul, atau identitas, tapi ini soal kemanusiaan. Dimana nilai-nilai kemanusiaan itulah yang harusnya menjadi prioritas dalam menghindari konflik," tuturnya.

Data dari International Organization for Migration (IOM) menyebutkan, sekitar 1,1 juta etnis Rohingya telah mengalami diskriminasi selama bertahun-tahun di Myanmar. Mereka ditolak kewarganegaraannya meskipun memiliki telah lama ada di negara ini.

Lebih dari 800.000-an orang telah mengungsi ke sejumlah wilayah, seperti Bangladesh. Separuh dari mereka adalah anak-anak yang telah menempuh perjalanan yang sulit melintasi Sungai Naf sebelum tiba di kamp berlumpur, yang padat di sekitar Cox's Bazar di Bangladesh.

Konflik sosial di Rohingya telah membawa cerita tentang kematian, kepedihan, dan pemusnahan etnis, termasuk perkosaan dan pembunuhan anak-anak. Bahkan sekira 800 muslim Rohingya disebut-sebut meninggal akibat konflik ini.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina mengatakan, dunia internasional marah atas penderitaan etnis Rohingya yang terjadi di Myanmar. Dunia mendorong Dewan Keamanan PBB bulan ini untuk menyerukan diakhirinya kekerasan tersebut.

"Eksekusi (pembersihan etnis) Rohingya baru-baru ini telah meningkatkan jumlah pengungsi dari Rakhine yang tinggal di Bangladesh menjadi lebih dari 800.000," kata Sheikh Hasina  kepada Majelis Umum PBB, seperti dikutip dari Independent.

Sementara Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mendesak agar militer Myanmar mendapat tindakan tegas dari PBB sebagai respons atas praktik kekerasan yang terjadi di Rakhine.

Haley juga mengkritik keras pemerintahan sipil Myanmar, yang dipimpin Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian.

"Kita tidak perlu takut menyebut tindakan otoritas Burma yang tampaknya merupakan kampanye berkelanjutan dan brutal untuk membersihkan negara itu dari sebuah etnis minoritas," tegas Haley dalam pernyataannya.